DE
DR. H Irianto Lambrie (kiri) bersama delegasi Pemerintah RI di Forum Belt and Road Trade and Investment, Beijing, Kamis (12/4).

SAMARINDA.NIAGA.ASIA-Kebutuhan akan investasi asing tidak bisa dielakkan dalam menggerakkan ekonomi suatau negara dan daerah. Hal itu tercermin dalam Forum Belt and Road Trade and Investment yang diselenggarakan di Beijing dan dihadiri pelaku bisnis dari Republik Rakyat Tiongkok (RRT), Indonesia,  Asia Pasifik, Australia, dan Eropa, Kamis (12/4).

Hal itu dikatakan Gubernur Kalimantan Utara (Kaltara), DR. H Irianto Lambrie, salah satu anggota delegasi dari Pemerintah RI di forum tersebut. Dalam Forum itu  Ketua Delegasi Pemerintah RI, Menko Kemaritiman RI, Luhut Binsar Panjaitan juga menyampaikan pandangan Pemerintah RI. Anggota delegasi RI lainnya adalah  Kepala BKPM, Thomas Limbong, Deputi Menko Kemaritiman Bidang Infrastruktur, Deputi Menteri PPN/Kepala  Bappenas, dan mantan Dubes RI untuk RRT, Sugeng.

Menurut Irianto, dalam  Belt and Road Trade and Investment Forum tersebut dibahas  rencana dan realisasi investasi di Indonesia  yang digagas oleh Pemerintah RRT,  meliputi energi, industri, pariwisata, perdagangan, pengembangan teknologi ,dan peningkatan kerjasama ekonomi regional maupun global baik secara bilateral maupun multilateral.“Forum tersebut makin menyadarkan dunia global, bahwa RRT telah tampil sebagai salah satu “raksasa” ekonomi dunia, yang sangat berpengaruh terhadap perkembangan ekonomi dan politik global,” ujarnya.

Kemudian, perlu disadari oleh semua pihak, realisasi investasi berskala besar dan global, perlu proses waktu dan tahapan yang memenuhi persyaratan peraturan perundangan di masing-masing  negara dan juga sangat ditentukan oleh respon dan sikap pemerintah dan masyarakat setempat.

“Banyak rencana investasi berskala besar dan global gagal diwujudkan, karena respons dan sikap pemerintah dan masyarakat setempat sendiri, seperti lamban dalam pelayanan investasi, sikap malas, tidak berdisiplin, banyak berprasangka buruk dan penuh curiga, berpikir negatif, banyak provokasi, rendahnya etos kerja, tidak profesional,” kata Irianto.

Hal lain yang menghambat masuknya  investasi adalah  sikap cengeng dan mudah menyerah, pola pikir  sempit dan mengutamakan kepentingan sesaat, egois (hanya melihat kepentingan pribadi dan kelompoknya saja) bukan jangka panjang.

Dalam konteks Kaltara, lanjutnya, Kaltara memerlukan investasi dalam jumlah besar untuk menggerakkan ekonomi daerah dan meningkatkan kesejahteraan rakyat, sehingga sangat diperlukan masyarakat  berpikiran terbuka (open minded), bekerja keras dan bekerja cerdas, jika ingin memiliki daya saing yang tangguh.

“Kita tidak boleh  mudah menyerah,  lelah, putus asa, mudah cengeng, mengeluh, dan berpikiran sempit, jika kita ingin berjuang untuk kesejahteraan bersama dan untuk menyebarkan kebaikan. Jika perlu dgn semangat dan tindakan “berani mati”. Ayo bangun Kaltara!,” kata gubernur. (001)

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *