Aweng
Haji Aweng

SAMARINDA.NIAGA.ASIA-Direktur Utama PT Paula Jaya, H Wemi Saleh alias Haji Aweng menegaskan tidak benar dirinya ikut-ikut mengatur mutasi dua kepala bidang di Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kota Samarinda.

“Tidak benar, isu demikian merugikan saya maupun wali kota Samarinda. Tapi namanya bisik-bisik, gosip kan sulit dihentikan, bagaimana kita melarang orang bisik-bisik atau bicara dengan mulutnya masing. Saya hanya sabar dan tawakal,” kata Haji Aweng saat dikonfirmasi Niaga.asia atas rumor tersebut, Kamis (15/02).

Pada pelantikan pejabat baru di lingkungan Pemkot Samarinda 6 Desember lalu, Wali Kota Samarinda, H Syaharie Jaang melantik kembali Desy Damayanti sebagai Kepala Bidang Pengairan dan Haimi Taufani sebagai Kepala Bidang Bina Marga di Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kota Samarinda.

Penempatan kembali Desy dan pemilihan Tauvani sebagai kepala bidang tersebut menimbulkan bisik-bisik dikalangan PNS Pemkot Samarinda, khususnya di Dinas PUPR bahwa yang berperan adalah Haji Aweng, dengan argumentasi keduanya selama ini membawahi pekerjaan yang dikerjakan PT Paula Jaya, ditambah lagi Desy dijabatan yang sama sebelumnya tak menunjukkan kinerja yang menonjol.

Menurut Haji Aweng begitu Wemi Saleh akrab dipanggil sehari-hari, dirinya maupun banyak orang lain, pasti kenal dengan Syaharie Jaang, tapi tidak otomatis dengan kenal wali kota bisa ikut-ikutan dalam urusan mutasi pejabat. “Biar kenal dengan wali kota, tapi bertemu dengan wali kota, saya sangat jarang sekali,  paling sekali setahun,” ujarnya. “Urusan mutasi di pemerintahan dan siapa yang mau ditetapkan jadi kepala bidang kan hak prerogatif wali kota,” sambungnya.

Ditegaskan pula, perusahaannya memang ada mengerjakan proyek di DPUPR Samarinda, tapi bukan baru-baru ini saja, tapi sudah bertahun-tahun dan itu tidak ada hubungannya dengan Desy atau Tauvani. “Belum keduanya jadi pejabat, saya sudah mengerjakan proyek di DPUPR,” tambah Haji Aweng.

Kemudian untuk mendapatkan proyek, semua kontraktor mengikuti lelang terbuka secara online, lelang berlangsung tertutup tanpa ada komunikasi, apa lagi koordinasi.  “Orang banyak yang tidak tahu, perusahaan saya juga sering kalah  dalam lelang di Pemkot Samarinda,” ujarnya.

Dari itu Haji Aweng menyimpulkan, dikait-kaitkannya namanya dengan mutasi kedua pejabat tersebut tak lebih dari upaya oknum merusak reputasinya maupun wali kota, fitnah murahan. “Saya paham sekarang tahun politik, banyak isu aneh-aneh, tapi biarlah, yang penting tak ada kebenaran dalam isu tersebut, semuanya informasi hasil reka-rekaan orang saja,” kata Haji Aweng. (001)

 

 

 

Berita Terkait