Hampir Tiga Dekade di Tanah Kutai, Omset Mendoan Wati Khas Banyumas Tembus Rp2,5 Juta per Hari

Lapak ‘Mendoan Wati’ di deretan kanan nomor 4 VVIP Bazar Ramadan Tangga Arung Square. (Niaga.Asia/Lydia Apriliani)

TENGGARONG.NIAGA.ASIA – Hampir 30 tahun lamanya, Rahmawati, warga Tenggarong ini setia berdiri di balik wajan panas, menggoreng tempe berukuran besar 12 x 8 sentimeter yang menjadi ciri khas ‘Mendoan Wati’ asli Banyumas.

Sejak memulai usahanya pada tahun 1997, wanita berusia 56 tahun ini masih konsisten mempertahankan resep turun-temurun yang dipelajarinya dari keluarga suami. Dengan tempe khusus berukuran lebar, balutan tepung berbumbu rahasia dan teknik goreng setengah matang yang menghasilkan cita rasa gurih bertekstur lembut khas mendoan Banyumas.

Perjalanan usaha sampingannya ini ternyata bermula dari Rumah Makan Banjar Kutai milik orang tua angkat Rahmawati di Jalan Jenderal Sudirman, Kecamatan Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara. Setiap bulan Ramadan, rumah makan tersebut libur. Kesempatan itulah yang dimanfaatkannya untuk mulai menjual mendoan.

“Waktu itu saya masih umur 27 tahun. Karena rumah makan libur saat puasa, jadi saya jual mendoan,” kenangnya.

Resep mendoan ini ia pelajari dari keluarga suami yang memiliki hubungan dengan orang Banyumas, Jawa Tengah, daerah asal kuliner tersebut. Dari sanalah ia mengenal ciri khas mendoan dengan ukuran tempe yang lebih besar dari biasanya.

“Yang ngajarin saya itu ipar orang Banyumas. Tempenya memang besar-besar, kan itu khas Banyumas. Dan tempenya khusus, dibuat oleh saudara sendiri,” bebernya.

Rahmawati menggoreng lembar demi lembar mendoan jumbo 12×8 sentimeter. (Niaga.Asia/Lydia Apriliani)

Tempe yang digunakan diproduksi keluarga angkatnya di Loa Pari, yang memang sudah lama menjadi pengusaha tempe. Satu papan tempe dibaluti tepung dan langsung digoreng tanpa dipotong kecil-kecil, sehingga ukuran 12 x 8 sentimeter tetap terjaga sebagai identitas ‘Mendoan Wati’.

Rahmawati masih mengingat jelas harga jual satu biji mendoan besar milikinya pada tahun 1997 hanya sekitar Rp1.000. Kini, untuk satu lembar mendoan berukuran 12 x 8 sentimeter, ia membanderol harga Rp15.000.

“Orang bilang mendoannya mahal. Tapi lihat dulu bahan pokoknya, bumbu-bumbunya, sambalnya. Sekarang semua naik,” katanya.

Dalam sehari berjualan di Bazar Ramadan Tangga Arung Square, ia membawa sekitar 500 lembar tempe. Bahkan saat hari pertama pembukaan, ia sempat membawa 750 lembar.

“Kalau 500 biasanya habis. Dua hari ini habis semua. Hari pertama aja sisa 100,” ujarnya.

Dari penjualan mendoan saja, omzetnya bisa mencapai sekitar Rp2,5 juta per hari. Itu belum termasuk penjualan risol, tahu isi, pastel, risol mayo, dan aneka kue titipan yang turut meramaikan lapaknya, di deretan kanan nomor 4 VVIP dari pintu masuk Bazar Tangga Arung Square.

“Omzat Rp2,5 juta per hari, itu hanya untuk mendoan saja. Belum yang lain-lain. Kalau untuk risol, tahu isi, dan pastel itu harganya macam-macam. Ada yang Rp10.000 isi 4, ada juga Rp10.000 isi 3. Kalau kue-kue itu titipan,” jelasnya.

Mendoan Wati dibanderol Rp15.000 per lembarnya. (Niaga.Asia/Lydia Apriliani)

Selain berjualan langsung di lapak, Rahmawati juga menerima pesanan untuk berbagai acara, mulai dari konsumsi arisan, hajatan, hingga katering pernikahan. Pemesanan pun bisa dilakukan melalui nomor 089630398821 atau Instagram @mendoanwati_tenggarong.

Pada masa awal berjualan, ia memang hanya membuka lapak saat Ramadan. Karena itulah, pelanggannya kerap menyebut dagangannya sebagai ‘Mendoan Kangenan’, karena hanya muncul setahun sekali dan selalu dirindukan.

Seiring waktu, tradisi itu mulai berubah. Kini, usaha ‘Mendoan Wati’ perlahan diteruskan anak sulungnya, Putri. Di luar bulan puasa, sang anak membuka lapak di kawasan SOE, Simpang Odah Etam setiap malam Minggu. Langkah ini dilakukan agar pelanggan tak lagi harus menunggu Ramadan untuk menikmati mendoan khas Banyumas tersebut.

“Dulu memang cuma ada pas Ramadan biar orang kangen. Sekarang kita jualan setiap Minggu,” tuturnya sambil tersenyum.

Rahmawati sendiri telah dikaruniai 6 orang anak dan 8 cucu. Meski usia tak lagi muda, ia tetap turun langsung menggoreng, menata dagangan, sekaligus melayani pembeli yang datang silih berganti.

Baginya, berdiri di balik wajan panas bukan sekadar mencari penghasilan tambahan saja, tetapi juga menjaga warisan rasa yang sudah ia tekuni hampir tiga dekade. Dari tangan ke tangan, dari generasi ke generasi, harapannya resep mendoan ini terus dipertahankan tanpa banyak perubahan.

Beragam kue, tempe, dan jajanan titipan turut meramaikan lapak Mendoan Wati, menambah pilihan bagi pembeli yang datang berburu takjil. (Niaga.Asia/Lydia Apriliani)

Di tengah ramainya Bazar Ramadan Tangga Arung Square, ia juga turut menaruh harapan kepada pemerintah agar pelaku UMKM di Tenggarong semakin diperhatikan, terutama terkait biaya sewa lapak dan fasilitas pendukung.

“Namanya UMKM ya, harapannya diperhatikan lah. Kalau diarahkan jualan di satu tempat, semoga ada keringanan atau subsidi. Karena kalau tahun lalu, Pasar Ramadan sebelumnya kan di Masjid Agung, itu biaya sewa hanya Rp750 ribu (tenda+meja). Sekarang Rp1,6 juta hanya tenda saja, belum lain-lain,” tutupnya.

Penulis: Lydia Apriliani | Editor: Intoniswan

Tag: