
TENGGARONG.NIAGA.ASIA – Lonjakan harga ayam yang tak biasa baru-baru ini terjadi di kawasan Tangga Arung Square, Tenggarong, tepat satu hari setelah Idulfitri. Harga yang umumnya berkisar Rp40 ribu – Rp50 ribu per kilogram, tiba-tiba melonjak hingga Rp95 ribu, diduga dipicu minimnya pedagang ayam yang berjualan saat Lebaran.
Kondisi tersebut dirasakan langsung oleh Ida, salah seorang penjual nasi kuning yang setiap hari bergantung pada pasokan ayam sebagai bahan utama dagangannya. Ia pun mengaku sempat kebingungan menghadapi kenaikan harga yang sangat drastis tersebut.
“Biasanya paling mahal Rp45 ribu, Rp50 ribu. Ini sampai Rp95 ribu, saya juga bingung mau jualan bagaimana. Kalau dijual mahal, kasihan juga pelanggan,” ujarnya saat membeli ayam di sekitar Tangga Arung Square, Rabu sore (25/3/2026).
Menurut Ida, lonjakan harga itu terjadi pada Minggu (22/3/2026), sehari setelah Lebaran. Saat itu, hanya dua pedagang ayam saja yang membuka lapak di kawasan ini, sementara para pedagang lainnya masih libur.
“Di situ cuma dua orang yang jual, kakak beradik. Yang lain masih tutup semua. Jadi mereka yang tentukan harga, sampai Rp95 ribu,” katanya.
Namun harga tinggi tersebut tidak direspons pasar. Ida menyebut, banyak masyarakat di Tenggarong yang enggan membeli ayam dengan harga semahal itu, bahkan untuk konsumsi pribadi.
“Banyak yang tidak beli, mahal betul. Untuk makan sendiri saja orang mikir, apalagi untuk jualan,” jelasnya.
Situasi itu pun tidak berlangsung lama. Masih di hari yang sama, Minggu (22/3/2026), harga ayam berangsur turun karena sepinya pembeli.
“Pagi itu mahal, siangnya turun jadi sekitar Rp60 ribu karena tidak laku,” bebernya.
Meski harga mulai turun, kondisi ini pun tetap berdampak pada pedagang kecil seperti Ida. Ia terpaksa membeli ayam di harga Rp60 ribu demi tetap bisa berjualan, meski keuntungan yang didapat jauh lebih tipis.
“Saya dua kali dapat Rp60 ribu, tetap saya beli. Yang penting bisa jualan walaupun untung sedikit,” tuturnya.
Kenaikan harga bahan baku juga memaksa Ida menyesuaikan harga jual. Nasi kuning yang sebelumnya dijual Rp10 ribu, kini naik menjadi Rp12 ribu per porsi. Beruntungnya, pelanggan masih bisa memahami kondisi tersebut.
“Pas saya bilang naik Rp2.000, mereka bilang tidak apa-apa, memang semua lagi mahal. Cabe saja sampai Rp200 ribu per kilo,” terangnya.
Sebelum Lebaran, harga ayam justru sempat turun hingga Rp28 ribu per kilogram. Namun memasuki hari raya dan setelahnya, harga mulai merangkak naik seiring terbatasnya pasokan dan aktivitas pasar yang belum normal.
“Alhamdulillah sekarang sudah Rp45 ribu,” pungkasnya.
Penulis: Lydia Apriliani | Editor: Intoniswan
Tag: ayam