Harga Rumput Laut Nunukan Beranjak Naik, Rp 14.000/Kilogram

Pekerja rumput laut di kampung nelayan Mamolo Nunukan. (foto Budi Anshori/Niaga.Asia)

NUNUKAN.NIAGA.ASIA-Harga pasaran rumput laut Nunukan yang sudah kering mulai beranjak naik, kini harga terendah dikisaran Rp.14.000/kilogram. Kenaikan harga itu membantu para pembudidaya memenuhi kebutuhan hidup di masa pandemi Covid-19.

Meski harga belum dapat dikatakan normal, ratusan petani rumput laut di perkampungan pesisir pantai Mamolo, Kecamatan Nunukan Selatan, mulai kembali terjun ke laut membentangkan tali-tali rumput laut.

Ketua Koperasi Serba Usaha Mamolo Sejahtera, Kamaruddin mengatakan rumput laut kering sempat anjlok di harga Rp. 10.000/kilogram pasca pandemi Covid-19 melanda dunia dan kebijakan lockdown di negara-negara pembeli.

“Kita sempat mengalami fase sulit di awal tahun 2020 saat pandemi melanda, harga jual anjlok hampir mencapai titik terendah, hanya balik modal usaha,” katanya pada Niaga.Asia, Jum’at (20/08).

Hancurnya harga rumput laut sempat membuat sebagian petani gantung tali, karena penghasilan hampir imbang dengan modal usaha. Dilain sisi, kebutuhan hidup keluarga tetap harus dipenuhi.

Berkat kegigihan dan kesabaran, para petani kembali menemukan harga baik meski tidak seperti dulu dikisaran harga Rp. 16.000/kilogram. Setidaknya, harga jual masih lebih dari modal dikeluarkan.

“Harga ini berpengaruh terhadap usaha kami, cuma baiknya barang ini tetap dibutuhkan dan rumput laut Nunukan, cukup terkenal di daerah luar,” ucapnya.

Selain harga belum maksimal, kata Kamaruddin, persoalan kesuburan rumput laut menjadi masalah klasik yang dialami petani. Hal ini disebabkan bibit rumput digunakan sudah terlalu lama, sehingga mengurangi perkembangbiakannya.

Keluhan bibit yang kurang subur telah lama disampaikan ke Pemerintah Nunukan, koperasi dan asosiasi petani rumput laut pernah meminta agar petani diberikan bibit baru yang disiapkan oleh instansi terkait.

“Memang secara kualitas tidak masalah, tapi secara hasil sangat kurang, biasa satu bentangan tali hasilnya 10 kilogram, sekarang paling dapat 7 kilogram,” tutur Kamaruddin lagi.

Terlepas dari bibit, ketegasan dari pemerintah dalam pengawasan kadar kekeringan rumput kurang maksimal, petani – petani semaunya menjual rumput laut tanpa memperhatikan kekeringan yang wajar.

Kadar kekeringan rumput laut Nunukan di kisaran 43 kebawah sampai 45, sangat jauh berbeda dengan kualitas di Sulawesi dengan kadar 37, perbedaan kadar yang jauh inilah menyebabkan harga jual rumput Nunukan rendah.

“Rumput laut Sulawesi dikisaran harga 18. 000/kilogram. Nunukan bisa harga begitu selama petani sepakat memperbaiki kadar kekeringan,” ujar dia.

Dikatakan Kamaruddin, hasil panen rumput laut Nunukan perbulan mencapai 3.500 kilogram, lebih kurang 80 persen dipasarkan ke wilayah Sulawesi Selatan. Hanya sebagian kecil untuk  memenuhi kebutuhan usaha di Nunukan.

Dimasa pandemi Covid-19, perdagangan ekspor rumput laut Nunukan jauh berkurang. Tidak seperti tahun 2019 yang sempat beberapa kali diekspor ke Korea Selatan dan China.

“Ada yang diekspor, tapi lebih banyak dijual dalam negeri, itupun harganya belum terlalu tinggi,” pungkasnya.

 Penulis : Budi Anshori | Editor : Rachmat Rolau

Tag: