aa
Foto: [ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay]
JAKARTA.NIAGA.ASIA-Bank Indonesia (BI) mengumumkan, pagi ini, Jumat (26/6/2020) perdagangan Rupiah dibuka pada level  Rp14.110 per dolar AS  dan  Yield SBN 10 tahun naik di 7,18%. Pada akhir hari Kamis, (25/6) Rupiah ditutup pada level Rp14.000 per dolar AS, Yield SBN (Surat Berharga Negara) 10 tahun stabil pada level 7,15%,  DXY[1] melemah ke level 97,43, dan  Yield UST (US Treasury) Note[2] 10 tahun turun ke level 0,686%.

“Pengumuman ini disampaikan BI setelah mencermati kondisi perekonomian Indonesia khususnya sebagai dampak penyebaran COVID-19,” kata Onny Widjanarko, Direktur Eksekutif  Komunikasi Bank Indonesia.

Selain menyampaikan perkembangan indikator stabilitas nilai Rupiah secara periodik, BI juga merilis  perkembangan sejumlah hal dan inflasi seminggu terakhir. Untuk  Aliran Modal Asing (Minggu IV Juni 2020), kata BI, Premi CDS (Credit Default Swaps)[3] Indonesia 5 tahun naik ke 131,66 bps per 25 Juni 2020 dari 121,57 bps per 19 Juni 2020.

“Berdasarkan data transaksi 22-25 Juni 2020, nonresiden di pasar keuangan domestik beli neto Rp3,40 triliun, dengan beli neto di pasar SBN sebesar Rp4,92 triliun, dan jual neto di pasar saham sebesar Rp1,52 triliun,” kata Onny, seraya menambahkan, berdasarkan data setelmen selama 2020 (ytd), nonresiden di pasar keuangan domestik jual neto Rp141,72 triliun.

Kemudian, berdasarkan Survei Pemantauan Harga pada minggu IV Juni 2020, menurut BI,  inflasi Juni 2020 diperkirakan sebesar -0,01% (mtm), lebih rendah dari bulan sebelumnya. Dengan perkembangan tersebut, perkiraan inflasi Juni 2020  secara tahun kalender sebesar 0,90% (ytd), dan secara tahunan sebesar 1,76% (yoy).

Penyumbang utama deflasi pada periode laporan antara lain berasal dari berasal dari komoditas bawang putih sebesar -0,04% (mtm), cabai merah, jeruk dan tarif angkutan udara masing-masing sebesar -0,03% (mtm), cabai rawit, gula pasir dan emas perhiasan masing-masing sebesar -0,02% (mtm), serta minyak goreng sebesar -0,01% (mtm).

“Sementara itu, komoditas utama yang menyumbang inflasi yaitu daging ayam ras sebesar 0,13% (mtm), telur ayam ras sebesar 0,05% (mtm), dan tomat sebesar 0,01% (mtm),” ungkap Onny.

Menurut Onny, BI akan terus memperkuat koordinasi dengan Pemerintah dan otoritas terkait untuk memonitor secara cermat dinamika penyebaran COVID-19 dan dampaknya terhadap perekonomian Indonesia dari waktu ke waktu, serta langkah-langkah koordinasi kebijakan lanjutan yang perlu ditempuh untuk menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan, serta menopang pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap baik dan berdaya tahan. (001)

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *