Anggota DPRD Nunukan Hj Nikmah. (foto Budi Anshori/Niaga.Asia)

NUNUKAN.NIAGA.ASIA-Anggota DPRD Nunukan, Hj Nikmah minta Dinas Perdagangan untuk menata pasar milik Pemkab Nunukan lebih rapi dan menertibkan pedagang kali lima (PKL) yang berjualan di lokasi-lokasi yang sebetulnya bukan untuk berdagang.

“Banyak pasar liar, tidak teratur, ada lagi pedagang sayuran di jalan masuk pasar malam Inhutani Nunukan, padahal ada khusus pasar sayuran,” ucap Anggota DPRD Nunukan, Hj. Nikmah, Selasa (17/07).

Untuk itu, kata dia, DRPD Nunukan meminta Dinas Perdagangan Nunukan menata rapi pasar-pasar dan menempatkan pedagang pada tempatnya. Jangan membiarkan pedagang membuka lapak disembarang tempat dan tepi jalan-jalan masuk.

Sebagai contoh, pasar Mamolo di Kecamatan Nunukan Selatan yang setiap pagi Minggu ramai pengunjung harusnya ditata dengan baik, pasar ini adalah kebanggaan karena sebagian besar pedagang menjajakan kuliner tradisional yang potensinya sangat bagus.

“Pasar Mamolo ini juga kurang tertata rapi, padahal pasar ini memiliki potensi besar untuk pariwisata, malah kemarin ada pengujung (pembeli) disana keracunan kerang/tudai,” beber Nikmah.

Nikmah menyebutkan, pemerintah daerah tidak perlu banyak berteori, sebab fakta dilapangan tidak sesuai kenyataan, banyak pasar tidak dikelola dengan baik dan tertata, padahal pemerintah bisa turun tangan menatanya.

Pemerintah juga harus mampu menghidupkan minat pembeli dan pedagang bertransaksi di  di pasar. Beberapa pasar milik pemerintah terlihat lesu yang pada akhirnya jumlah  perputaran uang  sangat kecil di pasar-pasar rakyat.

“Lihat pasar malam di Inhutani Nunukan, pedagang mengeluh lesu kurang pembeli. Entah apakah kurang penataan atau barang dijual tidak diminati,” ujarnya.

Terkait PKL di alun-alun kota, Politisi Partai Hanura ini meminta Dinas Perdagangan mencarikan tempat berjualan baru atau digabungkan ke pasar pujasera yang dibuat khusus untuk pedagang makanan, sehingga keindahan dan kenyaman warga yang ingin rekreasi ke alun-alun kota terjaga.

“Pemerintah Nunukan harus tegas  dalam menata dan menempatkan PKL, agar semua merasa nyaman, dan pedagang tetap dapat menjalankan usahanya, apa lagi sudah ada gedung bagus untuk berjualan di pujasera,” kata Nikmah lagi.

Anggota dewan asal Pulau Sebatik ini juga mempertanyakan bangunan gedung UMKM di jalan Liem Hie Djung Nunukan yang selalu tertutup, tidak ada kegiatan perdagangan produk-produk lokal, sedangkan Nunukan cukup dikenal memiliki produk kerajinan unggulan.

Beberapa pelaku UMKM Nunukan lanjut dia, sukses memproduksi kerajiann tangan maupun kuliner, produk khas lokal ini harusnya bisa dipasarkan secara luas baik lewat di gedung UMKM ataupun sosial media dan lainnya.

“Ada gedungnya besar UMKM di Nunukan, tapi tiap hari tertutup saja, tidak ada pengunjung dan pedagang disana. Tolong dinas terkait perhatikan ini,” ungkapnya. (advetorial)

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *