IDI
Dokter spesialis saraf IDI Nunukan sedang memeriksa pasien di Kecamatan Lumbis Ogong.

NUNUKAN.NIAGA.ASIA-Peduli akan kesehatan warga perbatasan, sejumlah dokter spesilias yang tergabung dalam Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kabupaten Nunukan, menggelar bakti sosial pengobatan gratis di beberapa wilayah perbatasan salah satunya Kecamatan Lumbis Ogong, Sabtu (14/4/2018).

“Ini program rutin dari IDI yang diberikan khusus kepada warga di wilayah perbatasan Indonesia-Malaysia. Setiap tiga bulan kita melakukan pemeriksaan dan pengobatan gratis,” kata Ketua IDI Kabupaten Nunukan Budi Azis, Senin (16/4/2018).

Program bakti sosial digelar tiap 3 bulan sekali dan pertama kali dilakukan di Kecamatan Nunukan, Kecamatan Sebatik,  dilanjutkan minggu lalu di Kecamatan Lumbis Ogong. Program kembali akan digelar bulan Juli untuk Kecamatan Sei Menggaris.

Khusus untuk Kecamatan Lumbis Ogong, Kami memboyong 5 dokter speliasi yang merupakan putra asli Kabupaten Nunukan, rata-rata mereka telah berpengalaman dalam menangani penyakit baik di rumah sakit ataupun praktek pribadi.“Kami bawa dokter spesilis penyakit dalam, dokter saraf, dokter THT, dokter anak, dan dokter bedah. Mereka semua suka rela mengabdi ke masyarakat perbatasan,” ungkap Budi.

Pengobatan gratis di Lumbis Ogong mendapat atensi yang sangat besar dari masyarakat. Pasalnya, dalam satu hari kegiatan, lebih 30 orang mendaftar dengan rata-rata jenis penyakit gangguan pada tulang punggung dan ganguan saraf.

Menurut Budi, keterisoliran wilayah Lumbis Ogong membuat masyarakat sedikit pasrah dengan penyakit yang mereka derita, belum soal biaya yang sangat mahal jika ingin berobat ke rumah sakit terdekat di Kabupaten Malinau atau Hospital di Malaysia. “Warga disana berobatnya ke rumah sakit di Malinau, kalau ke rumah sakit Nunukan sangat jauh butuh biaya lebih Rp 8 juta pulang pergi,” bebernya.

Budi mengatakan, dari puluhan pasen baksi sosial IDI, beberapa orang dengan tingkat penyakit cukup kronis disarankan kembali menjalani pemeriksaan intensip rumah sakit Nunukan agar penanganan kesehatan bisa lebih baik lagi.

Kemudian, bagi pasien yang membutuhkan tindakan operasi bedah kecil, dokter IDI akan meminjam ruangan UGD puskesmas terdekat, pasen bedah kecil diberikan pelayanan dokter spesialis yang telah berpengalaman dibidangnya. “Kalau operasi kecil bisalah kita tangani langsung disana, beda kalau pasennya operasi besar harus di rumah sakit dengan alat lengkap,” kata Budi.

Pola makan dan kondisi alam yang sangat berat sering kali membawa pengaruh terhadap kesehatan masyarakat di wilayah perbatasan, belum lagi persoalan keterbatasan sarana dan prasarana termasuk tenaga kesehatan di puskesmas.

Masuknya pengobatan IDI ke wilayah perbatasan Indonesia muncul setelah para anggota sepakat memberikan layanan gratis ke masyarakat, kegiatan ini juga sebagai kepedulian dokter terhadap minimnya pelayanan kesehatan di wilayah terpencil. “Di wilayah terpencil dan pedesaan belum ada dokter spesialis, kalau sakit paling ke puskesmas dan waktu pelayanan juga terbatas,” sebutnyA.(002)

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *