Indonesia Ajak Dunia Bersatu Pulihkan Rantai Pasok Pangan Global

Menlu Retno Marsudi. (Foto: BPMI Setpres/Lukas)

JAKARTA.NIAGA.ASIA – Pemerintah Indonesia melalui Menlu RI Retno Marsudi mengajak dunia pulihkan rantai pasok pangan dan pupuk global setelah terdampak  perang.

“Bila kita gagal mengatasi krisis pupuk, maka akan terjadi krisis beras yang menyangkut nasib lebih dari 2 miliar penduduk dunia,” kata Retno dalam Konferensi Ministerial Conference on Uniting for Global Food Security yang diselenggarakan oleh Jerman selaku Presiden G7 di Berlin secara hybrid, Jumat (24/06/2022), yang juga dihadiri Menlu Jerman, Menlu Prancis, Menlu AS, dan Menlu Senegal.

Pada konferensi yang dihadiri oleh lebih dari 25 negara tersebut, Menlu Retno menegaskan bahwa perang selalu menjadi tragedi kemanusiaan dan dampaknya tidak terbatas pada satu wilayah saja. Perang yang saat ini terjadi telah menghancurkan sistem pangan global yang sebelumnya sudah dilemahkan oleh pandemi dan perubahan iklim.

“Di waktu yang sulit ini, dunia tidak punya pilihan lain selain bersatu untuk memulihkan ketahanan pangan global” tegas Menlu Retno.

Dalam kaitan ini, Menlu Retno menyampaikan dua hal yang penting dilakukan dalam jangka pendek. Pertama, seraya tetap menegakkan hukum internasional, kita tidak boleh menyerah untuk menemukan solusi damai di Ukraina.

“Perang ini harus segera dihentikan, dan seluruh pihak harus berkontribusi pada tujuan ini”, pungkas Retno.

Solusi efektif terhadap krisis pangan ini menuntut dilakukannya reintegrasi produksi pangan Ukraina dan produksi pangan dan pupuk Rusia pada pasar dunia, terlepas dari perang.

“Perlu diamankan sebuah grain corridor dari Ukraina, dan dibukanya ekspor pangan dan pupuk dari Rusia. Seluruh negara harus menahan diri dari tindakan yang semakin memperburuk krisis pangan ini” jelas Menlu Retno.

Lebih lanjut Menlu Retno menjelaskan bahwa dunia perlu berkolaborasi melakukan 3 hal, yaitu:

  • Mendorong investasi yang dapat meningkatkan produktivitas pertanian;
  • Mendiversifikasi produksi dan impor pangan; dan
  • Mendorong perdagangan produk pertanian yang non-diskriminatif.

Di akhir pernyataannya, Menlu Retno menyatakan pentingnya berpacu dengan waktu dan dunia harus bertindak sekarang juga.

Ministerial Conference on Uniting for Global Food Security merupakan pertemuan yang diinisiasi Jerman sebagai pemegang Presidensi G7 tahun 2022. Pertemuan ini dihadiri oleh Menteri Luar Negeri, Menteri Pertanian, dan Menteri Pembangunan dari berbagai negara G7, negara anggota Champions of Global Crisis and Response Groupdan sejumlah negara donor, serta perwakilan Organisasi Internasional.

​​​Sumber: Kemlu RI​  | Editor: Intoniswan

 

Tag: