OPINI

Oleh: Yustinus Sapto Hardjanto

KEMARIN sore, hari ke 35 setelah untuk pertama kali presiden Jokowi mengumumkan adanya penderita Covid 19, jumlah yang teridentifikasi positif sebanyak 1.984.  Pertumbuhan jumlah penderita pada beberapa hari terakhir stabil di angka 100-an. Atau secara nasional dalam prosentase harian dibawah 10%. Dibanding dengan negara-negara lain pertumbuhan penderita baru cenderung lambat dan konstan.

Kenapa?

Apakah karena keberhasilan pencegahan atau karena gejala tidak terlalu terlihat, mereka yang terkena tidak mengalami keluhan berat sehingga tidak pergi ke rumah sakit, atau karena apa?

Dua kali test cepat pada dua kelompok ternyata menemukan ratusan orang yang positif versi alat yang dipakai. Lepas dari akurasinya, jumlah yang diketemukan positif ternyata sangat besar.

Berkaca dari pengalaman itu jangan-jangan kalau dilakukan test massal segera akan diperoleh jumlah orang yang positif Covid 19 amat besar, berkali-kali dari angka yang diberitakan secara resmi.

Adalah kebiasaan orang Indonesia jika keluhan sakitnya tidak sampai menyiksa, maka tak akan pergi ke dokter. Jika gejalanya hanya seperti dulu biasa, tidak membuat sesak nafas orang biasa akan meminum obat bebas, obat yang dijual hingga ke warung-warung.

Dan benar dari antara daftar negara-negara yang telah diserang Covid 19, Indonesia berada di angka buncit soal test Covid 19. Indonesia berada di atas Bangladesh yang merupakan urutan terbawah. Tercatat hanya 2 per 100.000 penduduk.

Angka di Indonesia selalu bisa diotak-atik. Yang dikorupsi bukan hanya uang tetapi juga angka.

Ketika pemerintah memberi santunan untuk orang miskin maka jumlah orang miskin akan meledak.

Ketika pemerintah mengucurkan dana untuk perbaikan kawasan pesisir, lebar dan luas pesisir bertambah.

Tapi ketika dilakukan surveilance tentang penyakit menular seksual, kebanyakan daerah penderitanya 0. Bukan karena tak ada tapi dianggap tidak ada. Daerah malu kalau penderita penyakit seksualnya besar.

Soal angka memang aneh. Seperti proyek pemerintah. Dalam KAK dibeberkan dengan semua detail keterangannya nilai proyeknya 10 miliar. Proyek dilelang dengan penawaran harga. Dan semua selalu menawar dibawah angka proyek. Maka jika ada bangunan runtuh sebelum diresmikan menjadi wajar. Proyek yang diumumkan senilai 10 miliar dikerjakan oleh kontraktor yang memenangkan tawaran dengan angka 9 miliar.

Mestinya proyek yang estimasinya 10 miliar ya harus tetap 10 miliar. Kontraktor bukan bersaing menawar harga, melainkan soal kompetensi. Jadi yang menang adalah yang paling layak mengerjakan proyek karena punya sumberdaya dan peralatan atau perangkat untuk mengerjakannya.

Kembali ke Covid 19 kalau memang angka resmi mencerminkan keadaan.yang sebenarnya maka mestinya kita percaya diri saja. Kita pasti akan mampu mengatasinya.

Apa yang mengkhawatirkan adalah jumlah yang sembuh masih dibawah jumlah yang meninggal. Dan yang lebih mengkhawatirkan lagi, jumlah dokter yang meninggal mungkin yang paling besar sedunia.

Ini ironis. Dokter dan perawat adalah garda terdepan dari kesehatan masyarakat. Adakah mereka tertular karena ketiadaan APD, ketiadaan SOP atau karena mutu kesehatan para pendekar kesehatan ternyata juga buruk.

Samarinda selama ditetapkan pembatasan sosial lebih dari dua Minggu, penderita yang positif stabil 2. Jika dibandingkan dengan jumlah penduduk, arus orang dari luar ditutup. Lalu warga yang pulang dari kuar daerah di karantina. Secara teori pergerakan penduduk di dalam wilayah seharusnya tak perlu dibatasi sangat ketat.

Tapi sekali lagi, itu jika angka bisa dipercaya.

Kalau saya sih sama sekali nggak percaya sejak lama.

*) Catatan; Artikel ini sama dengan yang diposting  Yustinus Sapto Harjanto di akun Facebooknya.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *