Ini Langkah DVI Polri Bila Ada Korban Sriwijaya Air yang Tidak Dapat Teridentifikasi

Komandan DVI Pusat Kedokteran dan Kesehatan Polri Kombes Hery Wijatmoko saat konferensi pers di RS Polri Kramat Jati, Jakarta Timur, Selasa (19/1/2021). (Foto Humas Mabes Polri)

JAKARTA.NIAGA.ASIA– Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polri masih melakukan proses identifikasi terkait bagian tubuh korban Sriwijaya Air SJ182. Tim DVI akan berkoordinasi dengan banyak pihak bila korban ada yang tidak dapat teridentifikasi.

“Apabila nanti ditemukan tidak teridentifikasi, kami akan melakukan rapat koordinasi, terutama dengan maskapai, dirjen perhubungan darat, dan dari Basarnas. Kami akan merapatkan sebelum membuat keputusan, kami akan menyampaikan fakta yang kami terima, kami dapatkan dari pemeriksaan di DVI tim,” ujar Komandan DVI Pusat Kedokteran dan Kesehatan Polri Kombes Hery Wijatmoko, di Rumah Sakit Polri Kramat Jati, Jakarta Timur (Jaktim), Selasa (19/1/2021).

Hery menjelaskan tim DVI melakukan identifikasi berdasarkan jumlah kantong jenazah dan body part yang diterima. Artinya, bila tidak dapat teridentifikasi, maka ada bagian tubuh yang sulit untuk diidentifikasi sehingga tidak dapat dikenali sosok tersebut.

“Jadi begini, ini pertanyaan ini sudah kali berapa kali ditanyakan keluarga kepada kami. Jadi ada beberapa kriteria. Jadi tidak teridentifikasi itu, (body part) ditemukan tidak teridentifikasi, itu namanya ada tapi tidak bisa teridentifikasi,” lanjutnya.

“Atau tidak ditemukan karena kami menerima sekian ratus kantong jenazah itu atau body part itu, tidak mencerminkan jumlah passenger yang on board. Jadi kalau tadi saya katakan pada pagi ini kita menyampaikan sekian ratus kantong, itu tidak mencerminkan jumlah on board passenger” tambahnya.

Hery menerangkan tim DVI akan bekerja secara maksimal agar semakin banyak korban yang bisa teridentifikasi meski ada sedikit kendala. Ia berharap akan banyak ditemukan kantong jenazah agar proses identifikasi lebih mudah.

“Kemudian setelah nanti dihentikan Basarnas, kami shut down, artinya kami akan memfokuskan pada pemeriksaan di postmortem dan pemeriksaan di laboratorium DNA forensik. Dari situ akan bisa diketahui berapa yang cocok, berapa yang tidak ada. Kendala yang apabila semakin lama operasi di laut, itu adalah terjadinya campur sampel. Artinya begini, dari laut itu ada orang yang meninggal di sana, namanya campur, tercampur. Ini pernah terjadi pada kasus-kasus yang lain. Dari situ kami akan analisa,” tandas dia. (*/001)

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *