Ini Tren Pola Pengeluaran Penduduk Kaltim Tahun 2024-2025

Bupati Aulia Rahman Basri berdialog langsung dengan pedagang sembako Supriano di Toko Nomor 43 Pasar Mangkurawang, Tenggarong, Senin (16/3/2026), dalam rangka memantau harga dan ketersediaan bahan pokok jelang Idulfitri 1447 Hijriah. (Niaga.Asia/Lydia Apriliani)

SAMARINDA.NIAGA.ASIA – Struktur pengeluaran penduduk yang terdiri dari pengeluaran untuk makanan dan bukan makanan, saling berkaitan. Dalam kondisi pendapatan terbatas, penduduk akan cenderung mengutamakan pemenuhan kebutuhan makanan. Pola pengeluaran penduduk di wilayahg perdesaan dan perkotaan juga cenderung tidak sama.

Secara total, rata-rata total pengeluaran per kapita sebulan penduduk Kalimantan Timur (Kaltim) meningkat dari tahun 2024 ke tahun 2025. Apabila dirinci berdasarkan kelompok makanan dan bukan makanan, pada wilayah perkotaan dan perdesaan memiliki struktur yang berbeda.

Hal itu diungkap Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltim dalam lapran Statistik Pengeluaran Provinsi Kalimantan Timur 2025 Volume 10, 2025 yang dilounching Kepala BPS Kaltim, Mas’ud Rifai, 25 Maret 2026.

Pada wilayah perkotaan, pengeluaran bukan makanan mempunyai persentase yang lebih besar dibandingkan pengeluaran makanan.

“Ini mengindikasikan bahwa terjadi perbaikan kesejahteraan di perkotaan karena masyarakat tidak lagi berfokus untuk mengisi perut namun sudah bergeser menggunakan pendapatannya untuk konsumsi yang sifatnya meningkatkan nilai tambah bagi kehidupannya, seperti pendidikan dan kesehatan,” kata BPS Kaltim.

Kondisi demikian berbanding terbalik dengan wilayah perdesaan dimana pengeluaran makanannya lebih tinggi dari pada pengeluaran bukan makanan merupakan indikasi bahwa masyarakat pedesaan lebih mengutamakan konsumsi makanan dibandingkan bukan makanan.

Menurut BPS Kaltim, di tingkat kabupaten/kota pada tahun 2025, pada umumnya nilai rata-rata pengeluaran makanan per kapita sebulan mengalami peningkatan kecuali di Kabupaten Mahakam Ulu, Kota Balikpapan dan Kota Samarinda yang mengalami penurunan (tren negatif).

Di Kabupaten Mahakam Ulu terjadi penurunan rata-rata pengeluaran makanan sebesar 4,73 persen, di Kota Samarinda terjadi penurunan sebesar 2,61 persen dan Kota Balikpapan terjadi penurunan sebesar 0,12 persen. Peningkatan rata-rata pengeluaran makanan untuk tujuh kabupaten/kota lainnya bervariasi, dari yangerkecil peningkatannya yaitu 2,58 persen (Kabupaten Berau) sampai yang tertinggi 22,47 persen di Kabupaten Penajam Paser Utara.

“Hampir serupa dengan konsumsi makanan, rata-rata pengeluaran bukan makanan untuk masing-masing kabupaten/kota pada umumnya juga mengalami peningkatan pada tahun 2025 dan secara rata-rata peningkatan konsumsi bukan makanan lebih besar dibandingkan peningkatan pada konsumsi makanan,” demikian BPS Kaltim.

Dua dari sepuluh kabupaten/kota mengalamipenurunan konsumsi bukan makanan, yaitu Kabupaten Kutai Timur dan Kota Samarinda yaitu masing-masing mengalami penurunan sebesar 3,16 persen, dan 10,34 persen.

Sedangkan 8 kabupaten/kota lainnya mengalami kenaikan rata-rata pengeluaran bukan makanan per kapita sebulan, dimana kenaikan terbesar terjadi di Kabupaten Penajam Paser Utara yang meningkat sebesar 51,87 persen.

Pada periode tahun 2024 dan 2025, nilai rata-rata pengeluaran perkapita sebulan di Kalimantan Timur mengalami peningkatan sebesar 3,65 persen. Namun pada tingkat kabupaten/kota ada 1 kabupaten/kota yang justru mengalami penurunan, yaitu di Kota Samarinda yang mengalami penurunan sebesar 7,12 persen.

BPS Kaltim juga melaporkan bahwa secara umum, penurunan pengeluaran perkapita perbulan di Kota Samarinda tersebut dikarenakan kelompok pengeluaran menengah ke atas menahan pengeluaran komsumsi rumah tangga.

“Selebihnya masing-masing kabupaten/kota mengalami peningkatan yang bervariasi, dengan peningkatan tertinggi di Kabupaten Penajam Paser Utara yaitu 37,11 persen,” pungkas BPS Kaltim.

Penulis: Intoniswan | Editor: Intoniswan

Tag: