Pasar global masih lesu,

JAKARTA.NIAGA.ASIA-Beragam institusi internasional memberikan proyeksi yang beragam terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia, yang menunjukkan masih tingginya ketidakpastian, khususnya di tahun 2020. IMF memprediksi perekonomian Indonesia pada -0,3 sementara World Bank menyebutkan pertumbuhan 0 pada 2020. OECD juga memroyeksikan perekonomian Indonesia berada pada -3,9 s.d. -2,8, sementara ADB dan Bloomberg (Median) masing-masing memroyeksi -1 dan 0,5.

Demikian diungkap Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati dalam lampiran laporan APBD Tahun Anggaran 2020 di  Rapat Kerja (Raker) Badan Anggaran DPR dengan Menkeu, Menteri PPN/Kepala Bappenas dan Gubernur Bank Indonesia (BI) dengan agenda Penyampaian dan Pengesahan Laporan Panja-panja dalam rangka Pembahasan Pembicaraan Pendahuluan RAPBN 2021 dan RKP Tahun 2021 serta Penyampaian Laporan Semester I dan Prognosis Semester II Pelaksanaan APBN 2020, serta Pembentukan Panja di Ruang Rapat Badan Anggaran DPR pada Kamis (09/07).

Menurut Menkeu, pertumbuhan ekonomi semester II diharapkan membaik dan stabilitas ekonomi makro terjaga, sehingga pertumbuhan ekonomi tahun 2020 diproyeksikan untuk dapat tumbuh positif dengan didukung program PEN. P

rogram stimulus bantuan sosial akan mendorong konsumsi masyarakat Semester II, sementara konsumsi Pemerintah di semester II dapat meningkat sejalan realisasi belanja pemerintah (pusat dan daerah). Selain itu, investasi semester II diperkirakan tumbuh moderat seiring dengan membaiknya keyakinan investor.

“Namun, perdagangan internasional diperkirakan masih mengalami kontraksi karena masih rendahnya permintaan global,” katanya.

Sementara itu, inflasi diperkirakan meningkat bertahap seiring pulihnya konsumsi, dengan inflasi inti meningkat sejalan dengan peningkatan permintaan pasca pelonggaran PSBB bertahap. Inflasi pangan relatif terkendali, namun masih terdapat risiko fluktuasi harga pangan pada masa tanam.

Nilai tukar rupiah diperkirakan dalam tren menguat sejalan dengan stabilitas ekonomi makro dan arus modal masuk ke dalam negeri namun tetap diwaspadai risiko volatilitas pasar keuangan global. Harga minyak masih terdapat risiko volatilitas karena pengaruh supply and demand global serta faktor geopolitik.

“Lifting migas akan dioptimalkan untuk mencapai target dengan menjaga keekonomian wilayah kerja, efisiensi biaya, serta mengupayakan proyek-proyek migas yang onstream di tahun 2020 dapat berjalan tepat waktu,” ujar Menkeu.

Pendapatan Negara semester II akan dioptimalkan terutama dari sisi perpajakan sejalan dengan membaiknya aktivitas usaha di Era Normal Baru. Outlook belanja negara semester II diperkirakan lebih baik sejalan dengan implementasi kebijakan penanganan Covid-19 dan program PEN.

Kondisi pasar keuangan mulai membaik yang tercermin pada penguatan nilai tukar Rupiah dan penurunan tingkat suku bunga SPN 3 Bulan.

Nilai tukar sempat melemah signifikan pada pertengahan Maret s.d. April, namun sejak Mei kembali menguat. Sedangkan tingkat suku bunga SPN 3 bulan bergerak menurun dipengaruhi perbaikan likuiditas pasar keuangan dalam negeri dan minat investor pada obligasi jangka pendek.

Harga Minyak Mentah Indonesia (ICP) mulai mengalami tren naik, sementara lifting migas turun sejalan dengan penurunan permintaan minyak dunia. Harga minyak mentah awal 2020 merosot karena lemahnya demand akibat Covid-19 dan oil price war Arab Saudi-Rusia.

Posisi terendah ICP terjadi pada April 2020 yaitu US$20,7/brl. Sejak Mei, harga mulai naik karena perbaikan permintaan seiring berakhirnya kebijakan lockdown di berbagai negara. Sampai dengan Semester I, rata-rata ICP mencapai US$39,8/barel. Sementara itu, realisasi Januari – Mei 2020 rata-rata lifting minyak 702 ribu barel per hari (rbph), dan lifting gas 987 ribu barel setara minyak per hari. (*/001)

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *