aa
Gubernur Kaltara, Dr. H Irianto Lambrie bersama peserta Pertemuan Sinergitas Program Pusat dan Daerah tentang Penggunaan DAK Non Fisik (BOK) Pelaksanaan PIS-PK di Kayan Hall Multifunction Room Hotel Tarakan Plaza, Selasa (9/10/2018). (Foto Infopubdok Kaltara)

TARAKAN.NIAGA.ASIA-Aparatur Pemerintahan Provinsi Kalimantan Utara harus bisa memastikan sudah melakukan pekerjaan di track yang benar. Kalau ada kekeliruan, segera lakukan koreksi untuk perbaikan.

Hal itu dikatakan Gubernur Kalimantan Utara, Dr. H Irianto Labrie saat membuka Pertemuan Sinergitas Program Pusat dan Daerah tentang Penggunaan DAK Non Fisik (BOK) Pelaksanaan PIS-PK di Kayan Hall Multifunction Room Hotel Tarakan Plaza, Selasa (9/10/2018). Pertemuan tersebut merupakan kerja sama Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Kaltara, dengan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI dan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas).

Menurut gubernur, sinergitas program pemerintah pusat dengan daerah di bidang kesehatan harus disinkronisasi, dikoordinasi, dan dievaluasi terus menerus sepanjang tahun. “Kita  fokus juga kepada hasil evaluasi, dan output yang dihasilkan tersusunnya dokumen evaluasi dan tindaklanjut,” harapnya.

Model kerja demikian, lanjut Irianto, adalah  cara kerja yang diterapkan Pemprov Kaltara. Hal demikian bukan untuk dibanggakan, tapi  sekedar untuk memastikan bahwa pekerjaan sudah berada dalam track record yang benar. “Seluruh dunia, menempatkan kesehatan sebagai prioritas utama. Sebab, manusia harus sehat jasmani dan rohani. Kita jangan ikut arus yang rohaninya sakit, meskipun jasmaninya sehat,” ungkapnya.

Kesehatan adalah hal penting, dan indikator utama keberhasilan utama dalam melakukan pekerjaan kita selama ini.  Dalam Nawa Cita ke-5 disebutkan meningkatkan kualitas kehidupan manusia. Ini dilakukan dengan peningkatan kesehatan, pendidikan, dan pendapatan ini menjadi standar seluruh negara dalam PBB untuk mengukur keberhasilan-kegagalan suatu negara atau bangsa.

Salah satu untuk mengukur keberhasilan pembangunan kesehatan, ujar gubernur, adalah derajat kesehatan. Derajat itu yang berlaku secara umum di dunia ini, di antaranya tingkat kematian bayi atau kelahiran hidup. “ Dalam kesempatan ini, saya minta Dinkes untuk membuat buku khusus tentang indikator dan derajat kesehatan masyarakat di Kaltara. Ini untuk mengatasi kelemahan data dan informasi yang umumnya terjadi di negara kita,” kata Irianto. Derajat kesehatan, indikatornya harus diketahui di tiap daerah. Seperti, jumlah tempat tidur di RS dibanding masyarakat, jumlah dokter dibandingkan dengan jumlah potensi pasien, dan lainnya.

Pemerintah pusat sudah membagi dana, DAK Non Fisik (BOK atau Bantuan Operasional Kesehatan). Dana ini susah dicari, dan Pemprov Kaltara setengah mati mendatangkan APBN dari pusat. “Kita dituntut intensif berkomunikasi dengan menteri terkait. Tapi yang jadi masalah, saat teranggarkan malah tidak mampu mengelolanya. Sehingga saat dievaluasi, bisa jadi takkan diberi lagi. Ini karena malas bertanya dan berkreasi,” ujar gubernur. Persoalan ini sebenarnya dapat diatasi, sebab sudah tak ada penghalang untuk berkomunikasi dengan orang lain meski di tempat jauh.

Dipaparkan, dari evaluasinya, BOK untuk Kaltara sekitar Rp 38,4 miliar pada tahun 2018.  Bulungan sampai Oktober hari ini, terealisasi baru 12,7 persen dari pagu Rp 8,4 miliar. Malinau realisasinya 19,3 persen dari pagu Rp 11,05 miliar; Nunukan realisasi 20,6 persen dari pagu Rp 10,8 miliar; Tarakan realisasi 17,8 persen dari pagu Rp 4,8 miliar; dan KTT realisasi 11,7 persen dari pagu Rp 3,18 miliar. “Jadi, rata-rata untuk Kaltara realisasinya 17 persen atau sebesar Rp 6,68 miliar,” ungkap Irianto.

Kondisi demikian terjadi, karena kurangnya pemahaman Juknis BOK dari pengelola. Makanya, banyak bertanya lewat berbagai sumber. Jangan menunggu sanksi, seperti tak dapat BOK tahun depan.  Soal SDM yang terbatas, kata gubernur, sebenarnya bukan sebuah alasan, sebab Pemprov Kaltara mampu berjalan dengan baik meski dalam kondisi kekurangan pegawai. Ini contohnya. Letak geografis juga bukan alasan, karena adanya kemajuan teknologi informasi. Ditambah ikhtiar maka semua kesulitan diatas mampu teratasi.

“Jadi, tolong kesempatan mendapatkan BOK ini, manfaatkan dan gunakan waktu yang tersisa ini secara maksimal. Karena, sudah saya buktikan bahwa dengan keadaan yang ada mampu merealisasikan sejumlah program kegiatan sesuai waktu yang direncanakan.  Intinya, bisa dan memiliki niat lurus, siap bekerja keras dan tak mengharapkan imbalan apapun,” ujar Irianto. (001)

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *