wisuda
Dr. H Irianto Lambrie hadir di acara Wisuda XIX Universitas Borneo Tarakan. (Foto Infopubdok Kaltara)

TARAKAN.NIAGA.ASIA- Tantangan ke depan akan semakin kompleks, dan mungkin kita akan sulit memecahkannya. Sepanjang kita bersikap optimis, maka kita akan mampu bersaing untuk mengatasi setiap masalah itu.

Hal itu diungkapkan, Irianto Lambrie, Dewan Pertimbangan Universitas Borneo Tarakan (UBT) saat menghadiri sekaligus menyaksikan Rapat Senat Terbuka Wisuda XIX UBT di Stadion Indoor Telaga Keramat, Tarakan, Sabtu (5/5/2018).

Irianto Lambrie yang juga Gubernur Kalimantan Utara, saat yang sama juga mengucapkan selamat dan sukses kepada para wisudawan dan wisudawati yang baru saja resmi menjadi sarjana hari ini. “Terus mengejar cita-cita, jangan berhenti sampai di sini, masa depan masih panjang. Sebagai Dewan Pertimbangan di UBT, dalam kesempatan ini saya menyampaikan paparan berjudul “Tantangan Era Milenial”,” ungkapnya.

Mengawali pidatonya dengan mengutip pernyataan Jack Ma, ‘Hari Ini Sangat Kejam, Hari Esok Semakin Kejam, Lusa Akan Sangat Indah. Tapi Sayang, Banyak Orang Yang Menyerah di Esok Malam’.  Irianto memaknai  persaingan dewasa ini semakin ketat dan kejam. Lantaran, manusia sekarang semakin mudah menyakiti orang lain.

“Perjuangan seperti yang dinyatakan dalam kutipan Jack Ma, itulah yang memotivasi saya dalam memimpin ‘perjuangan’ Pemprov Kaltara hingga hari ini,’ ujarnya. “Hingga hasilnya, Alhamdulillah beberapa capaian mampu diperoleh dan dirasakan langsung oleh masyarakat. Meski memang masih banyak yang harus kita lakukan. Tentunya dengan dukungan dan kerja keras dari kita semua, seluruh elemen masyarakat Kalimantan Utara,” sambungnya.

Menurut Irianto, ada banyak tantangan yang harus dihadapi generasi milenia Kaltara hingga 10 tahun ke depan. Yakni, kebutuhan tenaga kerja di bidang teknologi yang semakin besar. Ini berarti, tak ada nepotisme, semuanya dilakukan secara transparan dan akuntabel. Hal ini sudah diterapkan Pemprov Kaltara saat melakukan rekrutmen CPNS Kaltara.

Persoalannya, sebagai lapangan kerja baru, talenta di bidang teknologi belum banyak tersedia di pasar tenaga kerja. Alhasil, daya tawar pekerja profesional di bidang teknologi pun tinggi. Industri pun menawarkan insentif yang besar bagi mereka. Fenomena ini sudah mengglobal. Adapun kebutuhan tenaga kerja ini, seperti kepala departemen IT, manajer security IT, dan tenaga ahli rekayasa perangkat lunak.

Hal ini sejalan dengan era Revolusi Industri 4.0, yakni sistem yang mengintegrasikan dunia online dengan produksi industri. Efeknya, meningkatnya efisiensi produksi karena menggunakan teknologi digital dan otomatisasi, serta perubahan komposisi lapangan kerja. “Ini juga berarti, akan ada kebutuhan tenaga kerja baru yang tumbuh pesat, sekaligus ada kebutuhan tenaga kerja lama yang tergantikan oleh mesin,” ungkapnya.

civitas
Dr. H Irianto Lambrie bersama Rektor UBT, Prof Adri Patton dan civitas akademika UBT.

Generasi milenia Kaltara khususnya, harus berpikir ke depan. Jangan berpikir seperti masa lalu. Harus berani membangun diri untuk open minded dan siap berubah. Selanjutnya, tantangan transformasi digital di Indonesia. generasi saat ini, merupakan garda terdepan dalam mengendalikan era globalisasi yang dilingkupi kemajuan teknologi. Melalui perangkat teknologi, generasi digital banyak berkontribusi dalam menstimulasi masyarakat ihwal pemanfaatan internet sebagai instrumen mobilitasnya.

Untuk itu, jangan anggap enteng generasi saat ini. Dan, ada 3 aspek penting generasi saat ini untuk menghadapi masa depan. Yakni, harus memiliki pandangan terbuka terhadap berbagai pemikiran keagamaan. Lalu, hospitality yang berarti harus memiliki sikap keramahtamahan kepada orang lain.  Dan, inclusiveness, yakni bersifat inklusif dan mau menerima segala macam perbedaan pandangan dari pihak lain.

Lantas strategi apa yang harus disiapkan dalam menghadapi era Revolusi Industri 4.0? Yakni, mendorong angkatan kerja untuk belajar dan meningkatkan keterampilan penggunaan teknologi internet atau mengintegrasikan kemampuan internet dengan lini produksi industri.

Kedua, memanfaatkan teknologi digital untuk memacu produktivitas dan daya saing IKM sehingga mampu menembus pasar ekspor melalui program e-Smart IKM. Ketiga, dunia industri harus memanfaatkan teknologi digital otomatisasi industri untuk mengoptimalkan jadwal produksi. Dan terakhir, melakukan inovasi teknologi melalui pengembangan start up dengan memfasilitasi tempat inkubasi bisnis.

tantangan untuk mendidik generasi digital ini?

Kondisi ini wajib diantisipasi oleh kalangan perguruan tinggi di Indonesia, khususnya UBT dengan melakukan penyesuaian pada kurikulum dan metode pembelajaran yang harus mengikuti perkembangan teknologi serta informasi.

“Dunia pendidikan dan industri juga harus mampu mengembangkan strategi transformasi industri dengan mempertimbangkan sektor ketenagakerjaan. Dalam hal ini, selaku Dewan Pertimbangan UBT, saya menyarankan kepada civitas akademika UBT untuk secara berkala menghadirkan profesional berpengalaman dari sektor pemerintahan, swasta juga bisnis. Mereka akan melakukan sharing pengalaman serta teori. Hal ini tak sulit, juga efisien dari sektor biaya. Terpenting, adalah tersedianya fasiltias yang memadai,” ujar Irianto.

Pada akhir paparan, sebagai bentuk apresiasi bagi para lulusan terbaik, atas nama gubernur, Irianto  memberikan reward . Masing-masing, untuk lulusan terbaik I pada wisuda kali ini, beserta dosen pembimbingnya akan diberikan hadiah Umroh.

Kemudian kepada lulusan terbaik II, beserta dosen pembimbingnya akan diberikan hadiah uang Rp 10 juta, dan lulusan terbaik III beserta dosen pembimbingnya diberikan hadiah uang sebesar Rp 7,5 juta per orang. Begitu seterusnya, hingga lulusan terbaik IV dan V beserta dosen pembimbing masing-masing. “Sekali lagi saya ucapkan selamat dan sukses kepada seluruh wisudawan dan wisudawati, semoga ilmu dari selama di bangku kuliah akan bermanfaat. Utamanya untuk bersama-sama membangun Kalimantan Utara,” ujarnya. (001)

Berita Terkait