Islamofobia Menggerogoti India

Warga Muslim memprotes pernyataan-pernyataan dari sejumlah petinggi partai BJP. (GETTY IMAGES)

SAMARINDA.NIAGA.ASIA – Islamofobia adalah sebuah fobia atau suatu ketakutan, kebencian atau prasangka terhadap Islam atau Muslim secara umum. Cakupan dan definisi yang tepat dari istilah Islamofobia, termasuk hubungannya dengan ras.

Islamofobia itu kini menggerogoti negara India. Ekonomi India adalah ekonomi terbesar kesembilan di dunia berdasarkan PDRB nominal dan yang terbesar ketiga di dunia berdasarkan keseimbangan kemampuan berbelanja.

India adalah negara anggota G20 dan juga anggota BRICS. Pada tahun tahun 2011 PDB PPP perkapitan India tercatat di Dana Moneter Internasional (IMF)  sebesar $3.703, yang membuatnya menduduki peringkat 127 di dunia. Dengan demikian pemasukan ekonomi India tergolong ke dalam kelas menengah ke bawah.

Melihat pertumbuhan ekonomi global di era pandemi ini, India diprediksikan oleh IMF  menjadi kekuatan ekonomi global dengan pertumbuhan tercepat di dunia untuk dua tahun berturut-turut, tumbuh hampir dua kali lipat dari perkiraan tingkat untuk China.

IMF mengatakan ekonomi India diproyeksikan tumbuh 8,2 persen tahun ini dibandingkan dengan 4,4 persen yang dipatok untuk China. Namun perkiraan itu merosot menjadi 7,2 persen setelah beberapa perhitungan lebih lanjut per Rabu ini (4/5/2022).

Namun menurut Kepala Penasihat Ekonomi India V. Anantha Nageswaran, Ia mengatakan pertumbuhan India diperkirakan akan berada di kisaran 7 hingga 8,5 persen meskipun dilanda ketidakpastian global.

Sesuai Survei Ekonomi Kementrian Keuangan India, ekonomi India diperkirakan akan tumbuh sebesar 8 hingga 8,5 persen pada awal fiskal 1 April.

Berdasarkan daftar negara dengan Perekonomian (PDB) Terbesar di Dunia pada 2021, India berada diurutan keenam dengan PDB US$2,9 triliun atau 3,1% dari PDB Dunia. India berada dibawah  Amerika Serikat : US$ 22,9 triliun (24,4%), Tiongkok : US$ 16,9 triliun (17,9%), Jepang : US$ 5,1 triliun (5,4%),  Jerman : US$ 4,2 triliun (4,5%), Inggris : US$ 3,1 triliun (3,3%), India : US$ 2,9 triliun (3,1%).

Posisi India lebih baik dibandingkan Perancis : US$ 2,9 triliun (3,1%), Italia : US$ 2,1 triliun (2,3%),  Kanada : US$ 2 triliun (2,1%), dan Korea Selatan: US$ 1,8 triliun (1,9%).

Meski pemeluk Islam di India tidak mayoritas tapi mengingat, posisi tahun 2022, menjadi agama terbesar kedua India setelah Hindu. India di posisi ketiga, menyumbang 10,90 persen. Dilaporkan jumlah Muslim India mencapai 195 juta orang dari 1,3 miliar populasi.

Berbagai bentuk ujaran kebencian dan kebijakan pemerintah, termasuk di negara-negara bagian, kini India dilabeli dengan negara yang membenci Islam atau Islamofobia. Teranyar yang  membuat gempar adalah pernyataan kontroversial tentang Nabi Muhammad yang dilontarkan juru bicara Partai Bharatiya Janata (BJP) dalam debat televisi  pertengahan Mei lalu, membuat marah warga Muslim di India dan juga belasan negara-negara berpenduduk mayoritas Muslim.

Islamofobia di India juga menjadi mimpi buruk hubungan diplomatiknya dengan belasan negara-negara Arab dan negara lain yang penduduknya mayoritas memeluk agama Islam, seperti Indonesia.

Di Indonesia, Kementerian Luar Negeri telah memanggil Duta Besar India di Jakarta, Manoj Kumar Bharti.

“Indonesia mengutuk keras pernyataan yang merendahkan Nabi Muhammad SAW oleh dua orang politisi India. Pesan ini telah disampaikan kepada Duta Besar India di Jakarta,” tulis akun Twitter resmi @Kemlu_RI.

BJP menyatakan telah memberhentikan Nupur Sharma, tapi umat Islam di India minta Nupur Sharma ditangkap. (GETTY IMAGES)

Sebagai buntut dari kejadian tersebut, BJP mengeluarkan Sharma dari keanggotaan partai. Demikian juga kepala bagian media BJP di Delhi, Naveen Kumar Jindal, lantaran membagikan tangkapan layar pernyataan Sharma.

BJP menyatakan “menentang ideologi yang menghina atau merendahkan sekte atau agama ” dan menambahkan bahwa partai itu tidak “mempromosikan orang-orang atau filosofi seperti itu”.

Di samping itu, dalam upaya menenangkan negara-negara Islam dan berpenduduk mayoritas Muslim, para diplomat India mengatakan pernyataan tersebut tidak mencerminkan sikap pemerintah dan hanyalah “pandangan dari unsur pinggiran”.

Namun banyak orang menekankan bahwa Sharma bukanlah orang pinggiran.

Sebelum diberhentikan, pengacara berusia 37 tahun adalah sosok yang dicari-cari sebagai “juru bicara resmi BJP” yang tampil dalam debat televisi setiap malam untuk mewakili dan sekaligus membela pemerintahan Perdana Menteri Narendra Modi.

Mengambil jurusan hukum di Universitas Delhi, Sharma merintis karier politiknya pada 2008. Ketika itu dia dipilih sebagai ketua persatuan mahasiswa yang dicalonkan oleh Akhil Bharatiya Vidyarthi Parishad (ABVP), sayap mahasiswa dari gerakan nasionalis Hindu, Rashtriya Swayamsevak Sangh.

Karier politiknya menanjak pada 2011 ketika dia kembali ke India setelah meraih gelar strata dua di bidang hukum bisnis internasional di London School of Economics.

Karena berani dan blak-blakan dalam mengutarakan pandangan baik dalam bahasa Inggris maupun Hindi, Sharma mendapat posisi di dalam komite media BJP untuk pemilihan anggota parlemen Delhi pada 2013.

Selang dua tahun kemudian, ketika pemilu digelar, dia menjadi kandidat BJP untuk melawan Gubernur Delhi, Arvind Kejriwal.

Dia tidak dijagokan untuk menang, namun kampanyenya yang berapi-api membuat dia menjadi sorotan. Oleh BJP, Sharma lantas ditunjuk sebagai juru bicara resmi partai di Delhi. Kemudian pada 2020, dia menjadi “juru bicara nasional” untuk BJP.

Dalam beberapa tahun terakhir, Sharma menjadi wajah yang familiar bagi penonton televisi di India. Kerap dia terdengar berteriak dan mengolok-olok lawan politiknya.

Pada potongan video yang beredar di Twitter baru-baru ini, Sharma menyebut seorang panelis “munafik dan pembohong” serta meminta agar dia “tutup mulut”.

Ketika dia membagikan klip video itu kepada para pendukungnya melalui akun Twitter–Perdana Menteri Narendra Modi salah satu di antara setengah juta pengikutnya–penyokongnya memuji Sharma dengan sebutan “singa betina, pejuang tangguh dan tak kenal takut”.

Namun, sikap Sharma sama sekali berbeda setelah didepak BJP. Sharma menulis bahwa dirinya menarik pernyataannya “tanpa syarat”. Meski demikian, dia berdalih bahwa komentarnya dilontarkan sebagai respons atas “hinaan terus-menerus terhadap dewa umat Hindu, Shiva”.

Komentar Sharma soal Nabi Muhammad dilontarkan dalam perdebatan kasus Masjid Gyanvapi. Kasus itu mengemuka ketika sejumlah umat Hindu mengklaim bahwa masjid di kota suci Varanasi dibangun di atas reruntuhan kuil Hindu dari abad ke-16 yang dihancurkan Kaisar Mughal Aurangzeb pada 1669. Atas dasar itu, ada umat HIndu yang meminta izin kepada pengadilan untuk beribadah di kompleks masjid tersebut.

Pengadilan kemudian mengeluarkan perintah kontroversial yang memperbolehkan survei menggunakan rekaman video di masjid. Rekaman video disebut-sebut menampilkan pilar batu yang diklaim para pengaju petisi sebagai Sivalinga atau simbol Dewa Shiva. Namun, pihak masjid berkeras itu adalah air mancur.

Silang pendapat ini digelar di pengadilan, namun perdebatan serupa juga berlangsung tanpa henti di televisi. Sharma berada di kubu nasionalis Hindu yang melontarkan pendapatnya secara blak-blakan.

Pada 27 Mei, komentarnya soal Nabi Muhammad dianggap banyak pihak sudah keterlaluan. Setelah wartawan dan pemeriksa fakta, Mohammed Zubair, membagikan klip video pernyataan Sharma soal Nabi Muhammad ke Twitter, Sharma mencuit kepada Kepolisian Delhi. Dalam cuitan itu, dia mengaku “dibombardir dengan ancaman pemerkosaan, pembunuhan, dan pemenggalan terhadap adik perempuan, ibu, ayah, dan saya sendiri”.

Sharma menuding Zubair “memicu narasi palsu untuk meracuni atmosfer, menimbulkan ketidakselarasan komunal dan menargetkan kebencian terhadap saya dan keluarga saya”.

Pada cuitan itu, dia turut menambahkan PM Modi, Menteri Dalam Negeri Amit Shah, dan Ketua BJP, JP Nadda.

Sejumlah pemuka agama Hindu menyerukan kekerasan terhadap Muslim pada Desember lalu. (Facebook/DEVBHOOMI RAKSHA ABHIYAN)

Tiga hari kemudian, dia mengatakan kepada pewawancara bahwa “kantor perdana menteri, kantor kementerian dalam negeri, dan kantor pimpinan partai berada di belakang mendukung saya”.

Masalah mulai meruncing pada Jumat (03/06) ketika sebuah aksi protes umat Muslim di Kanpur, kota di Negara Bagian Uttar Pradesh, berubah menjadi aksi kekerasan.

Akan tetapi, Sharma dan BJP tidak lagi bisa berkutik setelah negara-negara di Timur Tengah mengecam pernyataan Sharma. Kuwait, Iran, dan Qatar memanggil duta besar India. Kemudian Arab Saudi merilis pernyataan keras. Bahkan Uni Emirat Arab yang berhubungan baik dengan India, mengkritik komentar Sharma.

Dalam beberapa hari terakhir, tuntutan agar Sharma ditangkap atas “komentar yang menghujat” semakin kencang. Kepolisian di sejumlah negara bagian yang dikuasai oposisi juga menggelar penyelidikan terhadapnya.

Pada Selasa (07/06), Kepolisian Delhi memperketat pengamanan terhadap Sharma dengan alasan bahwa dia diancam oleh sebuah kelompok militan.

Namun, sejak Sharma didepak, dukungan terhadapnya berkembang. Tagar seperti #ISupportNupurSharma dan #TakeBackNupurSharma menjadi tren di media sosial dengan puluhan ribu warganet India menyanjungnya.

Beberapa pengamat politik juga menyindir bahwa banyak politisi top India bisa lolos setelah melontarkan ujaran kebencian. Artinya, kontroversi ini mungkin bukan akhir dari karier politik Sharma.

Sumber: dari Berbagai Sumber | Editor: Intoniswan

Tag: