Jalan Negara di Perbatasan Indonesia – Malaysia Rusak Parah

Masyarakat gotong royong memperbaiki jalan negara di wilayah perbatasan Indonesia dengan Malaysia agar bisa dilewati pejalan kaki dan truk (4×4). (Foto Dok Ryan Antoni/Niaga.Asia)

NUNUKAN.NIAGA.ASIA – Jalan antar kecamatan di wilayah perbatasan negara Indonesia dengan Malaysia dalam kondisi rusak parah sebab, sejak Indonesia merdeka tidak pernah ditingkatkan konstruksi dari jalan tanah jadi mantap, diaspal atau disemenisasi.

Jalan di wilayah perbatasan yang rusak itu tepatnya jalan yang jadi penghubung antara Kecamatan Krayan ke Krayan Tengah dan Krayan Timur, di Kabupaten Nunukan, Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara).

“Status jalan yang tak pernah disentuh pemeliharaan dan peningkatan itu jalan negara, artinya dalam kewenangan pemerintah pusat untuk membangun atau meningkatkan jadi jalan nasional yang layak bagi transportasi. Kondisi jalan negara itu hingga kini masih jalan tanah,” kata anggota DPRD Nunukan, Kalimantan Utara, Ryan Antoni, pada Niaga.Asia, hari ini, Jum’at (9/1/2026).

Menurut Ryan, pada tahun 2025 lalu sejumlah anggota DPRD Nunukan melakukan kunjungan ke sejumlah kementerian/lembaga negara di Jakarta, sekaligus  menyampaikan aspirasi dan keluhan masyarakat terhadap kondisi jalan di Krayan yang berbatasan langsung dengan Malaysia.

“Sayangnyam hingga kini belum ada informasi dari pemerintah pusat bahwa jalan di perbatasan negara itu akan ditingkatkansebagaimana harapan masyarakat,” katanya.

Harapan masyarakat, lanjut Ryan, tolonglah pemerintah pusat memperbaiki atau meningkatkan kualitas jalan negara di perbayasan dengan Malaysia, misalnya dilakukan pengerasan dan secara bertahap diaspal.

“Sekarang ini agar jalan fungsional atau bisa sekedar dilewati truk doubel gardan (4×4) masyarakat dan anak sekolah yang gotong royong memperbaikinya,” ujarnya.

Ryan meminta pemerintah pusat tidak setengah-tengah dalam menganggarkan perbaikan jalan di wilayah Krayan, harus ada peningkatan kualitas jalan setiap tahun agar jalan yang sudah terbangun tidak kembali mengalami kerusakan.

“Kalau skema perbaikan jalan sebatas poles-poles di lapisan atas percuma saja, kualitas jalan tidak meningkat dan disaat hujan pasti kembali menjelma jadi gubangan,” ungkapnya.

Hambat pembangunan dan mobilitas orang

              Menurut Ryan, kondisi jalan yang rusak parah tersebut, telah menghambat  pembangunan daerah di seluruh wilayah Krayan, menghambat pembangunan berbagai infrastruktur publik sebab, tidak ada kontraktor yang mau mengerjalan proyek Pemkab Nunukan di Krayan, Krayan Tengah, dan Krayan Timur sebab, kesulitan mengangkut bahan bangunan.

Misalnya di Krayan Timur ada pekerjaan  perbaikan jembatan Wa’ Yagung, tapi pekerjaan perbaikan belum selesai, karena sulitnya mendatangkan bahanatau material dan BBM yang diperlukan saat memperbaiki jembatan.

Kemudian, rusaknya jalan negara itu membuat anak-anak sulit ke sekolah, mobilitas penduduk jadi sulit, perdagangan hasil pertanian macet, dan ekonomi rakyat sulit berkembang.

Ryan menambahkan, karena konstruksi jalan masih berupa jalan tanah, makan jalan tersebut

tiap kali musim hujan selalu menjelma jadi penuh lumbur dan berlubang-lubang.

“Persoalan ini bukan hal baru, kami sudah berulang kali menyuarakan minta pemerintah pusat, provinsi dan kabupaten memperbaiki jalan di Krayan,” katanya.

Pusat perdagangan terpusat di Long Bawan, Kecamatan Krayan, dari sana barang-barang dikirim ke Kecamatan Krayan Timur dan Krayan Tengah. Tanpa akses jalan yang baik, roda perekonomian masyarakat di Krayan Timur dan Krayan Tengah, tak berputar.

Penulis : Budi Anshori | Editor : Intoniswan

Tag: