Jembatan Long Penjalin Ambelas, Pemdes Dorong Perusahaan Bantu Perbaikan

Jembatan Long Penjalin di Tabang yang ambelas (Foto : istimewa/wartakaltim.id)

KUTAI KARTANEGARA.NIAGA.ASIA – Jembatan di Long Penjalin, akses utama ke kecamatan Tabang, Kutai Kartanegara, ambelas. Pemerintahan desa (Pemdes) di Tabang mendorong keterlibatan perusahaan bantu perbaikan. Sebab, angkutan sembako menuju Tabang berkurang, yang berujung pada tingginya harga sembako di Tabang.

“Untuk jembatan Long Penjalin belum ada perbaikan,” kata Kades Sidomulyo di Tabang, Saidina Aswat, dikonfirmasi Niaga Asia, Minggu (15/11) sore.

Aswat menerangkan, jalan alternatif yang dibuat pihak swasta, saat ini justru kondisinya berbalik meresahkan warga. Sebab, ada biaya yang mesti dikeluarkan untuk melintas di jalan alternatif itu.

“Untuk mobil biasa dipungut bayar Rp50 ribu, untuk mobil angkutan Rp100 ribu. Dan untuk motor Rp10 ribu,” ujar Aswat.

Kondisi itu, menurut Aswat, dikeluhkan masyarakat. Apalagi, bagi angkutan yang mengangkut kebutuhan pokok ke Tabang, termasuk desa-desa di Tabang. “Imbasnya, memang terhadap kenaikan harga kebutuhan di Tabang,” sebut Aswat.

“Semua harga kebutuhan melonjak naik, termasuk sembako kebutuhan sehari-hari. Seperti gula pasir normalnya Rp12 ribu, sekarang Rp15 ribu per kilogram. Elpiji 3 kg normal Rp42 ribu, sekarang Rp55 ribu,” terang Aswat.

Naiknya harga kebutuhan itu, menurut Aswat memangn disebabkan keengganan kendaraan angkutan masuk ke Tabang, lantaran tingginya ongkos. Pulang pergi, kendaraan angkutan bisa merogoh kocek Rp200 ribu.

“Selain kenaikan harga sembako, juga transportasi travel. Sebelumnya Rp150 ribu dari Tabang ke Tenggarong, sekarang Rp250 ribu per orang,” ungkap Aswat.

“Kalau BBM, karena kita punya SPBU, harga tetap. Tapi ketika SPBU lagi kering, harga bensin premium eceran biasanya Rp9 ribu, jadi Rp11 ribu. Jadi ya itu tadi, semua terdampak,” tambah Aswat.

Aswat berharap, pemerintah bisa segera merespons untuk melakukan perbaikan. Namun demikian, Aswat juga memberikan masukan. “Di Tabang kan banyak perusahaan,” sebut Aswat.

“Mungkin melalui CSR perusahaan untuk pendidikan, dan kesehatan, bisa sedikit dialihkan untuk perbaikan infrastruktur jembatan, untuk menunjang aktivitas ekonomi masyarakat Tabang secara umum,” demikian Aswat. (adv/006)

Tag: