
SAMARINDA.NIAGA.ASIA — Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur mulai menggeser paradigma dari sekadar daerah penghasil bahan mentah menjadi pusat hilirisasi perikanan.
Melalui pengembangan konsep Kampung Budidaya, langkah ini diambil untuk memperkuat pemenuhan kebutuhan pangan masyarakat lokal, maupun masyarakat Ibu Kota Nusantara (IKN) di masa mendatang.
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Kaltim Irhan Hukmaidy menerangkan, kehadiran IKN telah mengubah peta kebutuhan daerah. Kaltim tidak lagi hanya berperan sebagai penyedia sumber daya alam, tetapi telah bergeser menjadi pusat geoekonomi nasional. Magnet IKN ini diyakini akan menarik arus investasi yang besar ke daerah.
Untuk itu guna menarik investor untuk berinvestasi di sektor perikanan, DKP Kaltim mendorong kabupaten/kota untuk menghadirkan produk-produk unggul perikanan masing-masing wilayah, agar masyarakat luar yang ingin berinvestasi tidak kebingungan menentukan lokasi.
“Saya ingin setiap daerah memiliki keunggulan yang spesifik. Misalkan di satu kampung unggul dalam budidaya ikan lele, maka kegiatan itu harus dilakukan secara masif dan terstruktur. Investor perlu wadah yang jelas agar mereka tahu harus menanamkan modalnya di mana,” kata Irhan di Gedung Masjaya Universitas Mulawarman Samarinda, dalam Simposium Nasiona Reuni Akbar Fakultas Perikanan dan Ilmu Perikanan (FPIK) Unmul, Jumat 6 Februari 2026.
Tantangan besar muncul seiring adanya integrasi Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (RZWP3K) ke dalam Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kaltim.
Meski demikian, Pemprov Kaltim tetap berkomitmen menjaga keseimbangan ekosistem. Hingga tahun 2025, Kalimantan Timur menargetkan penetapan kawasan konservasi laut seluas 301.030 hektar.
Kawasan ini bukan merupakan wilayah larangan total, melainkan zona pemanfaatan terbatas yang berfungsi sebagai daerah pemijahan dan asuhan bagi komoditas bernilai ekonomi penting.
Strategi utama pembangunan perikanan kedepan bertumpu pada revitalisasi melalui Kampung Perikanan Budidaya. Fokus utama diarahkan pada komoditas unggulan berorientasi ekspor, seperti udang windu, kepiting, dan rumput laut.
Konsep kampung budidaya ini direncanakan secara menyeluruh. Mulai dari pembenihan modern, pembesaran, hingga pengolahan pascapanen, yang mencakup rumah kemasan serta ekowisata.
Hal ini dilakukan untuk menjawab kegelisahan pelaku usaha yang kerap kesulitan mencari sentra produksi yang pasti.
“Banyak perusahaan masuk ingin mencari komoditas seperti patin, tetapi bingung harus ke mana. Konsep kampung budidaya ini hadir untuk menjawab itu, mulai dari benih hingga hilirisasi,” demikian Irhan.
Untuk mendukung transformasi tersebut, peran perguruan tinggi khususnya Unmul Samarinda dinilai sangat strategis dalam menyiapkan sumber daya manusia yang memiliki daya saing tinggi.
Penulis: Nur Asih Damayanti | Editor: Saud Rosadi
Tag: KaltimPerikananUniversitas Mulawarman