Kaltim Tidak Termasuk Daerah Rawan Bencana Geologi

Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Kaltim, Christianus Benny. (Foto Istimewa)

SAMARINDA.NIAGA.ASIA-Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) tidak termasuk daerah rawan bencana geologi, karena di Kaltim tidak ada gunung berapi, tsunami, dan tidak rawan gempa bumi. Dari itu, Pemprov Kaltim tidak membuat peta rawan bencana geologi.

Demikian diungkap Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Kaltim, Christianus Benny, S.Hut, MH didampingi Kepala Bidang Geologi dan Air Tanah, Ir. Pancasila Rekso Bantolo, M.Sc pada Niaga.Asia, Kamis (16/9/2021).

Menurut Benny, kewenangan dan lembaga teknis menetapkan suatu daerah rawan bencana geologi berada di Badan Geologi Kementerian ESDM. Lembaga tersebut tak memasukkan Kaltim rawan bencana.

“Itu artinya secara teknis, memang Kaltim tidak masuk daerah rawan bencana, itu pula yang jadi faktor Pemerintah Pusat memindahkan ibu kota negara ke Kaltim,” ujarnya.

Diterangkan, memang ada beberapa wilayah di Kaltim, sesekali merasakan gempa, misalnya Kabupaten Paser dan daerah pesisir Kutai Timur, seperti Sangkulirang, tapi hanya terdampak dari patahan di selat Makassar.

“Kaltim hanya terdampak, tapi bukan pusat gempa,” ujar Benny.

Sementara Kepala Bidang Geologi dan Air Tanah, Ir. Pancasila Rekso Bantolo, M.Sc menambahkan, terkait dengan geologi, Dinas ESDM, sesuai kewenangan yang ada sekarang ini hanya mengawasi penggunaan air bawah tanah, yang saat ini digunakan masyarakat umum di Kota Balikpapan dan di Kota Bontang untuk kepentingan industri.

“Pengguna air bawah tanah di Balikpapan kebanyakan masyarakat umum, sumur air bawah tanah banyak tapi volume air yang diambil tidak banyak, hanya untuk keperluan sehari-hari. Sedangkan di Bontang, sumur air bawah tanah sedikit tapi volume air yang dipakai cuku tinggi, karena dipakai untuk kepentingan industri,” kata Bantolo.

Kewajiban pengguna air bawah tanah adalah mencatat volume air setiap bulannya dan setiap enam bulan menyampaikan laporan ke Dinas ESDM Kaltim.

“Berdasarkan pengawasan, jumlah air bawah yang dipakai masih dalam batas toleransi, tidak membahayakan, sebab perbandingan antara luas ruang terbuka untuk menyerap air hujan masih lebih besar dibandingkan air tanah yang dipakai,” kata Bantolo.

Penulis : Intoniswan | Editor : Intoniswan

Tag: