Karya Darma, Gedung Bersejarah di Nunukan

AA
Prajurit TNI-AL, Lanal Nunukan berbaris di depan gedung Karya Dharma Nunukan, tampak bekas rudal dicat warga merah putih diantara barisan prajurit. (Foto: Budi Anshori)

NUNUKAN.NIAGA.ASIA-Sejarah perang antara dua negara bertetangga Indonesia dan Malaysia di wilayah perbatasan Kalimantan bagian utara tahun 1963-1965 meninggalkan kisah dan bukti-bukti  perjuangan para TNI-AL, khususnya pasukan Korps Komando Operasi (KKO) dan warga sipil.

Sisa perang yang terkenal dengan sebutan Perang Dwikora itu, seperti kendaraan lapis baja dan meriam  masih tersimpan di Monumen Dwikora Nunukan dan membuktikan, saat itu  Indonesia saat itu yang dipimpin Presiden Soekarno memang bersiap-siap mengganyang Malaysia.

Lewat perintah “Ganyang Malaysia” itu, seluruh pasukan KKO dan pasukan sipil terlatih melakukan penyerangan dari laut dan darat menuju perbatasan Malaysia di Kalabakan dan wilayah terdekat lainnya dengan Kabupaten Nunukan.

Perang antara dua negara bertetangga menewaskan banyak prajurit KKO dan warga sipil yang sebagian dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Djaya Sakti  di Kecamaan Nunukan.  Bukti-bukti peperangan bisa dilihat pula dari peninggalan  bekas gedung bioskop.

Gedung bioskop yang berada di Jalan Pasar Lama, Kelurahan Nunukan Utara, Kecamatan Nunukan sebelumnya bernama Gedung Karya Dharma. Bangunan kayu tersebut sengaja dibuat Pemerintah Indonesia untuk hiburan para tentara melepas kepenatan. “Pemerintah Pusat mengirimkan band dari Surabaya ke Nunukan untuk menghibur para pejuang dan sukarelawan,” kata Ketua Cabang LVRI Kabupaten Nunukan Linus Lego.

Linus adalah saksi hidup sejarah perjuangan Dwikora. Bersama teman-temannya, dia kerap kali berkunjung ke gedung Karya Darma yang letaknya bersebelahan dengan kantor LVRI Nunukan untuk  berkumpul dan bersenda gurau mengingat kisah-kisah masa lalu bersama sisa-sisa veteran perang Dwikora.

Hari Jumat, tanggal 24 Agustuas 2018, Linus bersama Mustafa Taran yang juga veteran Pembela Kemerdekaan Republik Indonesia Dwikora berkenan menceritakan sejarah singkat gedung Karya Dharma yang dulunya sempat dijadikan bioskop itu.

aa
Linus Lego, Veteran Perang Dwikora dan Ketua LVRI Nunukan.

Linus menyebutkan, karena banyaknya tentara dan pasukan suralawan terlibat dalam perang Dwikora, Pemerintah RI tahun 1965 membuat lokasi hiburan dan mengirimkan band bernama Varia Nada. “Adalah hiburan kami para pejuang dan tiap kali band itu tampil banyak penonton tidak saja prajurit, masyarakat ikut melihat,” ucapnya

Menurutnya, pada tahun itu,  Nunukan masih berbentuk hutan belantara, banyak pohon-pohon kayu besar, para pejuang dan sukarelawan bekerja disebuah perusahaan kayu balak (Kayu Bulat/Kayu Log) untuk membantu perusahaan menaikkan ke atas kapal cargo.

Dari hasil gaji bekerja itu, veteran sepakat memotong gajinya beberapa persen untuk membangun gedung tempat Band Varia Nada  tampil. Gedung dibangun menggunakan kayu hasil hutan di Nunukan. “Gaji kami dipotong, kami kumpulkan membeli kayu dan kami juga pekerja yang membangun gedung itu,” bebernya.

Seiring berjalan waktu dan bersamaan berakhirnya perang Dwikora, gedung Varia Nada tahun 1968-1969 diserahkan dari Pemerintah Kecamatan Nunukan yang dijabat oleh Datuk Langkat kepada veteran Nunukan.

Bersamaan dengan itu, nama gedung berganti dengan Karya Dharma, gedung sejarah peninggalan perang itu belum pernah mendapat renovasi dan sudah dipastikan kondisi bangunan sangat tidak layak. “Namanya kayu pastilah lapuk. Saya berharap ada perhatian dari pemerintah setempat menjaga peninggalan ini,” kata Linus.

Satu hal yang menyedihkan bagi Linus adalah, hingga saat ini lahan tempat berdiri gedung Karya Dharma dan kantor veteran Nunukan seluas 46 x 46 meter tidak memiliki legalitas dari pemeritah.

Pengurus veteran Nunukan hanya mencacat lahan ini sebagai hibah dari pemerintah kecamatan tanpa dilengkapai sertifikat kepemilikan. Meski semua saksi hidup dan masyarakat mengetahui lahan itu milik veteran Nunukan. “Kita minta ke Pemda Nunukan dibuatkan sertifikat, tapi belum ada kejelasan. Kami para berencana berinisiatif kumpul-kumpul dana untuk pembuatan sendiri sertifikat,” ungkapnya. (002)