Kasus Kekerasan Terhadap Anak di Kaltim Masuk Tahap Sangat Mengkhawatirkan

Fitri Maisyaroh. (Foto Niaga.Asia)

SAMARINDA.NIAGA.ASIA-Kasus kekerasan terhadap anak di berbagai daerah Kalimantan Timur (Kaltim) sudah memasuki tahap sangat mengkhawatirkan dan dapat dapat berakibat buruk  yang  panjang terhadap anak, misalnya trauma sepanjang hidup anak.

Anggota Komisi IV DPRD Kaltim, Fitri Maisyaroh, kekerasan yang menimpa anak semakin  beragam, mulai dari  pelecehan, perdagangan anak, hingga ancaman jadi pengguna narkoba.

“Masalah-masalah tersebut sangat mengkhawatirkan seluruh pihak. Terutama kalangan orangtua. Sebab anak merupakan generasi penerus bangsa,” kata Fitri pada Niaga.Asia.

Menurut Fitri, tidak semua kekerasan terhadap anak bisa dihitung, karena tidak semua kejadian dilaporkan, tapi dari berita-berita yang bisa dibaca di media, kekerasan itu terus berlangsung.

“Selama ini kan yang pasti kita ketahui itu kalau ada yang melapor atau kita yang mendapati kejadian tersebut secara langsung. Sedangkan kejadian-kejadian yang ada tapi tidak dilaporkan, bisa jadi lebih banyak,” lanjut politisi dari Fraksi PKS itu.

Minimnya laporan yang masuk, dilatar belakangi oleh banyak faktor. Contohnya seperti pelecehan seksual. Masih banyak yang berpikir bahwa kasus tersebut  merugikan. Namun ketika dilaporkan dan diangkat, justru jadi merasa rugi 2 kali.

“Harus dipikirkan pula agar bagaimana pelapor ini mendapatkan perlindungan identitas, namanya tidak dibuka, dan masih banyak lagi. Termasuk memastikan kondisi psikologis mereka juga aman,” bebernya.

Fitri menambahkan, secara psikologis, keluarga korban tentu akan membuat tertekan. Apalagi jika tujuannya untuk menggali info dari korban  terhadap korban.

Memperhatikan hal tersebut, menurut Fitri, perlu sosialisasi  yang intensif agar semua pihak ikut berpartisipasi mencegah kekerasan terhadap anak.

Secara kelembagaan, ada Dinas Kependudukan, Pemberdayaan Perempuan, dan Perlindungan Anak (DKP3A). yang mengurus masalah  kekerasan terhadap anak, termasuk KDRT.

“DKP3A juga perlu menggandeng atau bekerjasama dengan lembaga-lembaga pemerhati anak. Lembaga pemerhati anak juga memiliki kontribusi cukup konkret untuk memberikan pendidikan ke masyarakat dan melakukan pendampingan,” tambah Fitri. (*)

Tag: