Kasus Omicron Terus Naik, Kini jadi 506

Ruang perawatan isolasi Tulip di RSUD AW Sjachranie Samarinda, Februari 2020. Kasus varian Omicron di Indonesia terus merangkak naik namun rata-rata tidak sampai dirawat serius di rumah sakit. (Foto : arsip/Niaga Asia)

JAKARTA.NIAGA.ASIA – Kementerian Kesehatan terus mencatat penambahan konfirmasi Omicron di Indonesia. Hingga Senin (10/1) terjadi penambahan 92 kasus konfirmasi baru, sehingga total konfirmasi Omicron sebanyak 506 kasus.

Penambahan kasus masih didominasi oleh Pelaku Perjalanan Luar Negeri (PPLN), dimana dari 506 kasus konfirmasi Omicron itu, 84 kasus di antaranya merupakan transmisi lokal.

Selain kasus Konfirmasi, angka probable Omicron juga terus mengalami peningkatan. Hingga Senin (10/1), terdeteksi sebanyak 1.384 probable Omicron yang didapatkan dari SGTF.

”Kalau kita perhatikan, juga terlihat peningkatan yang signifikan dari angka kasus harian dimana dari se jumlah 454 menjadi 802, naik hampir dua kali lipat,” kata Juru Bicara Vaksinasi Kementerian Kesehatan dr Siti Nadia Tarmizi, dikutip dari laman Kementerian Kesehatan, Rabu (12/1).

Nadia mengungkapkan, masyarakat harus bersiap menghadapi gelombang Omicron, mengingat karakteristik Omicron yang memiliki tingkat penyebaran yang sangat cepat.

”Jika dilihat dari perkembangannya, konfirmasi omicron cenderung mengalami peningkatan. Dari pemeriksaan SGTF, kasus probable omicron pada PPLN cenderung meningkat, hasil WGS (Whole Genome Sequencing) juga menunjukkan proporsi varian Omicron yang mulai mendominasi,” ujar Nadia.

Namun demikian, dilihat dari tingkat keparahan, mayoritas kasus Omicron tidak menunjukkan gejala atau memiliki gejala ringan. Sehingga tidak membutuhkan perawatan yang serius di rumah sakit. Untuk itu, lanjut Nadia, pihaknya akan menggencarkan telemedicine yang didedikasikan bagi pasien yang melakukan isolasi di rumah.

”Kami bekerjasama dengan 17 platform telemedicine untuk memberikan jasa konsultasi dokter dan jasa pengiriman obat secara gratis bagi pasien COVID-19 yang sedang menjalani isolasi di rumah, agar penanganan pasien dapat dilakukan seluas dan seefektif mungkin,” ucap Nadia.

Selain itu dari sisi teurapetik, Kemenkes juga akan menyertakan penggunaan obat Monulpiravir dan Plaxlovid untuk terapi pasien COVID-19 dengan gejala ringan.

Dari sisi Tracing, tambah Nadia, juga akan dilakukan penemuan kasus aktif dengan meningkatkan tracing menjadi lebih dari 30 per kasus positif. Selain itu juga akan dilakukan pemeriksaan WGS pada level komunitas dengan target 1.700 sampai 2.000 WGS setiap bulannya.

Nadia menambahkan, pemerintah juga memulai vaksinasi booster COVID-19 bagi kelompok usia 18 tahun ke atas, untuk mempertahankan tingkat kekebalan serta memperpanjang masa perlindungan dari COVID-19 termasuk Omicron.

Sumber : Kementerian Kesehatan | Editor : Saud Rosadi

 

Tag: