Sebagian relawan di Samarinda, saat berada di depan Mapolsek Samarinda Ulu, Jalan Ir H Juanda, Jumat (4/10). (Foto : istimewa/ITS)

SAMARINDA.NIAGA.ASIA – Relawan, punya peran besar membantu banyak hal kejadian, peristiwa dan kebencanaan di kota Samarinda. Hati dan jiwa sosial mereka tergerak dengan sigap, untuk membantu sesama yang memerlukan. Baik diminta, maupun tidak. Namun, ada saja warga yang memandang sebelah mata niatan baik relawan itu.

Ada insiden di tengah upaya relawan memadamkan kobaran api, di Jalan Delima, Kamis (3/10) siang kemarin, yang menghanguskan 3 bangunan rumah. Akibat peristiwa itu, seorang relawan diduga dipukul warga. Alasan kerap mengemuka, tetap menyalahkan relawan bergerak lambat untuk memadamkan.

Padahal, Niaga Asia kerap menyaksikan sendiri, kerja keras relawan untuk segera memadamkan api, apapun caranya. Tidak perduli mereka harus menceburkan diri ke parit, untuk mendapatkan sumber air agar segera bisa digunakan memadamkan api.

Kerja relawan penuh risiko, meski memang mereka tetap harus bekerja penuh kehati-hatian, juga demi keselamatan diri mereka sendiri. Namun dorongan jiwa sosial mereka, terus memanggil agar upaya mereka bermanfaat bagi masyarakat. Tujuannya satu, demi kemanusiaan.

Insiden bersinggungan dengan kerja relawan saat kebakaran kemarin, berlanjut hari ini. Warga yang terekam kamera ponsel itu, dihadapkan kepada relawan, di Mapolsek Samarinda Ulu, Jalan Ir H Juanda. Warga itu diketahui bernama Erwin, warga setempat.

Polisi menjadi mediator. Erwin akhirnya meminta maaf secara terbuka, melalui rekaman video berdurasi 28 detik, yang beredar sejak jelang tengah hari tadi. Erwin menyampaikan, agar ulah dia, tidak terjadi lagi di masa mendatang.

Erwin (kemeja putih lengan panjang) saat menyampaikan permintaan maafnya kepada relawan, dengan kepolisian sebagai mediator. (Foto : istimewa/ITS)

“Saya Erwin, yang kemarin melakukan kekerasan terhadap relawan. Dari sini, saya minta maaf sedalam-dalamnya dari hati saya, untuk semua relawan yang ada,” kata Erwin, dalam pernyataannya.

Erwin menjelaskan, apa yang dia lakukan, menjadi pembelajaran utamanya bagi dia sendiri, agar masyarakat lainnya, tidak melakukan hal yang sama, dari yang dia perbuat.

“Untuk masyarakat, jangan pernah melakukannya lagi. Karena ini menjadi contoh buat saya. Biarkan relawan bekerja, beri mereka jalan dan bantu secukupnya. Jangan menyusahkan mereka,” tutup Erwin.

Situasi pagi tadi kembali cair. Dengan kebesaran hati relawan, akhirnya memaafkan ulah Erwin. Diharapkan, kejadian itu tidak terus terulang di masa mendatang.

“Ini menjadi pembelajaran bagi masyarakat lainnya,” kata salah satu koordinator relawan Info Taruna Samarinda (ITS), Joko Iswanto, kepada Niaga Asia, Jumat (4/10).

Menjadi catatan Niaga Asia, selama ini memang relawan terdepan dalam memberikan bantuan kemanusian. Tidak sebatas bencana kebakaran. Bantuan tenaga yang diberikan relawan, mulai dari informasi situasi kamtibmas setiap hari, insiden kecelakaan laku lintas, kebakaran hutan dan lahan, pembersihan drainase.

Selain itu juga membantu warga yang terkena musibah longsor, evakuasi korban banjir, pendistribusian bantuan kebencanaan, bahkan hingga penambalan jalan berlubang meski bersifat sementara, dan banyak lagi bantuan yang bisa mereka berikan bagi warga Samarinda. Padahal, mereka tidak bergaji, dan digaji.

Kebesaran hati relawan yang saat ini tersebar tidak kurang 110 organisasi dan satuan relawan, setidaknya patut ditiru. Namun demikian, yang juga patut diingat, masyarakat mesti sadar diri agar tidak berjubel sekadar menonton di lokasi musibah dan bencana, misal saat kebakaran. Dengan begitu, memudahkan banyak pihak untuk segera memadamkan kobaran api.

Salam relawan Samarinda, salam kemanusiaan! (006)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *