Kena Tempias Hujan, Desain Gedung Baru Pasar Pagi Tidak Perhitungkan Cuaca Ekstrem

Gedung baru Pasar Pagi Samarinda Jalan Jenderal Sudirman. (niaga.asia/Nur Asih Damayanti)

SAMARINDA.NIAGA.ASIA – Bangunan baru Pasar Pagi Samarinda di Jalan Gajah Mada yang baru saja rampung, kini menjadi sorotan. Belum resmi beroperasi sepenuhnya, gedung itu menuai keluhan dari para pedagang, khususnya mereka yang akan menempati kios di lantai 6.

Pada Sabtu 3 Januari 2026 lalu, rembesan dari tempias imbas guyuran hujan deras mengenai kios pedagang di lantai 6, yang masuk di sisi kanan gedung Pasar Pagi senilai lebih dari Rp 400 miliar itu.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Samarinda, Desy Damayanti mengakui dalam perencanaan awal desain bangunan, pihaknya tidak memperhitungkan kemungkinan dinamika cuaca ekstrem yang mungkin terjadi.

“Secara struktur, kami tidak menghitung posisi keadaan ketika hujan disertai angin besar,” kata Desy ditemui di DPRD Samarinda, Jalan Basuki Rahmat, Senin 5 Januari 2026.

Menurut Desy, posisi kanan gedung yang menghadap ke Jalan Pandai itu memang sangat terbuka tanpa ada bangunan penghalang yang berdiri di sekitarnya. Hal inilah yang membuat angin bebas mendorong air hujan masuk ke dalam bangunan pasar.

Kios di lantai 6 gedung baru Pasar Pagi sempat tergenang air imbas hujan deras. (niaga.asia/Nur Asih Damayanti)

Namun berbeda dengan area sisi kiri bangunan Pasar Pagi, banyak bangunan yang berdiri di sebelahnya, sehingga menjadi penghalang angin dan limpasan air.

“Ini memang tidak direncanakan dari awal. Jadi ketika ada angin kencang dari sisi kanan, itu pasti tempias. Itu akan menjadi bahan evaluasi kami kepada tim teknis,” ujar Desy.

Lebih lanjut, Desy merencanakan akan memasang kanopi atau atap tambahan untuk mengatasi masalah itu. Namun demikian, penambahan kanopi harus mempertimbangkan banyak aspek, salah satunya nilai estetika bangunan yang harus dijaga, mengingat bangunan pasar pagi ini merupakan salah satu ikon baru kota Samarinda.

“Jika kita pasang kanopi hanya di satu sisi. Posisinya tidak akan bagus secara estetika dan bangunan terlihat tidak simetris. Kami akan menyampaikan kepada Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD) dan Wali Kota Samarinda Andi Harun. Jika itu dianggap secara estetika bagus, mungkin bisa saja,” jelas Desy.

Sisi kanan bangunan baru Pasar Pagi yang terkena tempias hujan. Bangunan senilai lebih dari Rp 400 miliar ini tidak didesain dengan memperhitungkan cuaca ekstrem. (niaga.asia/Nur Asih Damayanti)

Dijelaskan, pemasangan kanopi ini tidak bisa dipasang berimbang pada kanan kiri gedung, karena aspek sosial menjadi pertimbangan. Dia mengkhawatirkan jika kanopi dipasang di sisi kiri gedung, akan ada konflik akibat limpasan air yang jatuh mengenai bangunan warga yang ada di sebelahnya.

“Selain itu, kanopi berisiko menutup pencahayaan alami ke dalam gedung,” tegasnya.

Untuk itu, Pemkot Samarinda perlu melakukan perencanaan yang matang untuk mencari solusi yang tepat mengatasi permasalah tempiasan air hujan ini.

“Maka kita akan bahas lagi apakah dipasang kanopi seperti itu. Banyak hal yang harus kami pertimbangkan secara matang,” demikian Desy Damayanti.

Penulis: Nur Asih Damayanti | Editor: Saud Rosadi

Tag: