Editorial Niaga.Asia

Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) di akhir tahun 2025 melalui Perubahan APBD 2025 belanja mobil baru untuk Gubernur Kaltim, Rudy Mas’ud, harganya dikabarkan Rp8,5 miliar. Untuk merek mobil yang dibeli, sebetulnya tidak ada penjelasan resmi, baik dari gubernur, Sekdaprov Kaltim, Sri Wahyuni, maupun Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Biro Pengadaan Barang dan Jasa (PBJ) Sekretariat Daerah Provinsi Kaltim, Andi Muhammad Arpan, tapi dari foto yang didapat niaga.asia, mobil yang dimaksud adalah merek Lexus.
Informasi gubernur Kaltim membeli mobil segitu mahalnya ini, kemudian jadi bola liar, menempatkan gubernur Kaltim seperti melawan Presiden Prabowo Subianto yang sejak Januari 2025 mengkampanyekan efisiensi, memangkas belanja pemerintah yang tidak penting, seperti perjalanan dinas, rapat-rapat, bimtek, dan sejenisnya. Presiden Prabowo terlihat hanya membeli mobil baru jenis Maung yang harganya hanya seperempat harga mobil gubernur Kaltim.
Selanjutnya yang terjadi dari pembelian mobil dinas mewah tersebut adalah kekacauan informasi, informasi yang saling tidakberkesesuaian, informasi yang tidak masuk akal, dimana ujungnya gubernur Kaltim yang berlatar belakang pengusaha ini dibully ratusan influencer dan buzzer.
Ratusan influencer dan buzzer yang dipelihara Rudy Mas’ud sejak sebelum Pilgub Kaltim dan di akhir tahun 2025 diberi “gizi” lebih kurang Rp2,7 miliar, dengan rincian dititip di Dinas Pariwisata Kaltim Rp1,7 miliar dan Rp1 miliar dititip di Dinas Kominfo Kaltim, tak berkutik melawan influencer dan buzzer independen dan kritis.
Influencer dan buzzer independen yang kritis datang dari seantero penjuru tanah air, mengolok-olok Rudy Mas’ud karena dalam penjelasannya, membentengi diri dengan mengatakan perlu mobil mewah untuk menjaga maruah Kaltim dan rakyat Kaltim.
Saya sendiri, sebetulnya tidak terkejut ketika wartawan niaga.asia menulis Pemprov Kaltim membeli mobil dinas baru bagi Rudy Mas’ud sebab, terakhir Pemprov Kaltim membeli mobil baru jenis Lexus untuk gubernur sekira tahun 2013, waktu Awang Faroek Ishak menjabat gubernur. Pada era Isran Noor jadi gubernur, Isran tidak membeli mobil dinas baru, dia hanya memakai mobil bekas pakai Awang Faroek.
Sebetulnya yang bikin saya terheran-heran dari pembelian mobil dinas baru ini adalah penjelasan Rudy Mas’ud sendiri. Rudy bilang mobil dinas baru itu ditempatkan di Jakarta dan digunakan untuk melayani tamu-tamu Pemprov Kaltim. Ini terasa aneh sebab, Rudy sehari-hari banyak di Samarinda, kalau pun berada di luar Samarinda, paling banter di Balikpapan, menyambut pejabat yang berkunjung ke IKN Nusantara. Setahu saya yang lebih sering di Jakarta adalah istri Rudy, yakni Sarifah Suraidah, karena tercatat sebagai anggota DPR RI dari Dapil Kaltim di Pemilu 2024.
Apakah APBD Kaltim benar-benar digunakan membeli membeli mobil baru untuk gubernur atau sebetulnya untuk istri gubernur, tentu gubernur dan istrinya yang bisa menjawab.
Penjelasan gubernur yang terakhir terkait keberadaan mobil mewah yang baru dibeli, menjadikan argumen Sekdaprov Kaltim, Sri Wahyuni, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Biro Pengadaan Barang dan Jasa (PBJ) Sekretariat Daerah Provinsi Kaltim, Andi Muhammad Arpan, maupun Ketua DPRD Kaltim, Hasanuddin Mas’ud, seperti tampak sangat konyol, karena mengatakan mobil dinas baru itu akan digunakan Rudy untuk operasional di Kaltim dan melayani tamu-tamu yang berkunjung ke Kaltim, terkhusus ke IKN Nusantara.
Sebelum gubernur dibully influencer dan buzzer independen, sebetulnya yang pertama kali dibully terkait pembelian mobil Lexus ini adalah Sekdaprov Kaltim, Sri Wahyuni, karena menggunakan argumentasi gubernur perlu mobil baru untuk menembus jalan rusak di pedalaman Kaltim, padahal orang bodoh pun tidak akan membawa Lexus baru seharga Rp8,5 miliar ke jalan rusak di pedalaman.
Terakhir, pertanyaan kembali pada urgensi apakah gubernur betul-betul perlu mobil dinas baru super mewah untuk operasional di Jakarta! Jawabnya bisa iya bisa tidak. Jawabnya menjadi perlu, karena sewaktu-waktu gubernur memang dinas di Jakarta, istrinya juga banyak tinggal di Jakarta. Selain itu, di luar kedinasan, Rudy bisa saja “nyambi-nyambi” menjalankan perusahaan yang dirintisnya, walaupun secara formal tidak lagi berada di struktur, atau direksi atau komisaris perusahaan yang didirikannya.
Untuk diketahui, sebelum menjabat sebagai gubernur Rudy, hingga tahun 2018, Rudy masih tercatat sebagai direktur utama dan atau komisaris dari 7 perusahaan antara lain, Barokah Bersaudara Perkasa, PT. Barokah Gemilang Perkasa, PT. Istana Gemilang Perkasa, PT. Mas’ud Bersaudara Internasional, PT. Barokah Agro Perkasa, PT. Cakra Buanamas Utama, PT. Eissu Prima Usaha.
Tag: Rudy Mas'ud