Anggota Komisi IV DPRD Kaltim Puji Setyowati. (Foto : Niaga Asia)

SAMARINDA.NIAGA.ASIA – Anggota Komisi IV DPRD Kaltim dari Fraksi Partai Demokrat, Puji Setyowati, mengomentari banjir yang belakangan ini, kerap melanda Samarinda. Menurut dia, Pemprov dan DPRD Kaltim perlu kembali duduk satu meja.

Puji sendiri, punya pengalaman ikut terjebak di banjir yang merendam Jalan DI Panjaitan, sepulang dari Bandara APT Pranoto, Sabtu (11/1) lalu.

“Kemarin, di hari Sabtu pagi saya juga terjebak genangan air yang cukup dalam. Karena saya dari airport. Sebenarnya saya mengejar pesawat pagi kembali ke Samarinda untuk menghadiri undangan,” kata dia, ditemui di kantornya, kemarin.

Saat itu, Puji bertolak dari Jawa Timur dalam kegiatan kunjungan kerja. Oleh sebab banjir tersebut, perjalanannya harus tertunda hingga sampai 2 jam, untuk pulang ke kediamannya. “Tapi karena genangan air cukup tinggi, yang seharusnya satu jam sampai dari rumah, justru 2 jam baru sampai,” kenang Puji, yang juga istri dari Wali Kota Samarinda Syaharie Jaang itu.

Puji yang juga Dapil Samarinda itu menyebutkan, bahwa banjir saat ini, dipengaruhi oleh cuaca ekstrem, yaitu curah hujan tinggi, mulai wilayah hulu Kaltim. “Tapi, kendati di hulu juga hujan yang menyebabkan sungai meluap, bukan berarti musibah banjir ini dianggap halal,” ujar Puji.

Oleh karenanya, Puji menyebutkan solusinya ialah dengan menyikapi secara bersama antara Pemprov Kaltim dan DPRD Kaltim. “Kita mendesak Pemprov Kaltim, lewat penganggaran di DPRD Kaltim, untuk menganggarkan penuh untuk menormalisasi setiap sungai yang ada di Kaltim,” ungkapnya.

Terkhusus pula yang terjadi di Samarinda, penanganan banjir di wilayah hulu Sungai Mahakam, akan berdampak pula pada normalisasi yang akan dilakukan di Samarinda. “Kalau Samarinda, ibaratnya cekungan. Jika di atas (hulu) Sungai Mahakam tidak dinormalisasi, maka dampaknya akan selalu ke Samarinda,” sebut Puji.

Selain itu, lanjutnya, juga perlu adanya normalisasi sungai besar dan setiap polder, yang ada di setiap daerah. Khususnya lagi di Samarinda, yang sangat perlu diperhatikan.

Kemudian, tidak kalah penting terpenting soal kepedulian pemerintah dan masyarakat, untuk bersama-sama menggerakkan perilaku masyarakat agar lebih baik. “Karena saya lihat di Samarinda sangat minim sekali kepedulian tentang lingkungan,” tandas Puji.

Lebih lanjut, Puji membeberkan bahwa pengentasan banjir yang terjadi di Kaltim, khususnya Samarinda memang sulit ditangani. “Masalah banjir tidak akan pernah selesai. Siapapun pemimpinnya, jika komitmen pemerintah tidak didukung,” tegas dia.

Oleh karena itu, perlu ada kajian dan redesain ulang, sesuai dengan kultur dan kontur, serta kondisi terbaru Samarinda. Pasalnya, menurut dia, saat ini Pemkot hanya berfokus pada wilayah perkotaan. “Padahal banyak fokus yang lebih mendesak dari wilayah lain, tidak hanya di situ,” tutup Puji. (009)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *