Khas Bubur Peca di Masjid Tua Samarinda, Tradisi Budaya Diyakini Bikin Panjang Umur

Ketua Tim Masak Bubur Peca Mardiana yang sedang memasak bumbu untuk bubur peca (niaga.asia/Nur Asih Damayanti)

SAMARINDA.NIAGA.ASIA – Tradisi menyantap bubur peca di Masjid Tua Masjid Shiratal Mustaqim Samarinda Seberang Jalan Pangeran Bendahara, Samarinda Seberang kembali menghidupkan suasana ramadan tahun ini. Sajian khas suku Bugis yang diwariskan turun-temurun itu menjadi daya tarik warga dari berbagai daerah untuk berbuka puasa dan menyantap bubur itu.

Bukan sekadar menu berbuka biasa, warga meyakini santapan berbuka ini adalah rahasia kesehatan hingga obat panjang umur yang hanya muncul setahun sekali.

Sejak pagi, kepulan uap dari kuali raksasa dan aroma rempah, menyeruak dari dapur sederhana di kompleks masjid tertua di Samarinda yang telah berdiri sejak tahun 1881. Terlihat masyarakat setempat tampak cekatan mengolah bumbu dan beras yang dimasak menjadi satu sehingga tercipta suatu makanan bernama Bubur Peca.

Bagi masyarakat suku Bugis yang bermukim di Samarinda Seberang, Bubur Peca bukan sekadar menu berbuka puasa biasa. Sajian yang telah diwariskan turun-temurun selama lebih dari satu abad ini dianggap sebagai identitas budaya, sekaligus perekat sosial.

Setiap Ramadan, bubur tersebut dimasak dan dibagikan secara cuma-cuma kepada jemaah dan pengunjung yang datang dari berbagai daerah. Berbeda dengan bubur ayam pada umumnya, Bubur Peca memiliki karakteristik rasa asin dan gurih yang kuat.

Rahasianya terletak pada kekayaan rempah yang digunakan, mulai dari jahe, kayu manis, pala, kaldu ayam, bawang merah, bawang putih, dan santan kental. Sehingga ketika bubur peca tersebut disantap, perpaduan antara rasa gurih dan tekstur lembut pada bubur menghadirkan kenikmatan yang tiada duanya pada setiap suapan sendok.

Bubur peca yang dimasak tradisional dengan kompor kayu dan bubur peca yang sudah jadi (niaga.asia/Nur Asih Damayanti)

Ketua Tim Masak Bubur Peca, Mardiana, 60 tahun, mengatakan, tradisi menyantap bubur peca setiap tahunnya saat bulan suci Ramadan, sudah berjalan sejak 100 tahun yang lalu.

“Dulu awalnya hanya 3 kilo beras, sekarang sampai 50 kilo beras setiap harinya. Itu setara dengan dua karung beras,” kata Diana —sapaan akrab Mardiana– ditemui di sela kesibukannya mengaduk bumbu, Sabtu 21 Februari 2026.

Diana sendiri telah menekuni peran sebagai juru masak utama bubur peca selama 20 tahun, mewarisi kemahiran memasak dari ibunya yang telah meninggal.

Meski memiliki 7 anak dan 18 cucu, Diana mengaku belum menemukan penerus yang benar-benar pas untuk meracik bumbu tersebut.

“Sejauh ini baru saya yang tahu takaran bumbu dan garamnya agar pas. Pelan-pelan saya ajarkan ke masyarakat, tapi mereka belum berani masak untuk orang banyak. Jadi, saya masih bertahan memasak di sini,” ujar Diana.

Setiap hari selama bulan Ramadan, Diana bersama enam anggota timnya berjibaku di dapur sejak pukul 08.00 Wita. Mereka menyiapkan sekitar 500 porsi bubur.

Sebanyak 300 porsi disediakan bagi jamaah yang berbuka puasa di masjid, sementara 200 porsi sisanya didistribusikan ke rumah-rumah warga.

“Alhamdulilah sejak dulu semua generasi baik anak-anak hingga dewasa dan orang tua menyukai makan bubur peca ini biar setiap hari. Saya sampai bilang gak bosan kah hari-hari? Kata mereka tidak,” ucapnya.

Untuk menambah kenikmatan, Bubur Peca disajikan dengan lauk yang berganti setiap hari, mulai dari telur, ayam, hingga udang. Seluruh biaya operasional berasal dari sumbangan sukarela masyarakat setempat.

Bubur Peca ini hanya tersedia di bulan Ramadan. (niaga.asia/Nur Asih Damayanti)

“Untuk modal sendiri berasal dari sumbangan masyarakat setempat, kita melakukan ini agar warisan tradisi setiap Ramadan ini tetap hidup,” tambahnya.

Popularitas Bubur Peca rupanya telah menembus batas wilayah. Tak hanya warga Samarinda, pengunjung dari Balikpapan, Banjar, bahkan Madura sengaja datang untuk mencicipi bubur yang hanya muncul dan tersedia saat Ramadan.

“Masyarakat banyak yang bilang ini obat penyakit maag dan bisa bikin panjang umur. Mungkin karena kemunculannya yang istimewa, hanya ada setahun sekali, jadi orang-orang panjang usianya bisa ketemu bubur ini di bulan Ramadan berikutnya,” ujarnya.

Konsisten dengan rasa asin dan gurih, Bubur Peca tetap teguh pada jati dirinya. Teksturnya yang lembut berpadu sempurna dengan rempah-rempah yang meresap hingga ke tiap bulir beras, menciptakan sensasi gurih yang sulit dilupakan.

“Ada juga yang menyarankan jika dibuat manis, namun tidak bisa karena sudah menjadi ciri khas-nya menyantap bubur peca ini rasa asin,” demikian Mardiana.

Penulis: Nur Asih Damayanti | Editor: Saud Rosadi

Tag: