Meski berumur 1,5 tahun, pertumbuhannya tidak selayaknya anak seusianya (foto : istimewa)

NUNUKAN.NIAGA.ASIA – Lahir dari pasangan Halim (40) dan Jusniati (40), balita berusia 18 bulan bernama Nurfatiha tumbuh dalam keterbatasan, tidak seperti balita lain seusianya, yang mulai merangkak, berjalan kaki ataupun berbicara dalam bahasa anak sewajarnya.

Keterbatasan ekonomi menjadi alasan orang tuanya, kesulitan memberikan kehidupan yang layak. Penghasilan sebagai buruh bangunan yang tidak pasti, membuat Halim pasrah dengan keadaan. Yang dilakukan, hanya sesekali memeriksaan kesehatan buah hatinya ke Puskesmas terdekat.

“Belum bisa jalan, belum bisa berbicara. Kalau makan sedikit-sedikit, itupun dimuntahkan lagi,” kata Halim, dalam perbincangan Selasa (8/10).

Halim dan Jusniati tercatat sebagai warga jalan TVRI RT 8, Sei Pancang, Kecamatan Sebatik Timur, Kabupaten Nunukan. Pasangan suami istri itu, sehari-harinya menghuni rumah kecil berdinding kayu dan seng. Di sanalah mereka hidup bersama 9 orang anak yang masih kecil-kecil.

Sejak lahir, Nurfatiha memiliki berat badan di bawah rata-rata normal. Kedua orang tuanya hanya mampu memberikan asupan susu kaleng, yang semestinya bukan untuk dikonsumsi balita. Sebab, susu kaleng tanpa kandungan nutrisi, Klorida, vitamin, kalsium korbanat dan DHA, untuk pertumbuhan balita.

“Penghasilan serabutan begini, pernah beli susu SGM. Tapi kadang tidak terbeli, lama-lama beli susu kaleng campuran minum teh,” bebernya.

Upaya mencari kesembuhan anaknya selalu terganjal biaya pengobatan. Keluarga tidak mampu itu, hanya mampu ke Puskesmas dan sesekali ke orang pintar atau dukun. Bersyukur, ada sedikit perkembangan kesehatan Nurfatiha.

Namun, untuk pengobatan lebuh lanjut, Halim disarankan petugas Puskesmas agar membuat kartu BPJS. Melalui kartu itulah, Nurfatiha bisa diberikan pengobatan lebih baik, di bawah pengawasan dokter-dokter rumah sakit umum.

Rumah tinggal balita Nurfatiha bersama kedua orangtuanya di Sebatik Timur. (Foto : istimewa)

“Saya disuruh bikin BPJS dulu, nanti Puskesmas Sebatik bikin rujukan ke RSUD Sei Fatmah Nunukan,” sebutnya.

Untuk meringankan bebannya, Halim dibantu warga Sebatik membuat postingan di akun Facebook ‘Kahar JSM’ yang isinya mohon bantuan buat pemerintah setempat, memberikan perhatian kepada adik Nurfatiha karena tidak bisa berjalan, meski sudah berumur 1 tahun 6 bulan.

Akun media sosial juga menuliskan, Nurfatiha belum bisa berbicara, hanya menangis dan tidak bisa makan nasi. Selain itu, jika makan, kemudian dimuntahkan kembali. Sebab, Nurfatiha, hanya bisa minum susu. Semoga ada yang ingin memberikan bantuan kepada adik Nurfatiha. Demikian unggahan di akun itu.

Sejak tersebar di media sosial, Halim kedatangan beberapa orang yang bersimpatik memberikan bantuan atas keadaan Nurfatiha. Akun Facebook Kahar JSM, juga mendapat banyak komentar pertanyaan dari netizen.

“Alhamudulilah ada datang Kapolsek Sebatik Timur sama Pak Kades Sei Pancang. Ada juga warga-warga bersimpatik melihat dan datang ke rumah,” ungkap Halim. (002)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *