
TENGGARONG.NIAGA.ASIA – Kawasan Mangkurawang, sekitaran Masjid Jami’ KH Muhammad Sadjid, setiap Ramadan selalu dipadati lapak penjual takjil. Deretan meja sederhana berjajar di tepi jalan, menawarkan aneka hidangan berbuka.
Di antara banyaknya pedagang musiman, satu lapak yang telah bertahan sejak awal 2000-an tetap konsisten menghadirkan kue khas Kutai sebagai daya tarik utama.
Lapak sederhana tanpa nama yang kini berada di depan Gang 3 Mangkurawang itu dikelola oleh lima orang sahabat. Mereka adalah generasi ketiga yang meneruskan tradisi berjualan setiap Ramadan, yang berawal dari Ikatan Remaja Masjid Jami’ KH Muhammad Sadjid.
“Yang paling dicari itu kue potong khas Kutai,” ungkap salah satu penjaga lapak perempuan berusia 20 tahun bernama Wawa, Jumat (27/2/2026).
Di atas meja tersusun rapi beraneka ragam kue tradisional seperti podang kentang, kayu apu, bingka tunu gula merah dan putri selat dengan lapisan ketan di bagian bawah, puding busa zebra, hingga kue dengan nama unik ‘Jenderal Mabok’. Nama yang kerap membuat para pembeli tersenyum penasaran.
“Kalau Jenderal Mabok itu memang khas Kutai banget. Orang sini pasti tahu,” katanya.

Bagi lima sahabat ini, Ramadan bukan hanya sekadar momen mencari keuntungan, tetapi juga menjaga identitas rasa. Kue-kue tersebut bukan pengganjal lapar saat azan magrib saja, melainkan bagian dari tradisi turun-temurun masyarakat Kutai.
Kendati begitu, Wawa merasa di era saat ini banyak pesaing bermunculan. Pasar Ramadan pun bermunculan di berbagai titik, termasuk di kawasan Tangga Arung Square. Bahkan lanjut dia, hampir di setiap ruas jalan di Kecamatan Tenggarong, warga bisa menemukan penjual takjil. Namun konsistensi membuat mereka tetap bertahan di tengah gempuran tersebut.
“Sekarang banyak penjual daripada pembeli, sekarang siapa saja bisa jualan,” ucapnya.
Lapak lima orang sahabat ini menerapkan sistem titip jual dengan keuntungan tipis, sekitar Rp500 hingga Rp1.000 per potong kue basah/gorengan/es buah. Meski margin kecil, banyak penitip yang berlangganan dari tahun ke tahun dan masih tetap mempercayakan dagangannya kepada mereka.
Harga kue basah dijual Rp8.000–Rp10.000, gorengan Rp2.000, sementara es buah jadul Rp5.000 hingga Rp8.000. Dari keuntungan itu, mereka membayar sewa lapak sekitar Rp500 ribu per bulan, menggaji penjaga, sekaligus memutar kembali modal.
“Enggak bisa mahal-mahal, kasihan yang beli,” jelasnya.

Lapak di depan Gang 3 jalan AM Sangaji ini buka mulai pukul 13.00 hingga menjelang magrib. Hari-hari awal Ramadan biasanya paling ramai. Namun memasuki pertengahan hingga akhir bulan beber Wawa, biasanya jumlah penitip dan pembeli mulai menurun.
“Dari 40 orang penitip di awal Ramadan, bisa berkurang menjadi 20 orang menjelang akhir bulan,” terangnya.
Dari Remaja Masjid ke Usaha Mandiri
Ia juga menceritakan historis lapak ini yang bermula dari pertemanan di Ikatan Remaja Masjid Jami’ KH Muhammad Sadjid. Awalnya aktivitas jualan berada di bawah tanggung jawab masjid, namun kini dikelola secara mandiri.

Sebagian anggota sudah berkeluarga, ada yang sibuk kuliah dan menikah, tetapi tradisi ini tetap berjalan. Jadwal jaga diatur bergiliran selama satu bulan penuh.
Bagi Wawa, yang sudah ikut sejak SMP dan kini telah menikah di usia 20 tahun, lapak ini bukan sekadar tempat berdagang. Tetapi juga untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari selama Ramadan.
“Tujuan awalnya cari uang, tapi juga biar ada kegiatan. Ini kegiatan cewek-cewek waktu Ramadan,” tuturnya.
Di tengah kondisi ekonomi yang dirasa tak semudah dulu, lima sahabat ini tetap optimis. Selama kue khas Kutai seperti bingka tunu dan Jenderal Mabok masih diminati, Pasar Ramadan Mangkurawang diyakini akan terus hidup.
“Insyaallah setiap tahun kita buka. Sampai ada penerus lagi,” pungkasnya.
Penulis: Lydia Apriliani | Editor: Intoniswan
Tag: Kuliner