
SAMARINDA.NIAGA.ASIA — Hidup sebatang kara, kalimat itu yang dirasakan Muhammad Amin saat istri dan kedua orang tuanya meninggal dunia, hingga dia memilih untuk menghabiskan masa tuanya di Panti Sosial Tresna Werdha Nirwana Puri di Jalan Mayjend Sutoyo (eks Jalan Remaja), Samarinda, yang dikelola Dinas Sosial Provinsi Kalimantan Timur.
Siang itu, matahari tepat berada di atas kepala saat jarum jam menunjukkan pukul 11.00 Wita, Sabtu 10 Januari 2026. Suasana panti terasa hening dan tenang, wartawati niaga.asia melihat lebih dekat aktivitas para Lansia ini di panti sosial itu.
Para Lansia ini sebagian besar merupakan Lansia terlantar dari berbagai daerah di Kaltim, yang tidak lagi memiliki keluarga.
Dibandingkan di luar, di panti sosial ini kehidupan para Lansia lebih terjamin. Mereka mendapatkan tempat tidur yang layak, makan tiga kali sehari, serta hidup layak dan terurus. Hal inilah menjadi alasan utama para lansia itu memutuskan untuk tinggal di panti ini.
Saat itu, sorot mata tertuju pada seorang pria Lansia berkaos putih sambil duduk termenung dengan tatapan kosong di atas sofa. Dia adalah Muhammad Amin, berusia 75 tahun.
Amin menceritakan alasan memilih tinggal di Panti Sosial sejak 2022 lalu. Kisah ini berawal setelah dia melalui perjalanan hidup yang panjang dan penuh cobaan.
Kisah pilu Amin bermula jauh di masa muda. Dia kehilangan pendamping hidupnya pada medio 1970-an. Sang istri wafat akibat penyakit beri-beri, yang disebabkan kekurangan vitamin B, sehingga membuat kaki sang istti membengkak hingga merenggut nyawanya.
“Istri saya sudah meninggal, anak juga tidak ada,” kata Amin lirih dengan suara yang sedikit bergetar, mengawali perbincangan bersama niaga.asia.
Untuk keluarga inti sendiri, Amin sejatinya memiliki seorang adik. Namun demikian sang adik juga telah berpulang di usia delapan tahun. Selain itu, kedua orang tuanya pun telah lama tiada.

Meski sempat ditawari tinggal bersama kerabat ibunya di Banjarbaru, Kalimantan Selatan, Amin memilih jalan lain karena tidak ingin menjadi beban.
“Sempat ditawari tinggal sama saudara ibu, cuma kasihan juga anaknya banyak. Jadi saya memilih merantau ke Balikpapan,” kenangnya.
Tahun 1986, dengan harapan baru, pria asal Banjarmasin Kalimantan Selatan itu menginjakkan kaki di kota Balikpapan.
Dia sempat berkerja sebagai surveyor minyak, sebelum akhirnya tergerus usia dan harus bertahan hidup, dengan bekerja sebagai tenaga bantuan (helper) bangunan lepas, hingga penjaga kios helm di 2022 lalu.
Tempat tinggalnya sendiri, awalnya Amin memilih indekos di Jalan Borobudur Muara Rapak, Balikpapan Utara. Namun saat itu dia bertemu dengan teman seperjuangannya waktu bekerja sebagai surveyor minyak. Temannya itu lantas menawarinya untuk tinggal di Warung Pojok Penjualan Togel secara gratis.
“Saat itu saya mikir dari pada bayar kos, saya balik ke warung pojok togel setelah tutup kios helm, jam 3 sore. Saya bantu-bantu nyapu juga di warung pojok situ. Tapi saya nggak sendiri, ada banyak yang tinggal di situ juga,” terang Amin.
Meski gratis, ternyata keputusan Amin memilih tidur di salah satu lokasi praktik judi togel di Balikpapan itu membawa Amin pada situasi pelik.
Amin mengingat betul saat itu dia terjaring operasi penertiban Satpol PP. Dia.yang sudah renta tentu tidak mampu kabur dari kegiatan penertiban saat itu.
“Waktu semua lari, hanya saya yang tertangkap dan dibawa ke kantor. Petugas bilang tidak boleh tidur di sana karena rawan, sering ada orang mabuk dan pertikaian,” ungkap Amin mengingat kejadian itu.

Saat itu Amin diperingatkan untuk tidak boleh tinggal menetap di warung perjudian tersebut. Alasannya, dikhawatirkan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
Setelah di lepaskan, Amin ternyata kembali untuk tinggal di warung tersebut. Sampai pada akhirnya, dia kembali terjaring razia Satpol PP untuk kedua kalinya di lokasi yang sama.
“Terus petugas marah, jangan di sini katanya. Saya diminta bawa keluarkan tas dan pakaian. Terus saya dibawa ke rumah singgah penampungan sementara Dinas Sosial Balikpapan dan tinggal di sana selama sebulan sepuluh hari, kemudian akhirnya dibawa ke Panti Sosial Tresna Werdha Nirwana Puri ini,” jelas Amin.
“Tapi sebenarnya bisa menolak. Cuma karena tidak ada keluarga lagi, saya mengiyakan. Besoknya ada empat orang dari Samarinda datang menjemput,” tambahnya lagi.
Kepindahan dia dari Balilpapan yang awalnya tidak dia rencanakan, sekarang ini sangat Amin syukuri. Di panti ini, Amin tidak lagi merasa sendiri. Hidupnya kini jauh lebih teratur, dibandingkan saat dia harus berpindah-pindah tempat tinggal di Balikpapan. Dalam satu wisma di panti sosial saat ini, Amin berbagi ruang dengan delapan rekan sebaya yang juga bernasib sama.
“”Mandi dan tidur terawat, makan tiga kali sehari. Klinik juga ada. Kalau sakitnya parah, dibawa ke rumah sakit,” kata Amin di akhir perbincangan.
Hari-hari Amin kini diisi dengan berbagai aktivitas spiritual dan kesehatan. Setiap Selasa dia mengikuti kegiatan Salawat, Kamis membaca Yasin, sementara Rabu dan Sabtu diisi dengan senam Lansia. Sedangkan di hari Minggu digunakan untuk beristirahat. Pun di sela-sela kesibukannya itu, Amin juga rutin mengaji.
Bagi Muhammad Amin, panti sosial bukan sekadar tempat penampungan bagi Lansia terlantar. Di tengah hilangnya sanak saudara dan sisa tenaga yang kian menipis, tempat ini adalah keluarga yang memberikan kehangatan yang sempat hilang dari hidupnya.
Di panti sosial saat ini, Amin tidak lagi harus berlari dari razia hanya untuk menumpang tidur. Lebih dari itu, dia mendapatkan ketenangan untuk melanjutkan hidup di masa tuanya.
Penulis: Nur Asih Damayanti | Editor: Saud Rosadi
Tag: KaltimLansiaPanti SosialSamarinda