Kisah Pilu Anak di Samarinda, Direkrut Bandar Sabu Sampai Nyaris Lupa Ingatan

Tersangka anak melihat lebih dekat sabu yang dimusnahkan menggunakan blender, Kamis (28/1). (Foto : Niaga Asia)

SAMARINDA.NIAGA.ASIA – BNN Provinsi Kaltim menangkap anak bawah umur usia 16 tahun, sebagai pengedar sabu. Kisahnya pilu. Selain jadi pengguna sabu, dia juga sudah menjual barang haram itu kepada banyak orang. Sampai 100 poket per hari terjual habis.

Anak itu, Kamis (28/1) siang kemarin, dihadirkan BNN untuk memusnahkan sendiri 48 poket sabu, dengan berat kotor 14,49 gram sabu. Kepalanya plontos, mengenakan seragam tahanan BNNP Kaltim, dan bercelana pendek hitam motif bintik putih.

Anak laki-laki bermata sayu itu lebih sering menunduk. Terlebih lagi, saat petugas memasukkan sabu ke dalam blender berisi air, yang kemudian dihancur mesin blender hingga benar-benar larut dalam air. Anak itu pun, membuang sabu yang larut dalam air itu dari ember, ke dalam kloset.

Keterangan diperoleh Niaga Asia, anak itu ditangkap di kawasan Jalan Kahoi, saat jualan serbuk kristal itu. Dia kerap berpindah-pindah. Sebelumnya, dia diduga menjual sabu di kawasan Pasar Segiri.

Berita terkait :

Jualan Sabu di Pasar, Anak Dibawah Umur Diupah Rp10 Ribu per Poket

“Karena di Pasar Segiri itu sering dirazia, makanya dia pindah ke kawasan itu (Jalan Kahoi),” kata salah seorang petugas BNN Kaltim, dalam perbincangan, Kamis (28/1).

Petugas saat itu sedikit terkejut, lantaran yang mereka amankan, masih berusia anak bawah umur. Tidak ada identitas apapun. Anak itu hanya mengingat namanya saja.

“Seperti lupa ingatan. Dia tidak tahu kapan tanggal lahirnya, dimana orangtuanya, berapa usianya. Dia cuma tahu namanya, dan dia mengaku juga menggunakan sabu itu,” sebut petugas itu menambahkan.

Kasi Penyidikan BNN Provinsi Kaltim Kompol Made Suka Jana menjelaskan, untuk mengungkap usia sang anak itu, akhirnya menggunakan jasa ahli.

Tidak menutup kemungkinan ada anak lainnya yang direkrut bandar untuk menjual sabu. (Foto : Niaga Asia)

“Usianya 16 tahun, masih di bawah umur,” ujar Made saat itu.

Made tidak menampik, ada dugaan pergeseran pola bandar merekrut pengedar sabu dari kalangan anak. Dengan fakta itu, tidak menutup kemungkinan, ada anak lainnya di Samarinda, yang dipekerjakan bandar sabu untuk mendulang rupiah dari anak-anak sebagai pengecer sabu.

“Ini trik bandar, mereka menggunakan anak di bawah umur. Kemungkinan pertama, bayaran murah untuk anak. Kedua, dianggap dari segi hukum, kan beda pola sidangnya dengan putusannya,” ujar Made.

Kendati demikian, penanganan anak itu, tentu berbeda dengan tersangka yang berusia dewasa, yakni menggunakan pendampingan petugas Balai Pemasyarakatan (Bapas) Samarinda. “Kami sedang kejar bandarnya bersama dengan Polresta Samarinda,” pungkas Made. (006)

Tag: