
SAMARINDA.NIAGA.ASIA – Matahari pagi mulai menyengat di kawasan Gelora Kadrie Oening Sempaja, Samarinda, Minggu 1 Februari 2026. Di tengah keriuhan warga Samarinda berolahraga dan berburu kuliner, sebuah lapak kecil menyita perhatian. Bukan karena warna-warninya yang mencolok, melainkan karena deretan jam tangan dan aksesoris fesyen yang autentik berbahan dasar kayu Kalimantan
Di tengah serbuan produk fesyen berbahan sintetis, seorang pengusaha muda asal Samarinda, Iendy Zelviean Adhari memilih untuk membuat aksesoris dari bahan alam lokal yakni aksesoris berbahan dasar kayu endemik Kalimantan Ulin dan Menggeris.
Kedua jenis kayu itu sulit ditemukan di luar Kalimantan dan tidak umum digunakan oleh para pengrajin karena tekstur kayunya yang keras.
Namun di tangan pengrajin muda Kaltim ini, kedua kayu itu berhasil disulap menjadi beragam produk aksesoris eksklusif dan menarik seperti jam tangan, pelindung handphone atau softcase, kacamata, hingga tali jam tangan yang bernilai jual tinggi.
Bermerek Menggeris, produk buatannya itu kini telah menjangkau kolektor di empat negara, yakni Dubai Uni Emirat Arab, California Amerika Serikat, Malaysia, dan Singapura.

Founder Menggeris, Iendy Zelviean Adhari menceritakan bagaimana awal mula dia mendapatkan ide membuat aksesoris fesyen dari kayu endemik Kalimantan muncul.
Perjalanan Iendy tidak dimulai secara instan. Dia menghabiskan waktu tiga tahun pascapandemi COVID-19 untuk melakukan riset mendalam. Fokusnya satu, menciptakan produk yang berkelanjutan dengan memanfaatkan kelangkaan material lokal.
“Kami memilih kayu Kalimantan karena bahan ini langka dan tidak mudah ditemukan di daerah lain. Membangun bisnis harus memiliki pembeda agar bisa bertahan lama,” kata Iendy, ditemui niaga.asia di sela kesibukannya di kawasan Gelora Kadrie Oening Sempaja, Jalan kH Wahid Hasyim, Samarinda.
Usahanya resmi berproduksi sejak 2023 dan mendapatkan legalitas pada 2024. Iendy sengaja membelah pasarnya menjadi dua merek, bernama Menggeris dan Legam.

Penamaan Menggeris hadir untuk menyasar pasar menengah ke atas dengan harga jam tangan mulai Rp1 juta, kacamata Rp2 juta, dan pelindung Ponsel seharga Rp400 ribu Sementara Legam, hadir untuk menjangkau pasar menengah ke bawah dengan rentang harga Rp400 ribu hingga Rp500 ribu.
Perbedaan utama produk ini dibandingkan kompetitor dari luar daerah terletak pada daya tahan materialnya. Sebab selama ini, pasar jam kayu nasional didominasi oleh perajin dari Pulau Jawa yang banyak menggunakan kayu maple atau sonokeling.
Secara teknis, jam tangan dan produk aksesoris lainnya berbahan kayu ulin dan menggeris memiliki tingkat ketahanan dan kekuatan yang jauh melampaui kayu dari Jawa. Karakteristik kayu yang keras dan kokoh ini membuat proses produksinya jauh lebih menantang.

“Tidak semua orang bisa mengolahnya. Kayu Kalimantan ini sangat keras, berbeda dengan kayu di Jawa yang lebih empuk. Namun hasilnya, produk kami sangat tahan lama, tidak mudah lecet, dan tidak akan retak meski di cuaca tropis,” jelas Iendy.
Untuk memberikan rasa aman kepada pembeli, Setiap aksesoris khususnya jam tangan produksinya dibekali garansi enam bulan untuk mesin, dan satu tahun untuk badan kayu. Iendy juga membuka layanan pesanan khusus untuk tamu VIP maupun suvenir perusahaan yang ingin menyematkan logo tertentu.
Meski menggunakan kayu hutan, Iendy memastikan usahanya tetap taat hukum dan sesuai ketentuan. Kedua merek tersebut telah memiliki Sertifikat Legalitas Kayu (S-LK). Selain itu, bahan baku juga diperoleh secara resmi dari pengepul di wilayah Kutai Kartanegara.
Sertifikasi inilah yang menjadi “paspor” bagi produk Iendy untuk menembus pasar internasional. Konsumen dari Dubai hingga California tidak hanya membeli desain, tetapi juga menghargai keabsahan sumber daya alam yang digunakan.

Ketekunan ini membuahkan hasil yang manis secara ekonomi. Di bulan biasa, Iendy bisa meraup omzet sekitar Rp6 juta. Namun, angka itu melonjak drastis hingga Rp40 juta per bulan saat dia mengikuti ajang pameran besar. Bagi masyarakat yang ingin membeli produk aksesoris tersebut dapat mengunjungi Instagram @menggeris_official.
“Karena satuannya sudah Rp400 ribu dan kacamata Rp2 juta. Jadi kita jual 10 aja dalam satu bulan bisa meng-cover. Kita ramainya biasa kalau ada event bisa tembus Rp40 juta sebulan,” demikian Iendy Zelviean Adhari.
Penulis: Nur Asih Damayanti | Editor: Saud Rosadi
Tag: KaltimKerajinanKisah Inspiratif