Kisah Sukses PMI di Malaysia, Sempat Terjebak Bisnis Rokok Ilegal

Aris duduk di warung sekitar penampung Rusunawa Nunukan menghabiskan waktu karantina sebelum dipulangkan ke kampung (Foto: Budi Anshori/niaga.asia)

NUNUKAN.NIAGA.ASIA – Aris (73) seorang kakek asal Kabupaten Soppeng, Sulawesi Selatan ini bisa dikatakan Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang sukses bekerja di Malaysia. Penghasilannya bisa mencapai ribuan ringgit Malaysia (RM) setiap bulannya.

Aris masuk ke Malaysia sekitar tahun 1982 atau 47 tahun lalu. Dalam kesehariannya, kakek yang masih terlihat bugar ini bekerja sebagai sopir truk dan operator alat berat di salah satu perusahaan wilayah Kunak, Sabah, Malaysia.

Memasuki awal tahun 2022, Aris mengajukan pendaftaran ke Konsulat RI di Tawau untuk dipulangkan ke tanah air, karena masa berlaku paspor berikut kontrak kerja dengan perusahaan telah habis (stranded).

“Saya sampai di Nunukan kemarin bersama 151 PMI dan WNI. Sekarang diinapkan di rumah penampungan Karantina Rusunawa,” kata Aris dalam perbincangan bersama niaga.asia, Kamis.

Persoalan lockdown akibat pandemi di Malaysia menjadi alasan Aris tertunda untuk dipulangkan ke tanah air. Namun eks PMI ini tetap bersyukur bisa pulang kampung dengan selamat tanpa menjalani hukuman tahanan layaknya PMI deportasi yang tertangkap di negeri jiran itu.

Selama bekerja di Malaysia, Aris mengaku telah beberapa kali mengirimkan uang penghasilannya ke keluarga di kampung halaman. Terkadang 10.000 Ringgit Malaysia atau setara Rp 34 juta.

“Sering saya kirim uang ke kampung, katanya keluarga di sana buat beli tanah, bangun rumah walet dan bangun rumah dan membeli aset lainnya,” ujar dia.

Bisnis Rokok Ilegal

Selain bekerja di perusahaan kelapa sawit, Aris menciptakan kerja sampingan membangun kedai runcit atau warung. Hal itu dilakukannya sejak pemberlakuan lockdown oleh pemerintah Malaysia, di mana aktivitas kerja mulai dibatasi.

Berkat pengalaman dan luasnya pergaulan, Aris mendapat pekerjaan dari para supplier sembako dan rokok, warung runcit yang baru dibangunya berubah menjadi tempat penitipan rokok tanpa cukai yang beredar di Malaysia.

“Toko rokok di Malaysia titipkan rokok tanpa cukai di warung saya untuk dijual di lingkungan perkebunan. Pokoknya laris jualan itu,” ujar dia.

Bisnis haram rokok ilegal digeluti selama dua tahun membuatnya meraup keuntungan besar tiap bulannya. Namun siapa sangka usaha inilah yang akhirnya membawa Aris sempat berurusan dengan aparat Custom (Bea Cukai) Malaysia.

Aris menjadi target operasi perdagangan rokok rokok tanpa cukai yang nilai barang hasil temuan di warungnya mencapai 10.000 Ringgit. Meski semua rokok yang dia jual akhirnya disita oleh aparat, beruntung Aris tidak dihukum atas pelanggaran itu.

“Diambil semua rokoknya, saya juga diberi peringatan. Syukurlah tidak ditahan. Akhirnya saya kembali menekuni bisnis sembako di warung,” bebernya.

Bangga jadi WNI

Meski lebih 40 tahun berada di Malaysia, Aris nyatanya memiliki rasa kebanggaan sebagai warga Indonesia. Rasa bangganya itu ditunjukkan dengan selalu menonton siaran berlangganan Astro yang menayangkan tentang Indonesia dan perjuangan Indonesia.

“Saya pernah menonton pidato Sukarno dan kebijakan Presiden pertama kita, ada rasa kebanggaan di hati. Meski berada di perantauan,” katanya.

Nilai-nilai nasionalisme tetap tertanam di hatinya. Kecintaan terhadap Indonesia dan tanah air selalu menggugah hatinya untuk berusaha maju dan bisa menghasilkan uang sebanyak mungkin untuk keluarga di kampung halaman.

Baginya tidak masalah menghabiskan masa muda dan tuanya di negeri jiran. Menurutnya selama hal itu bermanfaat bagi keluarga dan orang lain, kenapa harus menyesali nasib menjadi PMI puluhan tahun.

“Kelamaan di Malaysia logat bicara mirip warga Malaysia. Tapi bahasa Indonesia dan bahasa daerah tetap ingat. Saya masih mengingat masa kecil di kampung,” pungkasnya.

Penulis : Budi Anshori | Editor : Rachmat Rolau

Tag: