
BALIKPAPAN.NIAGA.ASIA – Puncak peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-129 Kota Balikpapan akan diwarnai pertunjukan seni budaya bertajuk tari massal Nusantara.
Pemerintah Kota Balikpapan melalui Dinas Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar) saat ini tengah mematangkan seluruh persiapan, jelang penampilan yang dijadwalkan berlangsung di Balai Kota Balikpapan pada 10 Februari 2026.
Pertunjukan tersebut melibatkan sekitar 10 sanggar seni lokal yang berkolaborasi dalam satu panggung.
Sejumlah sanggar yang ambil bagian di antaranya AW Studio, Jali-Jali Enterprise, Matida Entertainment, Mawar Dance Company, Serumpun 5, Yayasan Mukriya, Kerubut Ratu Fashion, Jenebora, serta dukungan pelajar SMP Negeri 1 Balikpapan sebagai keluarga tari.
Kepala Disporapar Kota Balikpapan, Ratih Kusuma menyebutkan total penari yang akan tampil mencapai kurang lebih 50 orang, yang berasal dari latar belakang seni yang beragam, mencerminkan kekayaan budaya sekaligus semangat kebersamaan warga kota.
“Kolaborasi para penari dari berbagai sanggar ini menjadi representasi harmoni Balikpapan yang dibangun dari keberagaman,” kata Ratih, Senin 2 Februari 2026.
Diterangkan, konsep tari massal pada perayaan HUT tahun ini dirancang berbeda dibanding tahun-tahun sebelumnya. Mengacu pada hasil audiensi dengan Wali Kota Balikpapan, pertunjukan akan menonjolkan ragam tarian khas Kalimantan yang dirangkai secara tematik dalam satu sajian.
Beberapa tarian yang akan ditampilkan antara lain tari Dayak, tari Melayu, tari Diapin, tari pesisir, tari Deling dari Berau, hingga tari perang.
Seluruh unsur tersebut disatukan dalam tema besar HUT Kota Balikpapan tahun ini, yakni
‘Satu Harmoni Balikpapan’.
“Tema ini kami wujudkan melalui perpaduan tarian Nusantara yang tampil serasi dalam satu panggung, mencerminkan Balikpapan sebagai kota yang rukun dan inklusif,” ujar Ratih.
Sebagai penutup, pertunjukan tari massal akan menghadirkan Tarian Aceh. Menurut Ratih, pemilihan tarian tersebut bukan tanpa alasan, melainkan sarat makna kemanusiaan dan empati.
“Tarian Aceh kami pilih sebagai simbol doa dan solidaritas untuk masyarakat Aceh serta wilayah di Pulau Sumatera yang pernah mengalami bencana. Seni menjadi media untuk menyampaikan kepedulian dan harapan,” ungkapnya.
Ratih menegaskan, peringatan hari jadi kota tidak hanya menjadi ajang perayaan, tetapi juga momentum memperkuat rasa memiliki dan persatuan melalui seni budaya.
“Mencintai kota berarti menjaga harmoni, menghargai perbedaan, dan bergerak bersama dalam satu irama. Lewat seni, Balikpapan merajut kebersamaan,” pungkasnya.
Penulis: Heri | Editor: Saud Rosadi
Tag: BalikpapanHUT Kota Balikpapan