AA

Bagian dalam kolam pemandian Putra Tunggal Sebatik

NUNUKAN.NIAGA.ASIA-Paska musibah bocah 5 tahun pengunjung lokasi pemandian wisata Aiman atau “Putra Tunggal” yang tenggelam dan meninggal dunia pada, Minggu (09/06) lalu, tempat hiburan masyarakat di pulau Sebatik dipersoalkan karena beroperasi tanpa izin wisata.

Kebenaran beroperasi tanpa izin wisata ini dibenarkan oleh Kantor Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) Nunukan yang menyatakan wisata pemandian milik pengusaha asal Sebatik itu hanya dibekali izin mendidikan bangunan (IMB). “Untuk IMB lokasi bangunan ada, sedangkan izin bidang pariwisata sampai hari belum mereka miliki,” Kata Kepala PTSP Nunukan Juni Mardiansyah, Jumat (14/06/2019).

Melalui sambungan telepon, Juni menjelaskan, selayaknya semua tempat huburan atau wisata dengan jumlah pengujung besar harus dibekali izin yang diterbitkan oleh pemerintah setempat dan kelengkapan izin harus sebelum beroperasinya kegiatan.

Terhadap penerbitan izin pariwisata, PTSP Nunukan telah mengyampaikan bahwa pembuatan ijin tanpa dipungut biaya, pemilik usaha tinggal mengajukan permohonan yang dilengkapi dengan syarat-syarat tertentu. “Silahkan ajukan ijin pariwisata, pasti kita terbitkan izin selama prosudur kelengkapan adminitrasi terpenuhi,” bebernya.

Kepemilikan IMB menjadi salah satu syarat pengajukan ijin pariwisata, masih ada beberapa syarat dilengkapi, termasuk lapoan kebaradaan usaha dari instansi terkait yaitu dinas pariwisata, makanya diperlukan rekomendasi teknis sebelum terbitnya ijin.

Setelah ijin pariwisata terbit dan berjalan, instansi pariwisata harus melakukan pengawasan terhadadp usaha, aturan ini sama dengan izin-izin usaha lainnya yang harus mendapat dari organisasi pemerintah daerah (OPD). “Pembuatan ijin pariwisata gratis, malah yang mahal itu izin retribusi penerbitan IMB dan mereka sudah selesaikan itu,” ucapnya. Dalam rangka penertiban ijin usaha, PTSP Nunukan akan berusaha menghubungi pemilik usaha Putra Tunggal kedepannya memiliki izin yang dalam teknisnya dinamakan tanda daftar usaha pariwisata.

Aturan ini tertuang dalam Undang-Undang No. 9 Tahun 1990 tentang Kepariwisataan bahwa pembangunan objek dan daya tarik wisata dilakukan dengan memperhatikan sejumlah hal yaitu,  kemampuan untuk mendorong peningkatan ekonomi dan sosial budaya. “Termasuk nilai-nilai agama, adat istiadat dan lokal,  kelestarian budaya dan mutu lingkungan hidup, serta kelangsungan usaha pariwisata itu sendiri,” tambahnya.

Lokasi pemandian Putra Tunggal milik Mansyur pengusaha asal Sebatik menjadi ramai dibicarakan setelah terjadinya kelalaian dalam pengawasan salah seorang bocah berumur 5 tahun Akil Bin Murtang (5) warga jalan Pangkalan RT.08 Desa Binalawan Sebatik Barat ditemukan tenggelam dan kemeninggal dunia. (002)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *