aa
H Agus Suwandy

SAMARINDA.NIAGA.ASIA-Komisi III DPRD Kaltim yang membidangi infrastruktur mendesak Menteri Perhubungan untuk mengatasi kondisi darurat di Bandara APT Pranoto Samarinda dengan memasang lampu penerang di kiri-kanan runway agar tidak ada lagi hambatan bagi pesawat mendarat saat cuaca buruk atau jarak pandang terbatas seperti terjadi beberapa hari belakangan,  keselematan penumpang terjamin, serta  pengguna jasa penerbangan tidak dirugikan.

Desakan itu disampaikan langsung Ketua Komisi III DPRD Kaltim, H Agus Suwandy saat diminta tanggapannya oleh Niaga.Asia, Kamis (17/1). “Saya sudah kontak Kepala UPBU (Unit Pengelala Bandar Udara)  APT Pranoto, Pak Dody dan Kadishub Kaltim, Pak Salman Lumoindong untuk bicara dengan Dirjen Perhubungan Udara Kemenhub memasang lampu di runway,” ungkap Agus.

Menurut Agus,  dalam percakapan kepala UPBU APT Pranoto, ketiadaan lampu di runway saat ini  sudah diberitahukan ke Ditjen Perhubungan Udara, kemudian, lampu runway yang dulu di Bandara Temindung diperiksa apakah bisa dipindah atau dipasangkan di APT Pranoto. “Tapi saya yakin, kalaupun lampu runway di Bandara Temindung dipindah ke APT Pranoto, juga tidak mencukupi, sebab runway di APT Pranoto panjangnya 2.250 meter, sedangkan Bandara Temindung panjang runway-nya hanya 900 meter,” ujarnya.

aa
Lion Air penerbangan Surabaya-Samarinda, kemarin (16/1) menurunkan penumpangnya di Balikpapan karena ketiadaan lampu runway di Bandara APT Pranoto, Samarinda.

Agus mengungkapkan, ketiadaan lampu di runway APT Pranoto murni kesalahan Dirjen Perhubungan Udara Kemenhub sebab, dalam rapat kerja terakhir antara Komisi III DPRD Kaltim dengan Dishub Kaltim dan UPBU, Oktober 2018 sudah ditanyakan Komisi III siapa yang mendanai pembelian lampu runway, saat itu dijawab UPBU dan Dishub Kaltim dananya nanti dari APBN melalui Ditjen Perhubungan Udara, tapi ternyata tidak ada.

“Kalau saat itu dijawab pembelian lampu dari APBD Kaltim, masih bisa dianggarkan di APBD-Perubahan Kaltim  2018. Sekarang semuanya jadi berantakan,” ucapnya. “Perlu juga diingat, cuaca buruk seperti sekarang akan berlangsung hingga bulan Maret di Samarinda. Kalau tidak ada lampu di runway, kekacauan penerbangan di Samarinda akan terjadi selama 2,5 bulan,” kata Agus.

Politisi Partai Gerindra ini mengingatkan, lampu runway sangat vital untuk keselamatan penerbangan. Ketiadaan lampu itu sangat memalukan dan menimbulkan kekacauan di bandara, penumpang dirugikan. “Penumpang yang seharusnya diturunkan di Samarinda, diturunkan di Balikpapan, sudah cost bertambah, penumpang juga kehilangan waktu banyak naik angkutan dari Balikpapan ke Samarinda,” ujar Agus.

Berdasarkan keterangan pihak Bandara APT Pranoto, lanjut Agus, pengguna jasa angkutan penerbangan di APT Pranoto sudah mencapai 2.000 orang per hari. Kalau dalam sehari bandara hanya berfungsi setengah hari, akan ada 1.000 penumpang terlantar per hari. (001)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *