Kondisi Ekonomi Usaha Pertanian Perorangan di Kaltim Berada pada Kategori “Sama Saja”

Di perkotaan kini tumbuh usaha pertanian lahan sempit dengan metode hidroponik, seperti Maria Gaudensia Asri, menanam sawi samhong dan selada hijau di atap rumah miliknya di Sambutan, Samarinda. (Niaga.Asia/Lydia Apriliani)

SAMARINDA.NIAGA.ASIA – Kondisi ekonomi usaha pertanian perorangan di Kalimantan Timur pada tahun 2024 secara umum berada pada kategori “Sama Saja” dibandingkan tahun sebelumnya.

Pada tingkat provinsi, sebesar 56,33 persen usaha pertanian melaporkan kondisi ekonomi yang relatif tidak berubah, sementara 27,79 persen menyatakan mengalami peningkatan dan hanya 14,15 persen yang mengalami penurunan.

Demikian Potret Petani Kalimantan Timur 2025 yang disampaikan Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltim dalam Analisis Isu Terkini Provinsi Kalimantan Timur 2025 yang dipublikasikan akhir Desember 2025.

Menurut Kepala BPS Kaltim, Dr. Yusniar Juliana, SST, MIDEC, peningkatan ekonomi paling menonjol terlihat di Kabupaten Kutai Timur dan Kutai Kartanegara, di mana masing-masing 37,28 persen dan 35,21 persen usaha pertanian melaporkan kondisi ekonomi meningkat.

Sebaliknya, Kota Bontang dan Kota Balikpapan mencatat proporsi peningkatan ekonomi yang relatif rendah, masing-masing hanya 12,74 persen dan 14,25 persen, menunjukkan keterbatasan dinamika ekonomi pertanian di wilayah perkotaan.

Meskipun sebagian besar wilayah menunjukkan stabilitas ekonomi, proporsi usaha pertanian yang mengalami penurunan tetap perlu menjadi perhatian. Kabupaten Penajam Paser Utara dan Kota Bontang mencatat persentase penurunan tertinggi, masing-masing sebesar 19,98 persen dan 21,19 persen, sementara Kabupaten Mahakam Ulu dan Kota Samarinda juga menunjukkan proporsi penurunan yang cukup signifikan, yaitu 16,84 persen dan 16,17 persen.

“Adapun kategori “Sangat Meningkat” dan “Sangat Menurun” relatif kecil di seluruh wilayah, umumnya berada di bawah 2 persen, yang mengindikasikan bahwa perubahan ekonomi usaha pertanian cenderung bersifat gradual,” kata Yusniar.

Dijelaskan pula, pola ini memperlihatkan bahwa meskipun sektor pertanian di Kalimantan Timur Korelasi Spearman dianalisis lebih lanjut, khususnya dalam kaitannya dengan faktor-faktor struktural seperti adopsi teknologi digital.

Penulis: Intoniswan | Editor: Intoniswan

Tag: