Konstruksi Tiga Jembatan di Kukar Dikaji Tahun Ini

Jembatan Kartanegara Tenggarong. (Niaga.Asia/Lydia Apriliani)

TENGGARONG.NIAGA.ASIA – Dinas Pekerjaan Umum Kutai Kartanegara (PU Kukar) akan melakukan kajian menyeluruh terhadap tiga jembatan strategis pada tahun ini, yakni jembatan Kartanegara Tenggarong,  jembatan Martadipura Kota Bangun,  dan jembatan di Anggana.  Langkah tersebut dilakukan sebagai respon atas isu penurunan konstruksi jembatan Kartanegara Tenggarong, yang sempat mencuat ke media sosial.

Kepala Dinas PU Kukar, Wiyono, menegaskan secara umum kondisi Jembatan Tenggarong masih relatif aman. Meski terdapat sedikit penurunan di bagian ujung, tapi masih dalam batas normal.

“Secara umum itu aman. Kemarin kita sudah koordinasi, kita ada alat deteksinya, kemudian kita kirim ke Jakarta untuk dianalisa hasilnya. Hasilnya relatif masih bagus,” ujarnya usai mengikuti FKP Rancangan Awal RKPD 2027 Kukar di Kantor Bappeda Kukar, Kamis siang (12/2/2026).

Ia menjelaskan, fenomena jembatan yang terasa bergoyang saat terjadi kemacetan juga merupakan hal yang wajar dalam struktur jembatan gantung atau rangka baja.

“Memang ada sedikit penurunan di ujung sana, tapi masih aman. Termasuk kemarin ketika ada kemacetan karena kecelakaan, jembatan itu goyang, tetapi goyang dalam posisi normal, bukan yang membahayakan,” jelasnya.

Tak hanya Jembatan Tenggarong, Dinas PU Kukar juga mengajukan pendampingan teknis pada Balai Keselamatan Jembatan di bawah Kementerian PUPR untuk melakukan kajian terhadap dua jembatan lain, yakni Jembatan Martadipura dan satu jembatan di Kecamatan Anggana.

“Tahun ini kita ada alokasi anggaran untuk mendapatkan pendampingan dari balai keselamatan jembatan. Kita minta mereka membantu melakukan kajian dan analisa terhadap kondisi tiga jembatan,” katanya.

Menurutnya, langkah tersebut diambil agar proses perbaikan nantinya benar-benar berbasis rekomendasi teknis dari tenaga ahli. Pemerintah daerah tidak ingin melakukan perbaikan tanpa kajian mendalam.

“Kita tidak berani langsung memperbaiki tanpa kajian. Kita minta bantuan tenaga ahlinya untuk melakukan analisa. Dari hasil kajian itulah nanti direkomendasikan bentuk perbaikannya apa. Anggarannya pun akan menyesuaikan hasil rekomendasi tersebut,” tegasnya.

Terkait pola pemeliharaan jembatan secara umum, Kepala Bidang (Kabid) Bina Marga Dinas PU Kukar, Linda Juniarti, menjelaskan bahwa secara aturan pemeliharaan rutin idealnya dilakukan setiap 1 – 3 bulan sekali, sedangkan pemeliharaan berkala dilakukan dalam rentang 1 – 5 tahun, tergantung kondisi jembatan dan lingkungan sekitar.

Kendati demikian, dia mengakui keterbatasan anggaran menjadi tantangan tersendiri. Tahun ini, total anggaran pemeliharaan jembatan di Kabupaten Kukar sebesar Rp3 miliar, terdiri dari Rp2 miliar untuk pemeliharaan berkala dan Rp1 miliar untuk pemeliharaan rutin.

“Totalnya Rp3 miliar untuk pemeliharaan jembatan di Kukar. Sekitar Rp2 miliar untuk yang berkala, Rp1 miliar untuk rutin,” bebernya saat dihubungi, Jumat (13/2/2026).

Sebagian anggaran tersebut diprioritaskan untuk melanjutkan pemasangan jembatan bailey di Enggelam serta rencana penanganan jembatan rusak berat di Desa Sebuntal yang menjadi akses utama masyarakat.

“Cuma karena kegiatan tahun sebelum putus kontrak, jadi yang berkala untuk melajutkan pemasangan baley di Enggelam dan pemel rutin karena ada jembatan di Sebuntal yang sudah rusak berat, akses satu-satunya ini. Rencana mau dikerjakan baley kalau cukup uangnya,” pungkasnya.

Penulis: Lydia Apriliani | Editor: Intoniswan

Tag: