Tenaga honorer KPUD Nunukan dipekerjaan dalam pelipatan dan sortir kertas surat suara pemilu (foto Budi Anshori/Niaga.Asia)

NUNUKAN.NIAGA.ASIA-Pelaksanaan pemilukada dimasa pendemi Covid-19 tentunya berbeda dengan kondisi normal, beberapa tahapan pemilu digelar dengan pembatasan jumlah peserta, termasuk dalam hal pelipatan dan sortir kertas suara pemilu gubernur dan bupati.

“Untuk pekerjaan surat suara pilkada tahun ini tidak melibatkan masyarakat layaknya pemilu tahun sebelumnya,” kata Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPUD) Nunukan, Rahman SP, Jum’at (20/11).

Pembatasan jumlah pekerja telah sesuai dengan Peraturan KPU terkait pencegahan penularan Covid-19, dimana tiap-tiap penyelenggaraan tahapan pilkada harus mengacu pada protokol kesehatan yang salah satunya, membatasi jumlah orang dan kurumunan massa.

Pelipatan surat suara gubernur dan bupati praktis hanya melibatkan pegawai honorer KPUD Nunukan, ditambah beberapa pegawai kontrak administrasi, pekerjaan ini diperkirakan rampung dalam waktu maksimal 6 hari.

“Sekarang ini ada standar covid-19, apalagi ruangan KPUD Nunukan terbatas, jadi pekerjaan surat suara hanya melibatkan pegawai honorer dan pegawai kontrak,” sebutnya.

Rahman menyebutkan, sortir dan pelipatan surat suara adalah momen yang ditunggu-tunggu masyarakat mencari penghasilan tambahan, biasanya ada ratusan orang mendaftar sebagai pekerja dadakan dengan upah cukup lumayan.

Jadwal pekerjaan sortir dan pelipatan dimulai pagi hingga sore, dilanjutkan malam hari hingga pukul 12:00 Wita. Seluruh petugas yang terlibat dalam kegiataan ini dilarang membawa makan dan minum ke dalam ruangan dan dilarang membawa kamera ataupun handphone.

“Sortir surat suara dijaga ketat petugas kepolisian, para pekerja dilarang membawa barang-barang yang dapat merusak kertas suara ataupun mempublikasikan kegiatan,” sebutnya.

Untuk mempercepat kegiatan, seluruh honorer dan tenaga kontrak yang jumlahnya 30 orang dilibatkan dalam menyelesaikan pelipatan dan sortir sebanyak 120.971 surat suara, dengan upah perlembar sebesar Rp 300,oo.

Tiap pekerja rata-rata mampu melipat dan mensortir surat suara 500 sampai 1.000 lembar perhari, bahkan dengan keahlian dan pengalaman, ada sejumlah pegawai honorer yang mampu menyelesaikan pekerjaan 2.000 lembar.

“Kalau 1 orang mampu melipat dan sortir 1.000 lembar, dia dapat upah Rp 300.000 perhari, lebih lagi jika dapat 2.000 lembar,” kata Rahman.

Pembatasan jumlah petugas pelipatan dan sortir surat suara dipastikan tidak akan memperlambat pekerjaan, Rahman yakin jadwal distribusi kelengkapan logistik ke tiap kecamatan berjalan sesuai rencana.

“Distribusi logistik pemilu Krayan sekitar tanggal 1 Desember 2020, selanjutnya dapil II Kecamatan Sebatik tanggal 3 Desember, untuk Kecamatan Nunukan menyesuaikan,” ungkapnya (advetorial)

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *