Kramat Festival di Cape Town Diisi dengan Ziarah ke Makam Syekh Yusuf Asal Gowa

Syekh Yusuf, ulama asal Gowa, Makassar yang membawa Islam ke Afrika Selatan. (Foto HO/Net)

CAPE TOWN.NIAGA.ASIA – KJRI Cape Town memberikan dukungan penuhnya bagi rencana penyelenggaraan “Kramat Festival” yang akan diselenggarakan di bulan Desember.

Hal ini disampaikan saat pertemuan daring KJRI Cape Town dengan penyelenggara festival (08/04/2022).

Virtual meeting dipimpin oleh Mr Ebrahim Peters, Nurul Latief Islamic Association yang dihadiri oleh ulama mapun tokoh politik muslim setempat diantaranya Sheikh Shahid Essau, Imam Adam Philander dan Maulana Abdul Khaliq.

Kramat Festival merupakan perayaan tahunan yang diselenggarakan pada saat liburan easter.

“Kegiatan yang merayakan kehadiran Islam di Cape Town dengan ziarah ke  makam Syekh Yusuf, ulama asal Gowa, Makassar yang membawa Islam ke Afrika Selatan,” kata Ebrahim Peters. Kegiatannya dihadiri oleh komunitas muslim yang ada di Cape Town dan sekitarnya.

Wikipedia Indonesia menerangkan,  Syekh Yusuf Abul Mahasin Tajul Khalwati Al-Makasari Al-Bantani (3 Juli 1626 – 23 Mei 1699) adalah salah seorang pahlawan nasional Indonesia.  Ia juga digelari Tuanta Salamaka ri Gowa (“tuan guru penyelamat kita dari Gowa”) oleh pendukungnya di kalangan rakyat  Sulawesi Selatan.

Ia lahir dengan nama Muhammad Yusuf di Gowa. Sejak berusia 15 tahun, Syekh telah diberi pendidikan agama Islam oleh guru Kerajaan Gowa, Daeng Ri Tassamang di Cikoang. Sekembalinya dari Cikoang, Syekh Yusuf menikah dengan putri Sultan Gowa.

Syekh Yusuf lahir dari pasangan Abdullah dengan Aminah. Ketika lahir ia dinamakan Abadin Tadia Tjoessoep atau Muhammad Yusuf,  suatu nama yang diberikan oleh Sultan Alauddin (berkuasa sejak 1593 – wafat  15 Juni 1639, penguasa Gowa pertama yang muslim), raja Gowa, yang juga adalah kerabat ibu Syekh Yusuf.

Virtual meeting “Kramat Festifal” dipimpin oleh Mr Ebrahim Peters, Nurul Latief Islamic Association yang dihadiri oleh ulama mapun tokoh politik muslim setempat diantaranya Sheikh Shahid Essau, Imam Adam Philander dan Maulana Abdul Khaliq. (Foto KJRI Cape Town)

Ketika Kesultanan Gowa  mengalami kalah perang terhadap  Belanda  Syekh Yusuf pindah ke Banten  dan diangkat menjadi mufti di sana. Pada periode ini Kesultanan Banten  menjadi pusat pendidikan agama Islam, dan Syekh Yusuf memiliki murid dari berbagai daerah, termasuk 400 orang asal Makassar yang dipimpin oleh Ali Karaeng Bisai.

Ketika pasukan Sultan Ageng dikalahkan Belanda tahun 1682, Syekh Yusuf ditangkap dan diasingkan ke Srilanka pada bulan September 1684.

Melalui jamaah haji yang singgah ke Sri Lanka, Syekh Yusuf masih dapat berkomunikasi dengan para pengikutnya di Nusantara, sehingga akhirnya oleh Belanda, ia diasingkan ke lokasi lain yang lebih jauh dari Ceylon Sri Lanka ke Afrika Selatan, pada 22 Desember 1694.

Di Afrika Selatan, Syekh Yusuf tetap berdakwah, dan memiliki banyak pengikut. Ketika ia wafat pada tanggal 23 Mei 1699, pengikutnya menjadikan hari wafatnya sebagai hari peringatan. Bahkan, Nelson Mandela, mantan presiden Afrika Selatan, menyebutnya sebagai ‘Salah Seorang Putra Afrika Terbaik’.

Jenazah Syekh Yusuf Tajul Khalwati dibawa ke Gowa atas permintaan Sultan Abdul Jalil (1677-1709) dan dimakamkan kembali di Lakiung, pada April 1705.

Kemudian Syekh Yusuf Allahu yarham dianugerahi gelar Pahlawan Nasional oleh Presiden Soeharto  dengan SK Presiden : Keppres No. 071/TK/1995, Tgl. 7 Agustus 1995.

Pada tahun 2009, Syech Yusuf dianugerahi penghargaan Ordo Sahabat Oliver Thambo yaitu penghargaan sebagai Pahlawan Nasional Afrika Selatan oleh Presiden Afrika Selatan Thabo Mbeki kepada ahli warisnya yang disaksikan oleh Wapres RI. M. Yusuf Kalla di Pretoria Afrika Selatan.

Syech Yusuf menulis beberapa risalah sufisme berbahasa Arab dan Lontara.

Sumber: KJRI Cape Town & Wikipedia Indonesia | Editor : Intoniswan 

Tag: