Lelang SOA Gagal Lagi, Dishub Minta Penerbangan Komersial Ditambah

sub
Penerbangan bersubsidi dari Nunukan-Krayan terhenti sejak Januari lalu.

NUNUKAN.NIAGA.ASIA-Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara untuk ketiga kalinya gagal mendapatkan penyedia jasa angkutan subsidi orang (SOA) ke wilayah perbatasan, Nunukan-Long Bawan di tahun anggaran 2018.

Kegagalan terjadi karena pekerjaan senilai Rp6 miliAran tersebut tidak diminati penyedia jasa penerbangan, atau maskapai udara. “Lelang ketiga gagal, tidak satupun maskapai mendaftar atau menawarkan diri melayani rute perbatasan,” kata Kepala Bidang Penerbangan Dishub Nunukan, Edi P pada Niaga.asia, Selasa (3/4).

Kebijakan Dishub merubah jenis pesawat keukuran lebih kecil atau berpenumpang 10 orang tidak juga menarik minat penyedia jasa  mendaftar menjadi peserta lelang. “Bahkan Susi Air yang saat ini melayani penerbangan komersial  ke Krayan tidak ikut mendaftar,” ungkap Edi.

Sesuai rekomendasi Kemenhub, lanjut Edi, Dishub Nunukan diminta kembali membuka lelang ke empat dan mengembalikan spesifikasi  pesawat ke jenis  twin otter sebagaimana lelang pertama dan kedua. “Kemenhub minta petunjuk pesawat apa yang diinginkan Nunukan, nah kami jawab kalau bisa kembali twin otter,” sebutnya.

Bersamaan pembukaan lelang keempat, Dishub meningkatkan biaya nilai kontrak SOA dari sebelumnya Rp14 juta  (PP) menjadi Rp18 juta. Kenaikan harga dihubungkan dengan lamanya waktu penerbangan Nunukan-Long Bawan. “Lelang keempat dengan nilai satuan  lebih tinggi diharapkan bisa menarik minat perusahaan penerbangan  dan langkah  daerah memperjuangkan transportasi perbatasan Krayan,” kata Edi.

Harga baru merujuk pada  lamanya  penerbangan dari Nunukan-Tarakan lebih kurang 56 menit sedangkan dari  Nunukan-Long Bawan  sekitar 58 menit. “Hitung-hitungan waktunya hampir sama, jadi kami coba menaikan harga satuan kontrak SOA agar ada daya tarik maskapai melayani Nunukan,” tuturnya.

Penerbangan komersial ditambah

Menurut Edi, karena lelang penerbangan perintis Nunukan-Long Bawan sudah 3 kali gagal, maka Dishub Nunukan telah berkoordinasi dengan Bandara Tarakan sebagai koordinator wilayah pesawat perintis. “Kita meminta jumlah penerbangan komersial dari Nunukan-Long Bawan diperbanyak dari 4 kali seminggu menjadi 5 kali seminggu,” katanya.

Selama ini penerbangan  komersial Nunukan-Long Bawan  hanya diizinkan  4 kali seminggu, sama dengan penerbangan Tarakan-Krayan, Malinau-Krayan. Padahal jumlah penumpang dari dan ke Nunukan-Long Bawan juga banyak, karena Nunukan pusat pemerintahan Kabupaten Nunukan.

Diterangkan, apabila  penerbangan komersial Nunukan-Long Bawan diberikan 5 kali  seminggu di luar penerbangan pesawat Susi Air, itu bisa  mengurangi  penumpukan penumpang di Nunukan dan Long Bawan. “Pemerintah wajib melayani masyarakat, makanya sebisa mungkin diperbanyak jatah penerbangan Nunukan-Long Bawan,” bebernya. (002)