
TENGGARONG.NIAGA.ASIA – Lonjakan harga ayam potong yang sempat menyentuh angka tak wajar hingga Rp95 ribu per kilogram di Tenggarong Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) disebut hanya bersifat sementara. Para pedagang menilai kondisi itu dipicu oleh terbatasnya pasokan ayam dan minimnya pedagang yang berjualan usai libur Idulfitri.
Sam (35), pedagang di Kios Ayam 88 sekitar kawasan Tangga Arung Square, mengatakan, harga setinggi itu bukanlah kondisi normal di pasar. Bahkan selama dirinya berjualan, pria berusia 35 tahun ini belum pernah mendapati harga ayam mencapai angka tersebut.
“Paling tinggi orang jual ayam itu Rp45 ribu per kilogram. Kalau Rp90 ribu per kilogram itu nggak pernah,” ujarnya saat ditemui, Rabu (25/3/2026).
Ia menjelaskan bahwa pada hari ini harga ayam mulai kembali ke kisaran Rp41 ribu hingga Rp45 ribu per kilogram. Pagi hari, Kios Ayam 88 menjual ayam di angka Rp45 ribu, namun menjelang sore diturunkan menjadi Rp41 ribu karena stok yang tersisa sedikit.
Meski demikian, Sam mengakui harga saat ini masih tergolong tinggi dibandingkan kondisi normal. Pasalnya dalam situasi pasokan yang melimpah, harga ayam biasanya berada di kisaran Rp25 ribu per kilogram, dengan ukuran ayam yang lebih besar.
“Kalau normal itu paling sekitar Rp25 ribu, itu juga ayamnya besar. Kalau sekarang memang lagi mahal,” jelasnya.
Ia juga menyebutkan bahwa dalam beberapa hari terakhir, pasokan ayam hidup mengalami keterbatasan stok. Selain jumlahnya sedikit, ukuran ayam yang tersedia di kandang juga masih kecil-kecil sehingga turut memengaruhi harga jual.
Kondisi serupa juga disampaikan Iwan (41), pedagang di Kios M Taran kawasan Tangga Arung Square. Ia mengaku sempat terkejut ketika mengetahui harga ayam melonjak hingga Rp90 ribu per kilogram.
“Memang sempat ada yang jual Rp90 ribu, bahkan Rp70 ribu. Saya kaget bubuhannya pasang harga segitu. Itu karena ayam kosong, dan yang jual cuma dua orang pedagang saja di kawasan Tangga Arung Square,” katanya.
Menurutnya, lonjakan harga tersebut terjadi karena momentum. Saat sebagian besar pedagang belum kembali berjualan, stok ayam potong di pasar menjadi terbatas sehingga harga melonjak tajam.
“Kan kantor sempat tutup beberapa hari, jadi wajar stok kosong. Itu istilahnya kesempatan saja,” ungkapnya.
Iwan sendiri baru kembali berjualan pada hari ini, Rabu (25/3/2026), setelah distribusi ayam mulai berjalan sejak Selasa (24/3/2026). Saat ini, ia menjual ayam di harga Rp45 ribu per kilogram. Namun ia menilai harga tersebut belum sepenuhnya stabil.
“Kalau ayam sudah banyak dan normal, biasanya Rp28 ribu sampai Rp30 ribu. Sekarang masih belum stabil karena ayam masih kosong dan ukurannya kecil,” terangnya.
Menariknya, ia juga mengungkapkan bahwa adanya perbedaan karakter pasar antara Tenggarong dan Samarinda. Di Tenggarong, ayam dijual berdasarkan berat (kilogram), sehingga ayam berukuran besar justru lebih murah. Sementara di Kota Samarinda, ayam umumnya dijual per ekor, sehingga ukuran kecil lebih diminati.
“Kalau di sini makin besar ayam makin murah, karena jualnya kiloan. Kalau di Samarinda beda, jualnya ekoran, jadi ayam kecil yang dijual,” tambahnya.
Kenaikan harga ayam turut berdampak pada daya beli masyarakat. Para pedagang pun mengaku jumlah penjualan menurun saat harga tinggi.
Dalam kondisi harga normal, penjualan bisa mencapai 400 hingga 500 ekor per hari. Namun ketika harga naik, angka tersebut turun menjadi sekitar 150 hingga 300 ekor per hari.
“Kalau murah ramai, kalau mahal sepi. Pembeli paling ambil satu dua kilo saja, bahkan ada yang beli Rp20 ribu,” bebernya.
Pasokan ayam sendiri masih bergantung pada distribusi dari sejumlah wilayah di Kalimantan Timur (Kaltim), seperti Kecamatan Loa Janan dan Bantuas. Namun sumber pasokan ini sebenarnya tidak menentu, tergantung ketersediaan di kandang masing-masing.
Penulis: Lydia Apriliani | Editor: Intoniswan
Tag: ayam