aa
Mahasiswa dan dosen Politeknik Negeri Samarinda menanam pohon di riparian Sungai Karang Mumus, Selasa (11/9).

SAMARINDA.NIAGA.ASIA-Semangat warga Kota Samarinda merawat Sungai Karang Mumus (SKM) luar biasa, baik dalam kegiatan menghijaukan riparian sungai maupun memungut sampah di permukaan sungai. “Hingga tahun ketiga keberadaan GMSSSKM (Gerakan Memungut Sehelai Sampah Sungai Karang Mumus), kita tidak pernah kekurangan tenaga merawat sungai. Berbagai kelompok atau komunitas di Samarinda masih hadir ke sungai membantu merawat sungai,” kata Ketua GMSSSKM Samarinda, Misman.

Masih berpartisipasinya masyarakat merawat sungai, membuktikan semangat gotong royong masih hidup dalam masyarakat. Budaya gotong royong dikira sudah punah di perkotaan ternyata masih tumbuh. “Itu bukti budaya lama yang positif masih hidup dalam dalam masyarakat kita,” tambah Misman.

Misalnya, Selasa (11/9), meski hari libur, sebanyak 103 orang dari Polnes (Politeknik Negeri Samarinda) terdiri atas 5 orang dosen 98 mahasiswa menanam 281 pohon spesies Sungai Karang Mumus di jalur hijau Sungai Karang Mumus. “Tujuan kita menghijaukan riparian sungai agar kelak air  sungai sehat untuk manusia dan makhluk Tuhan lainnya,” paparnya.

Misman juga menambahkan, pada hari yang sama, sebanyak  50 orang guru dari SDK3 Samarinda dan TK Santo Yoseph WR Soepratman Samarinda juga bergotong royong  merawat SKM dengan menanam pohon spesies SKM. “Sebagian besar pohon yang kita tanam sejak setahun yang lalu tumbuh, yang gagal atau mati langsung diganti,” katanya.

Selain warga Samarinda, mahasiswa asal manca negara yang kuliah di Unmul juga berpatisipasi merawat SKM. Misalnya, Sabtu lalu (8/9), Yassine dari Perancis dan Rifli serta Agung mahasiswa Unmul  Perikanan menanam pohon di jalur hijau Sungai Karang Mumus. “Kita bangga, walau hasilnya baru akan dirasakan beberapa tahun yang akan datang,” ungkapnya.

aa
Pelajar dan guru Sekolah Dasar Katolik Samarinda termasuk komunitas yang rutin merawat Sungai Karang Mumus dan pada Selasa (11/9) menanam pohon penghijau di riparian Karang Mumus di Muang Ilir, Lempake.

Kegiatan baru yang terus dikembangkan GMSSSKM bersama relawan adalah memastikan ranting, rerumputan, dedaunan di tepi sungai  tetap berada pada tempatnya karena merupakan sumber makanan ikan dan biota lainnya, karena ada renik kehidupan ekosistem di dalamnya jadi tidak perlu disingkirkan kalau  tidak menutup arus air.  “Yang harus diangkat plastiknya karena plastik mengandung zat kimia yang merusak kesehatan air untuk manusia dan makhluk Tuhan lainnya,” ujar Misman lagi.

Kegiatan pungut sampah di permukaan sungai juga masih kebanjiran relawan, misalnya (9/9), komunitas Teras dan komunitas Peduli Masjid Samarinda Kaltim Indonesia memungut sampah di permukaan sungai. Memungut sampah bagian dari mengedukasi  masyarakat secara riil sampah sembarangan tempat, apa lagi langsung ke sungai. (001)

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *