Areal persawahan di Kabupaten Nunukan (foto Budi Anshori/Niaga.Asia)

NUNUKAN.NIAGA.ASIA-Luasan areal sawah di Kabupaten Nunukan yang diolah dan mengasilkan beras hanya 4.100 hektar. Lebih kurang 80 persen atau lebih kurang 3.000 hektar berada di Kecamatan Krayan, wilayah perbatasan Indonesia – Malaysia.

“Khusus  sawah di pulau Nunukan dan pulau Sebatik digarap orang lain karena pemiliknya sudah beralih profesi dari petani ke pekerjaan lain,” kata Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Nunukan, Masniadi pada Niaga.Asia, Rabu (29/07).

Produksi persawahan di Nunukan dan Sebatik hanya berkisar 5 ton dengan musim tanam 2 kali dalam 1 tahun.  Sedangkan di Krayan hasil panen pertahunnya hanya berkisar 3 sampai 4 ton per tahun, dan hanya 1 kali dalam setahun.

“Pertanian di Krayan menganut sistem tanam non pupuk kimia, mereka menanfaatkan kotoran kerbau sebagai pukuk alami, karena itu musim tanam disana 1 tahun sekali,” kata Masniadi.

Perlu Sawah 13 Ribu Hektar

Menurut Masniadi, untuk memenuhi sendiri kebutuhan beras 200 ribuan penduduk Kabupaten Nunukan sebanyak 39.088 ton beras per tahun, idealnya  di  Kabupaten Nunukan setidaknya memiliki 13.000 hektar sawah.

Untuk mempersiapkan ketahanan pangan daerah dan menstabilkan produksi beras,  menurut DPKP Nunukan tak areal sawah baru tapi terkendala minat masyarakat untuk mengelola sawah semakin tahun semakin menurun.

“Berapa puluh hektar sawah yang dicetak di Kecamatan Sebuku terbengkalai, tidak ada petani bersawah, akhirnya ditumbuhi rumput,” ungkap Masniadi.

Masniadi menyebutkan, dalam beberapa kesempatan diskusi dengan masyarakat Nunukan dan Sebatik, rata-rata mereka mengeluhkan kesulitan menjaga padinya dimakan burung. Petani merasa lebih aman berusaha dibudidaya rumput laut, tidak perlu penjagaan dan perawatan pupuk.

“Alasan-alasan inilah yang membuat para petani berpindah profesi ke budidaya rumput laut, selain praktis tidak memerlukan perawatan khusus, rumput laut tidak memerlukan pupuk subsidi yang jumlahnya  terbatas,” kata Masniadi.

Ditegaskan pula, selama areal persawahan tidak diperluas, kebetuhan beras kita terus menerus bergantung dengan beras Sulawesi dan Surabaya. Pengembangan sektor pertanian padi tidak bisa dilihat dari satu sisi. Pertanian butuh dukungn sektor lain seperti keberadaan irigasi dan ketersedian sumber air itu sendiri dan minat dari masyarakat untuk bertani.

Selama ini, sumber air yang mengairi persawahan di Nunukan dan Sebatik mengandalkan tadah hujan, ketika hujan tidak turun sampai 7 bulan, maka tanaman pagi akan kering dan sudah pasti hasil panen turun bahkan merugi.

“Ketika harga rumput laut turun, disaat itulah petani mulai kembali menanam padi, tapi jumlah petaninya masih sangat terbatas,” bebernya. (002)

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *