gmd
Gerakan Mahasiswa Pejuang Demokrasi (GMPD) Kaltim terjebak main paksa.(intoniswan)

SAMARINDA.NIAGA.ASIA-Sejumlah mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Samarinda yang tergabung dalam organisasi Gerakan Mahasiswa Pejuang Demokrasi (GMPD) Kalimantan Timur malahan terjebak main paksa saat hendak menyampaikan aspirasi ke lembaga DPRD Kaltim.

Dalam pertemuan di ruang rapat Gedung E DPRD Kaltim, Senin pagi  (12/3) sekira 11.30 Wita, perwakilan mahasiswa diterima Ketua DPRD Kaltim, H Syahrun dan anggota 5 fraksi dari 9 fraksi yang adadi DPRD Kaltim. Lima perwakilan farksi yang hadir antara lain, H Syahrun HS dan Mursidik Muslim (Golkar), Rusman Yakub dan H Gamalis dari (PPP-Nasdem), Syafruddin (PKB), Zain Taufik Nurrohman (PAN), dan Edi Kurniawan dari PDI-P.

GMPD Kaltim adalah organisasi mahasiswa yang menggalang dukungan menolak diberlakukannya UU MD3 DPR/DPRD, khususnya Pasal 73, 122, K, 224 ayat 1, dan 245 karena menilai pasal-pasal tersebut membuat anggota lembaga legislatif kebal hukum dan pengeritik terancam  dihukum.

Kemudian GMPD Kaltim juga menolak keberadaan Pasal 237, 238 ayat 1, dan 239 di Rancangan KUHP karena dianggap terlalu melindungi presiden dari pengeritik. Tanpa keharusan ada pengaduan dari presiden, polisi bisa memproses hukum pengeritik presiden.

Tapi entah apa sebabnya, belum menyampaikan aspirasi, atau maksud dan tujuannya bertemu dengan DPRD Kaltim, GMPD Kaltim malahan memaksa H Syahrun menghadirkan perwakilan dari 4 fraksi lainnya, yakni Gerindra, Hanura, Demokrat, dan PKS. Tidak itu saja, mahasiswa juga memaksa anggota dewan yang menerima mereka untuk membahas tuntutan mereka di halaman atau pintu masuk kantor DPRD, atau mengagendakan lagi pertemuan.

Anggota DPRD Kaltim dari 5 fraksi ketika menerima mahasiswa dari GMPD Kaltim. (intoniswan)

Menanggapi keinginan mahasiswa tersebut, Syahrun mengatakan, sebagai ketua dia sudah memberitahukan kesemua fraksi akan adanya kedatangan mahasiswa hari ini (Senin) tapi kelihatannya berhalangan datang. “Meski saya ketua, saya tidak bisa memaksa anggota datang,” ucapnya. Tapi dengan kehadiran 5 fraksi dari 9 fraksi, sudah memenuhi syarat untuk berdialog dan membuat kesepakatan, tambah Syahrun.

Suasana tegang baru mereda ketika perwakilan mahasiswa dari GMPD Kaltim, yakni Riski dari Untang Samarinda memberitahukan bahwa maksud dan tujuan mereka datang adalah minta dukungan dari DPRD agar sama-sama menolak pasal-pasal yangingin ditolak GMPD di UU MD3 dan Rancangan KUHP.

“Tidak masalah, coba dari tadi disampaikan dulu substansi dari keinginan bertemu, kan lebih bagus daripada  main tolak, main tolak bicara dengan kami yang ada,” kata Rusman Yak’ub. Selesai menyepakati aspirasi bersama yang akan disampaikan ke pemerintah pusat dan DPR-RI, anggota dewan bersama perwakilan mahasiswa berdialog di pintu masuk komplek  perkantoran DPRD Kaltim. (001)

Berita Terkait