Mahasiswa Kedokteran Unmul Keluhkan Mahalnya Biaya Praktik di RS AWS

Ketua Komisi IV DPRD Kaltim, Rusman Yaq’ub. (Foto Niaga.Asia)

SAMARINDA.NIAGA.ASIA-Mahasiswa Program Studi Kedokteran dan Kedokteran Gigi Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman terkait mahal dan  minimnya sarana praktek bagi mahasiswa yang mengikuti program koas, sehingga menyampaikan rencana pembangunan Rumah Sakit Pendidikan ke DPRD Kaltim.

Ketua Komisi IV, Rusman Yaq’ub mengatakan itu, Sabtu (20/02/2021) setelah Komisi IV  setelah bertemu dalam rapat kerja dengan   Dinas Kesehatan (Dinkes) Kaltim, Dekan Fakultas Kedokteran (FK) Unmul, dan Direktur Utama RSUD AW Sjahranie (AWS).

Menurut Ketua Komisi IV, Rusman Yaq’ub, mahalnya biaya praktik bagi mahasiswa kedokteran itu imbas pandemi Covid-19 yang membatasi aktivitas mahasiswa di rumah sakit pada saat praktik di RSUD AW Sjahranie satu-satunya rumah sakit pendidikan di Samarinda.

“Dokter muda itu kan harus praktik. Apalagi kalau dia dokter gigi, maka dia harus cari pasien dan membiayai pengobatan pasien itu. Kemudian, dikenakan lagi biaya penggunaan sarana dan prasarana. Biasanya menggunakan tarif umum,” ungkap Rusman di hadapan awak media.

Oleh sebab itu, keadaan pandemi seperti ini membuat kondisi finansial orangtua para mahasiswa tidak stabil. Bahkan memicu penurunan ekonomi keluarga Mahasiswa. Namun, ada beberapa solusi yang akhirnya dikemukakan.

Sebagai solusi, kata Rusman, Pertama, mempercepat operasional rumah sakit mulut dan gigi yang akan dikelola oleh FK Unmul. Agar, mahasiswa tak mengeluarkan tarif untuk praktik ke Rumah Sakit.

Kedua, dalam waktu dekat Komisi IV akan mengundang Badan Pengelola Beasiswa Kaltim Tuntas, untuk mengembangkan kerja sama pendidikan untuk jurusan tertentu. Salah satu yang potensial ialah kedokteran.

“Kalau misalnya berbasis ke institusi, misalnya pihak beasiswa bekerja sama dengan FK Unmul maka beasiswa bisa langsung di-drop ke fakultas. Mahasiswa tinggal kuliah saja. Tadi ada usulan itu,” lanjut politisi dari Fraksi PPP itu.

Dihubungi terpisah, Wakil Dekan Bidang Umum dan Keuangan FK Unmul, Dr dr Rahmat Bakhtiar membeberkan, bahwa yang dibahas dalam rapat besaran biaya yang dibebankan kepada mahasiswa untuk menyelesaikan pendidikannya di rumah sakit pendidikan, RSUD AW Sjahranie.

“Terutama untuk mahasiswa kedokteran gigi. Mereka kan banyak praktik dan alatnya. Sedangkan di RSUD AW Sjahranie pasiennya sedikit. Di sisi lain, mereka harus berlatih dengan pasien. Ada ketentuan berapa pasien yang harus diselesaikan kesehatan giginya,” ungkap Rahmat.

Sarana dan prasarana juga jadi hal krusial yang mesti dilengkapi di rumah sakit gigi pendidikan nantinya. Pembangunan rumah sakit gigi ini ditaksir menelan biaya sekitar Rp 9 miliar.

“Dewan akan berjanji untuk mencarikan jalan agar bisa melengkapi sarana. Kalau jadi, tarifnya bukan tarif umum seperti di RSUD AW Sjahranie. Tapi tarif untuk mahasiswa. Nanti rumah sakit giginya tipe B,” pungkasnya.

Penulis: Muhammad Fahrurozi | Editor: Intoniswan

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *