AA
Kepala Puslatbang KDOD Samarinda, Dr. Mariman Darto. (Foto Intoniswan/NIAGA.ASIA)

SAMARINDA.NIAGA.ASIA-Kepala Puslatbang Kajian Desentralisasi dan Otonomi Daerah (KDOD) Lembaga Administrasi Negara (LAN)  Samarinda, Dr. Mariman Darto minta alumni LAN menjadi pelopor gerakan Indonesia Hijau, Samarinda Green City karena berbagai masalah lingkungan yang ada sekarang bisa diatasi kalau ada yang mau menjadi pelopor.

“Kita sama-sama mulai membangun kepedulian terhadap lingkungan dari diri masing-masing, keluarga, lingkungan tempat tinggal,  dan lingkungan kerja,” ajak Mariman ketika menjadi pembicara kunci di seminar bertema: “Green Development: Kontribusi ASN Terhadap Indonesia Hijau” yang dilaksanakan Pusat Pelatihan dan Pengembangan dan Kajian Desentralisasi dan Otonomi Daerah (Puslatbang KDOD), Lembaga Administrasi Negara di Samarinda, Jumat (16/8/2019) pagi.

Seminar  yang diselenggarakan dalam rangka memperingati HUT Ke-62 LAN dan HUT Ke-74 Republik Indonesia dibuka Kepala Puslatbang KDOD dihadiri tidak kurang dari 200 peserta dari 52 instansi pemerintah di Kota Samarinda, LSM, kalangan Perguruan Tinggi Negeri/Swasta, organisasi sosial yang bergerak di bidang lingkungan di Auditorium LAN.

Menurut Mariman, Walikota Samarinda (H. Syaharie Jaang) telah mencanangkan pengurangan penggunaan plastik. Gerakan mengurangi penggunaan plastik perlu didukung, alumni LAN diharapkan berada dibarisan terdepan mesukseskan bersama ASN (aparatur sipil negara) lainnya di tempat kerja masing-masing. “Kita sama-sama stop menggunakan plastik, termasuk mengkonsumsi minum-minuman dalam kemasan plastik,” harapnya.

Memulihkan lingkungan yang rusak, membangun lingkungan yang hijau perlu komitmen tinggi, perubahan pola pikir, budaya, waktu dan kerja terus menerus. “Dalam hal ini, komitmen alumni LAN juga sangat dibutuhkan,” kata Mariman.

AA
Peserta Seminar “Green Develompment: Konstribusi ASN Terhadap Indonesia Hijau”. (Foto Intoniswan/NIAGA.ASIA)

Dijelaskan pula, menjaga lingkungan tetap lestari dan memulihkan lingkungan yang rusak, sangat penting bagi bangsa dan negara dalam rangka swasembada pangan, menekan laju impor pangan. Kebutuhan pangan sulit dipenuhi sendiri kalau lingkungan rusak.

“Kita perlu sadari, banyak negara menjadikan Indonesia sebagai negara tujuan ekspor pangannya. Indonesia diincar jadi pengimpor pangan karena penduduk Indonesia banyak, 260 jutaan. China dan Vietnam adalah negara yang menjadikan Indonesia sebagai tujuan ekpsor berasnya,” ungkap Mariman.

Kerusakan lingkungan juga berefek negatif pada kesehatan masyarakat, perubahan iklim menimbulkan aneka macam penyakit. Biaya yang dikeluarkan masyarakat atau negara untuk kesehatan akan meningkat dari tahun ke tahun. “Menjaga lingkungan tetap asri dan baik, sama dengan menjaga kesehatan diri sendiri,” ujarnya.

Mariman juga menerangkan bahwa dirinya sudah berbicara dengan banyak pihak, termasuk pihak swasta kerjasama mewujudkan Kaltim Hijau dan menggunakan energi baru terbarukan di perdesaan untuk dijadikan percontohan, misalnya menggunakan air  sebagai sumber listrik (mikrohidro). “Membangun kawasan untuk percontohan dalam melestarikan lingkungan dan menggunakan energi baru terbarukan, sangat perlu, dan itu bisa diwujudkan apabila dibangun sinergi,” ujarnya. (001)

 

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *