Masuk Tanpa Visa ke Nunukan, Imigrasi Pulangkan Dua Warga Aljazair ke Malaysia

Dua warga Aljazair dikembalikan ke Malaysia karena masuk Nunukan tanpa mengantongi visa (handout/Imigrasi Nunukan)

NUNUKAN.NIAGA.ASIA – Kantor Imigrasi Nunukan memulangkan Warga Negara (WN) Aljazair, Taallah Messaoud (54) dan Idir Menad (34) yang sebelumnya ditolak masuk wilayah Kabupaten Nunukan, karena tidak memiliki kelengkapan dokumen visa kunjungan.

“Aljazair masuk dalam salah satu subjek negara tidak bebas visa ketika masuk wilayah Indonesia,” kata Kepala Kantor Imigrasi Nunukan Washington Saut Dompak kepada niaga.asia, Jumat.

Kedua WNA Aljazair itu awalnya berangkat dari Tawau, Sabah, Malaysia, menggunakan kapal ferry tujuan Pelabuhan Tunon Taka Nunukan, pada Rabu 6 Oktober 2022 dengan hanya berbekal paspor.

Setibanya di pelabuhan internasional Tunon Taka, petugas Tempat Pemeriksaan Imigrasi (TPI) Tunon Taka melakukan pemeriksaan dokumen perjalanan, di mana menurut pengakuan keduanya tidak mengetahui bepergian ke Indonesia wajib mengantongi Visa.

“Karena mereka datang ke Malaysia tanpa visa, jadi WN Aljazair ini mengira masuk Indonesia tanpa visa juga,” ujar Saut.

Atas pelanggaran keimigrasian ini, WN Aljazair dikenakan pelanggaran Pasal 13 ayat (1) huruf (d) Undang – Undang Nomor 6 Tahun 2011 Tentang Keimigrasian. Keduanya juga sempat ditempatkan di ruang detensi Imigrasi Nunukan sebelum dikembalikan ke Malaysia.

Keharusan Aljazair menggunakan visa berlaku sejak terbitnya Surat Edaran Dirjen Imigrasi Tentang kebijakan keimigrasian layanan visa saat kedatangan dan bebas visa kunjungan, untuk mendukung pariwisata berkelanjutan di masa Pandemi COVID-19.

“Sejak tahun 2020 bersamaan pandemi COVID-19, Indonesia membatasi kedatangan warga negara asing dengan mengharuskan wajib visa selaku selama 30 hari,” Saut menegaskan.

Diterangkan Saut kunjungan bebas visa ke wilayah Indonesia hanya diberikan bagi negara-negara di Asia ditambah 86 negara lainnya. Negara Aljazair yang berada di Afrika bagian utara tidak termasuk dalam negara bebas visa.

Dengan alasan tidak mengetahui peraturan baru keimigrasian Indonesia, kedua WN Aljazair dikenakan tindakan penolakan dengan mengembalikan ke daerah asal keberangkatan yaitu Tawau, Sabah, Malaysia.

“Kalau mengacu peraturan lama negara Aljazair masuk negara bebas visa. Mereka tidak tahu ada peraturan baru sejak pandemi,” terang Saut.

Kedatangan WN Aljazair ke Nunukan itu diketahui hanya sebatas jalan-jalan wisata tanpa tujuan tertentu. Itupun atas informasi warga Malaysia yang menyampaikan bahwa Tawau berbatasan dengan Nunukan yang berada di Indonesia.

Dari pemeriksaan dokumen paspor, Imigrasi Nunukan melihat kedua WN ini baru satu kali melakukan perjalanan luar negeri dengan tujuan Malaysia. Keduanya tidak fasih berbahasa Inggris sehingga menyulitkan petugas untuk menggali informasi.

“Informasi didapat dari kedua WN sangat terbatas. Mereka menggunakan bahasa arab dan tidak fasih berbahasa inggris,” jelas Saut.

Negara-negara yang tidak bebas visa seharusnya membeli visa kunjungan sebelum masuk Indonesia. Visa kunjungan atau visa tinggal terbatas berlaku selama 30 hari dan dapat diperpanjang satu kali.

Pembelian visa kunjungan dapat dilakukan di kantor-kantor perwakilan Indonesia di luar negeri. Apabila masa berlaku visa telah habis dan pemiliknya tidak memperpanjang, dikenakan denda sebesar Rp 1 juta per hari.

“Denda melebihi izin tinggal atau over stay Rp 1 juta per hari tiap orang, pembayaran disetorkan ke negara. Kalau tidak sanggup bayar dikenakan hukuman deportasi dan pencekalan,” demikian Saut.

Penulis : Budi Anshori | Editor : Intoniswan

Tag: