Masyarakat Cenderung Pindahkan Tabungan dan Deposito ke Valas dan Emas

aa
ILustrasi. [ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay]
SAMARINDA.NIAGA.ASIA – Masyarakat di Kalimantan Timur(Kaltim) cenderung memindahkan uangnya di bank (tabungan dan deposito) kemudian mengalihkan tabungannya dalam bentuk valuta asing (dolar) dan emas.

“Demikian yang tampak dari pergerakan tabungan masyarakat sepanjang tahun 2025 di Kaltim,” ungkap Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Timur, Budi Widihartanto dalam tanya jawab dengan wartawan dalam kegiatan Temu Media hari ini, Rabu (21/1/2026). Dalam acara temu media ini Budi didampingi deputinya, Bayuadi Hardiyanto dan Agus Taufik, dan acara tanya jawab dimoderatori Abraham Wahyu Nugroho.

Menurut Budi, masyarakat mengalihkan uangnya di bank, kemudian membeli dolar tidak terlepas dari faktor terus melemahnya rupiah. Nilai tukar Rupiah tidak stabil atau melemah karena terdampak meningkatnya ketidakpastian global.

Setelah masuk ke Venezuela, Trump mau masuk ke Greenland, mau perang dengan Iran, perang Russia dengan Ukraina masih berlangsung, itu berdampak luas terhadap ekonomi global, banyak negara, termasuk melemahkan Rupiah.

“Ketidakpastian global itu terus meningkat, karena faktor kebijakan luar negeri Trump (Donald Trump),” katanya.

Kemudian masyarakat beralih menabung dalam bentuk emas, karena pergerakan harga emas sepanjang tahun terus naik. Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltim misalnya mencatat rata-rata harga emas terus mengalami peningkatan. Pada Desember 2024 harga rata-rata emas Rp1.515.000/gram, pada November 2025 Rp2.383.000, dan terakhir pada  Desember 2025 Rp2.501.000/gram.

Adanya kecenderungan masyarakat Kaltim mengalihkan penempatan dananya dari bank ke valuta asing  dan emas, terkonfimasi dari perkembangan Dana Pihak Ketiga  (DPK) di perbankan yang masih terkontraksi.

“Pada triwulan III 2025, penghimpunan DPK Kaltim tercatat mengalami kontraksi sebesar 2,33% (yoy), setelah terkontraksi sebesar 4,24% (yoy) pada triwulan sebelumya. Di sisi lain, DPK nasional masih tumbuh positif sebesar 8,39% (yoy), meningkat dibandingkan dengan triwulan sebelumnya,” ungkap Budi.

Perbaikan DPK Kaltim pada periode laporan, terjadi seiring dengan perbaikan pada giro yang sebelumnya terkontraksi sebesar 21,14% (yoy) menjadi 7,15% (yoy). Di sisi lain, DPK tabungan tercatat sebesar 4,56% (yoy), lebih rendah dibandingkan dengan triwulan sebelumnya, serta DPK deposito yang turut melambat sebesar 7,18% (yoy) melanjutkan kontraksi pada triwulan.

Budi menambahkan, berdasarkan pangsanya, DPK Kaltim didominasi oleh tabungan dengan pangsa mencapai 44,19%, diikuti oleh DPK giro dan tabungan dengan pangsa masing-masing sebesar 30,30% (yoy) dan 25,52% (yoy). Berdasarkan golongan nasabah, DPK Kaltim didominasi oleh nasabah perseorangan.

Pada triwulan III 2025, pangsa DPK perseorangan mencapai 54,39% dari total DPK Kaltim, disusul oleh korporasi dan pemerintah dengan pangsa sebesar 29,90% dan 12,86%. Adapun DPK perseorangan Kaltim tercatat masih tumbuh positif sebesar 0,26% (yoy), walau melambat dibandingkan dengan periode sebelumnya.

“Kondisi ini sejalan dengan tren penurunan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) yang mencerminkan kewaspadaan masyarakat terhadap kondisi ekonomi sekaligus masih terbatasnya daya beli,” kata Budi.

Penulis: Intoniswan | Editor: Intoniswan

Tag: